Oleh: M. Faruq Ridwan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Walaupun sudah ditandatangani nota kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, tidak serta merta eskalasi konflik antara Iran dan Amerika langsung tiada dan damai, mengingat sifat Amerika dan sekutunya Israel sering kali menghianati kesepakatan damai, atau bahkan bisa semakin tidak menentu.
Harga minyak dunia yang beberapa saat menurun, ditambah dengan adanya kesepakatan peningkatan produksi oleh negara negara pengekspor minyak dunia (OPEC) menjadi sinyal bahwa jalur pasokan minyak dunia (selat Hormuz dan bal el-Mandeb) masih memegang peranan yang sangat penting bagi jalur pasokan minyak dunia.
Amerika dan Israel harus benar benar memegang teguh setiap kesepakatan damai dengan Iran, apabila tidak ingin adanya penutupan kedua selat tersebut oleh Iran. Dunia sudah merasakan akibat penutupan selat Hormuz oleh Iran yang mengakibatkan harga minyak dunia meroket yang berimbas pada semua sektor kehidupan.
Mungkin Amerika berasumsi bahwa dengan serangan gabungan dengan Israel dlm beberapa waktu bisa melumpuhkan Teheran dan terjadi pergantian rezim yang berkuasa. Amerika lupa bahwa Iran bukan Irak, Libya atau Venezuela yang bisa dlm hitungan sekian jam operasi rahasia militer bisa ditaklukan. Rupanya Amerika kecele, salah perhitungan. Kita dapat melihat bagaimana rakyat Iran sangat mencintai dan menghormati pemimpinnya seperti yang dipertontonkan saat rangkaian pemakaman Imam Ali Khamenei.
Iran (baca: Persia) memiliki pengalaman sejarah panjang di medan pertempuran, mereka pernah berperang melawan bangsa bangsa besar seperti para tentara Iskandar Agung, bangsa Mongol, kekaisaran Romawi dan kekhilafahan Islam. Sebab itulah sangat beralasan kenapa bangsa Persia begitu berani melawan Amerika dan sekutunya yang memiliki teknologi dan persenjataan modern.
Menurut Iqbal setidaknya ada 2 arus besar yang mempengaruhi perspektif Persia tentang perang. Pertama, dalam paham Zoroaster dunia dilihat sebagai medan pertarungan abadi antara Asha (Kebenaran, Cahaya, Keteraturan) vs Druj (Dusta, Gelap, Kekacauan).
Manusia itu bukan penonton tapi tapi prajurit yang terlibat didalam perang. Netralitas adalah kemustahilan moral, bersikap netral berarti memihak Druj, karena perang tidak pernah bersifat netral tapi selalu memihak dan metafisis.
Kedatangan Islam memberi paham tauhid, membuat dualisme Zoroaster mengalami aufhebung Hegelian menjadi lebih tinggi dlm nilai tauhidiyah ilaiyah. Dan Persia memberi warna lain ketika terjadinya tragedi Karbala tahun 680 M, yakni menemukan bentuk yang sempurna ke dalam pola Asha vs Druj.
Husein adalah manifestasi Asha dan Yazid adalah manifestasi Druj. Sedangkan Syahadah/menjadi syahid adalah jalan tertinggi menuju realitas yang hakiki.