Selasa 08 Sep 2026 07:22 WIB

Relawan, ​Makna di Balik Sebuah Kata

Air bah datang begitu cepat hingga mencapai ketinggian hampir dua meter.

Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) mengarungi sungai guna mencapai wilayah terisolasi di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (23/12/2025).
Foto: Thoudy Badai/Republika
Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) mengarungi sungai guna mencapai wilayah terisolasi di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (23/12/2025).

Oleh DR JAMALUDDIN, SP.M(K)

REPUBLIKA.CO.ID, ​Apa itu relawan? Siapa saja mereka? Dan mengapa seseorang memilih untuk menjadi relawan? ​Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata relawan merujuk pada bentuk bakunya, yaitu sukarelawan, yang didefinisikan sebagai:

Baca Juga

"Orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan)."

​Secara lebih luas, relawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang secara sadar membaktikan waktu, tenaga, pikiran, keahlian, bahkan materi demi kepentingan masyarakat, lingkungan, atau misi kemanusiaan—tanpa mengharapkan keuntungan finansial maupun imbalan materi.

​Bagi kami, bahasa sederhananya begini: relawan berasal dari kata suka dan rela. Artinya, seorang relawan harus suka menjalankan niat baiknya dan harus rela berkorban demi sesama.

​Kisah nyata dari Aceh Tamiang

​Cerita ini datang dari Bang Julian Putra, sosok perintis sekaligus CEO Klinik Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Aceh Tamiang. Saya baru mengenalnya saat bertugas sebagai relawan medis di sana.

​Sebagai dokter spesialis mata (Sp.M) yang berangkat bersama sejawat dokter spesialis kulit dan kelamin (Sp.DVE/Sp.KK), niat awal kami sederhana: hadir dan memberikan pelayanan kesehatan langsung bagi masyarakat di daerah terdampak paling parah.

​Pada akhir Juni 2026 (sekitar tanggal 27–28 Juni), wilayah tersebut sebenarnya sudah memasuki masa pemulihan (recovery). Namun, sesampainya di lokasi, kami baru benar-benar bisa membayangkan betapa memilukannya bencana banjir bandang yang telah merenggut nyawa, merusak infrastruktur, menghancurkan rumah-rumah warga, dan melumpuhkan kehidupan di sana.

​Di tengah puing-puing bencana itulah, sebuah kisah luar biasa dari Bang Julian Putra terungkap—sebuah kisah yang rasanya perlu diketahui dan direnungkan oleh banyak orang.

photo
Warga berjalan diantara tumpukan kayu yang terbawa arus saat banjir bandang di Desa Batu Bedulang, Aceh Tamiang, Selasa (23/12/2025). Desa Batu Bedulang dan Desa Baling Karang menjadi salah satu desa yang terdampak banjir bandang yang masih minim bantuan logistik dan layanan kesehatan lantaran akses jalur darat baru dapat dilalui kendaraan roda empat pada Ahad (21/12) atau setelah 29 hari banjir bandang melanda kawasan tersebut. - (Republika/Thoudy Badai)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi