Jumat 22 May 2026 10:55 WIB
Catatan Cak AT

Bursa Gemetar, Cukong Menyeringai

Mereka menjadikan BUMN strategis seperti mesin perang ekonomi, bukan pos bagi jatah.

Bursa Gemetar, Cukong Menyeringai. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Bursa Gemetar, Cukong Menyeringai. (ilustrasi)

Ole Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Begitu Presiden Prabowo Subianto mengumumkan ekspor batubara, sawit, dan komoditas strategis bakal lewat satu pintu BUMN, monitor bursa langsung merah seperti muka trader yang baru sadar cicilan pinjol jatuh tempo besok pagi.

Baca Juga

Saham-saham tambang, mineral, dan sawit berguguran. Grup-grup saham mendadak ramai seperti warung kopi habis pengumuman kenaikan BBM. Sebagian orang langsung panik: “Waduh, pasar tidak suka!”

Sebagian lagi tertawa kecil sambil menyeruput kopi: “Kalau pasar panik, berarti ada yang terganggu.”

Dan di situlah drama sesungguhnya dimulai. Sebab pasar modal itu bukan malaikat penjaga efisiensi sebagaimana sering dibayangkan para penceramah ekonomi televisi.

Pasar juga punya kepentingan. Punya rasa takut. Punya jaringan rente. Bahkan kadang punya kemampuan tantrum kolektif seperti bocah kehilangan WiFi.

Pasar membaca kebijakan Prabowo dengan satu kalimat sederhana: negara mau masuk lebih dalam ke dapur perdagangan SDA.

Bagi investor global, kata-kata seperti: “pengekspor tunggal”, “kontrol devisa”, “pengawasan invoice”, itu terdengar seperti alarm kebakaran di hotel kapitalisme.

Karena selama ini, salah satu kekuatan besar konglomerasi komoditas justru ada di ruang abu-abu perdagangan global.

Harga bisa dimainkan lewat afiliasi luar negeri. Margin bisa dipindahkan lewat transfer pricing. Devisa bisa parkir di negeri lain sambil sesekali pulang kampung saat rupiah pilek.

Maka ketika negara berkata: “Mulai sekarang pintu ekspor saya pegang,” pasar langsung berhitung: siapa yang kehilangan ruang bermain?

Dan di titik inilah publik perlu membedakan antara: “pasar panik” dan “rakyat rugi.” Sebab dua hal itu belum tentu sama.

Kalau saham emiten sawit atau batubara turun, siapa sebenarnya yang paling terpukul? Apakah para taipan pemegang saham pengendali? Belum tentu.

Banyak konglomerat besar sudah kaya bahkan sebelum saham mereka listing di bursa. Harga IPO saja kadang sudah berkali-kali lipat dari nilai nominal.

Mereka sudah menikmati capital gain besar, punya aset lintas sektor, dan akses modal yang tidak dimiliki investor kecil.

Yang sering remuk justru investor retail: anak-anak muda FOMO yang belajar saham dari TikTok sambil makan seblak level neraka, para margin trader yang modalnya tipis tetapi nyalinya setebal tembok kos, dan pegawai kantoran yang berharap cuan cepat agar bisa segera resign lalu membuka coffee shop industrial minimalis.

Ketika saham jatuh, mereka kena margin call. Dipaksa jual. Portofolio merah seperti laporan cuaca planet Mars. Dan pasar memang kejam kepada orang kecil yang datang terlambat.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement