
Oleh: Arif D. Hasibuan, Ketua Mabrur Center Indonesia
REPUBLIKA.CO.ID, Ada satu pengalaman yang sulit dilupakan oleh siapa pun yang pernah menunaikan ibadah haji: menjadi tamu Allah sekaligus menyaksikan bagaimana negara hadir melayani para tamu Allah. Pengalaman berhaji bukan hanya perjalanan spiritual menuju Baitullah. Haji juga menjadi perjalanan kemanusiaan. Di sana kita belajar bahwa ibadah yang sangat individual ternyata membutuhkan pelayanan yang sangat kolektif.
Ada jutaan langkah jamaah yang harus diatur. Ada transportasi yang harus dipastikan. Ada makanan yang harus tersedia. Ada hotel yang harus layak. Ada kesehatan yang harus dijaga. Ada lansia yang harus didampingi. Ada jamaah yang tersesat, kelelahan, sakit, bahkan membutuhkan pertolongan dalam keadaan darurat. Dan di balik semua itu ada tangan-tangan petugas yang bekerja, sering kali jauh dari sorotan kamera.
Negara Hadir Melayani Tamu Allah
Tahun 2026 merupakan babak baru dalam sejarah penyelenggaraan haji Indonesia. Kehadiran kementerian khusus yang menangani haji dan umrah membawa harapan baru agar pelayanan kepada jemaah semakin fokus, profesional, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah.
Kemenhaj mendorong kualitas layanan melalui sejumlah pendekatan baru, termasuk digitalisasi layanan, percepatan proses keberangkatan, penguatan validasi data jamaah, serta peningkatan standar pelayanan konsumsi, akomodasi dan transportasi. Yang menarik, apresiasi terhadap pelayanan Haji 2026 tidak hanya datang dari satu pihak. Evaluasi di lapangan juga menunjukkan adanya peningkatan pada berbagai aspek layanan, mulai dari keberangkatan, transportasi, pemondokan, konsumsi hingga kesehatan.
Bahkan, Tim Pengawas Haji DPR RI menilai wajah pelayanan tahun ini terasa lebih humanis dan memberikan perhatian lebih terhadap kenyamanan jamaah, termasuk kelompok lanjut usia dan kelompok rentan. Hemat saya, ini bukan sekadar statistik pelayanan. Ini adalah tentang bagaimana negara memperlakukan warganya yang sedang menjalankan ibadah.
Saya pernah berada di dua sisi. Saya pernah berada di posisi sebagai jamaah. Tepatnya pada 2019 M / 1440 H. Saat itu, saya mendapatkan berkah dari pelimpahan porsi haji yang resmi diberlakukan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah. Ayah saya wafat di tahun keberangkatan haji beliau tiba, setelah mendaftar pada 2010. Atas wasiat, saya pun menggantikan almarhum dan menemani Ibunda berhaji ke Tanah Suci.
Karena itu, saya tahu rasanya berdiri di Tanah Suci dengan hati yang berdebar. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi manusia kecil di tengah jutaan manusia yang datang dengan tujuan yang sama: memenuhi panggilan Allah.
Tetapi saya juga pernah berada dalam posisi berkhidmat melayani jamaah. Tepatnya, pada 2024 M / 1445 H. Seorang teman pemilik travel di Jakarta menghubungi dan meminta saya membantunya untuk ikut berhaji mendampingi jamaah. Dari pengalaman itu saya memahami satu hal sederhana: jamaah tidak hanya membutuhkan pelayanan yang benar, tetapi juga pelayanan yang menyentuh hati.
Jamaah yang sudah berusia lanjut mungkin tidak selalu membutuhkan penjelasan yang panjang. Ia membutuhkan seseorang yang mau menggandeng tangannya. Jamaah yang kelelahan tidak selalu membutuhkan kata-kata yang rumit. Ia membutuhkan petugas yang dengan sabar mengatakan, "Bapak/Ibu, mari saya bantu."
Jamaah yang kebingungan tidak membutuhkan birokrasi. Ia membutuhkan kepastian. Dan jamaah yang sedang sakit membutuhkan kehadiran negara yang benar-benar terasa. Karena itu, ukuran keberhasilan pelayanan haji sesungguhnya bukan hanya berapa banyak hotel yang tersedia, berapa jumlah bus yang beroperasi atau seberapa cepat sistem digital bekerja.
Ukuran yang paling penting adalah: Apakah jamaah merasa aman? Apakah jamaah merasa dihormati? Apakah jamaah merasa dilayani? Dan apakah jamaah dapat beribadah dengan tenang?