Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Ada rupanya sesuatu yang lebih menakutkan daripada pertarungan politik: map anggaran. Nanik Sudaryati Deyang mengaku sampai tak bisa tidur. “Memegang anggaran besar itu yang membuat saya trauma akut,” tulisnya di Facebook.
Menjaga uang negara, katanya, seperti berdiri di tepi jurang: meleng sedikit bisa terjerembab. Ia bahkan tak mau membubuhkan tanda tangan sendirian. Dua wakil kepala BGN harus ikut paraf. Ketika sekretaris pribadi datang membawa tumpukan dokumen, ia mengaku sudah “parno duluan dan badan panas-dingin”.
Akhirnya tubuhnya menyerah. Jantung kena. Setelah sembilan hari terkapar dan seminggu dirawat, perempuan yang baru sekitar satu setengah bulan memimpin Badan Gizi Nasional itu mundur karena masalah kesehatan.
Curhat itu menarik bukan karena seorang pejabat ternyata bisa takut kepada uang. Justru sebaliknya: bagus kalau pejabat takut kepada uang negara. Yang menarik adalah siapa Nanik, siapa pendahulunya, siapa penggantinya, dan mengapa Presiden Prabowo Subianto berkali-kali mempercayakan program kesayangannya kepada orang-orang yang ia kenal dan percayai.
BGN memang bukan warung nasi raksasa. Ia mengelola salah satu operasi pelayanan publik terbesar yang pernah dibangun republik ini. Anggaran BGN 2026 semula dirancang Rp335 triliun, kemudian anggaran yang dikelola BGN disebut Rp268 triliun dan belakangan kembali diefisienkan.
Target MBG mencapai 82,9 juta penerima manfaat; pada Mei lalu sudah 62,7 juta orang. Dadan Hindayana pernah menggambarkan skala kasnya dengan lebih gamblang: ketika program penuh berjalan, sekitar Rp1,2 triliun harus disalurkan setiap hari.
Dengan uang sebesar itu, siapa yang duduk di kursi Kepala BGN tentu bukan urusan kecil. Presiden pertama-tama mempercayakannya kepada Dadan Hindayana, akademisi IPB yang memimpin BGN sejak lembaga itu dibentuk. Tetapi perjalanan Dadan berakhir buruk.
Pada 3 Juni 2026 Kejaksaan Agung menetapkannya bersama sejumlah mantan pimpinan BGN sebagai tersangka perkara dugaan korupsi program MBG dan menahannya. Perkara itu masih proses hukum; tentu asas praduga tak bersalah tetap berlaku. Prabowo kemudian menyerahkan BGN kepada Nanik, yang sebelumnya sudah menjadi wakil kepala.
Nanik bukan orang yang baru muncul ketika Prabowo masuk Istana. Dalam pernyataan pengunduran dirinya sendiri ia menyebut sudah 14 tahun mengikuti Prabowo. Ia orang lama dalam lingkaran kepercayaan itu. Tetapi belum genap dua bulan menjadi Kepala BGN, Nanik menyerah kepada kondisi kesehatannya. Ia mundur 22 Juli 2026.
Siapa penggantinya? Orang lama lagi. Presiden pada hari yang sama melantik Sudaryono. Namanya mungkin relatif baru bagi publik nasional, tetapi sama sekali bukan nama baru bagi Prabowo.
Ia lulusan SMA Taruna Nusantara dan National Defense Academy of Japan itu pernah menjadi asisten pribadi Prabowo sekitar lima tahun, 2009-2014. Ia kemudian meniti karier bisnis dan politik, menjadi Wasekjen Gerindra, Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah, lalu Wakil Menteri Pertanian. Dari kursi itulah ia dipindahkan Prabowo menjadi Kepala BGN.
Sudaryono juga bukan orang miskin yang tiba-tiba disuruh menjaga gudang beras. Laporan kekayaannya menunjukkan aset sekitar Rp91,76 miliar dengan utang sekitar Rp60,37 miliar, sehingga kekayaan bersihnya kira-kira Rp31,4 miliar.
Angka kekayaan tentu tidak membuktikan kompetensi ataupun ketidakkompetenan. Ia hanya melengkapi profil seorang pengusaha, politikus dan bekas orang dekat Prabowo yang kini dipercaya menjaga salah satu keran anggaran terbesar pemerintah.
Pola itu mengingatkan saya kepada seorang pemikir dari Tunisia yang meninggal lebih enam abad lalu: Ibnu Khaldun. Dalam kitabnya al-Muqaddimah yang saya terjemahkan tahun 1980-an, Ibnu Khaldun memakai konsep ashabiyah. Kata ini sering diterjemahkan sebagai solidaritas kelompok, tetapi pengertiannya lebih kaya.
Ashabiyah adalah tenaga perekat yang membuat sekelompok manusia merasa “kita”: saling mengenal, saling percaya, membela, berkorban dan bertahan bersama. Dengan energi seperti itulah, menurut Khaldun, sebuah kelompok memperoleh kekuatan politik dan akhirnya membangun mulk, kekuasaan.
Membaca Prabowo dengan kacamata ini lebih menarik daripada sekadar menuduhnya senang mengangkat teman.