
Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sebuah diskusi ada pertanyaan, apakah benar sebagian besar petani padi di negeri ini menjual hasil panennya dalam bentuk gabah? Iya, benar. Sebagian besar petani, khususnya petani berlahan sempit, memang langsung jual gabah, bukan beras.
Mereka belum mampu menjualnya dalam bentuk beras. Mengapa begitu ? Jawabannya jelas. Paling tidak, ada tiga alasan yang dapat disampaikan terkait fenomena di atas. Ke tiga alasan itu, pertama, rantai pasoknya memang begitu.
Setelah panen, petani biasanya jual gabah ke pengepul/tengkulak. Lalu pengepul kumpulkan setelah itu baru dibawa ke penggilingan/pabrik beras. Penggilingan sendiri menerima gabah dari petani sebagai bahan baku.
Kedua, alasan praktis dan ekonomi. Petani butuh modal dan alat: menggiling jadi beras butuh biaya sewa penggilingan. Polanya, petani bayar jasa penggilingan 10 persen dari beras hasil giling. Tidak semua petani mau menanggung biaya dan risiko susut/beras pecah.
Selanjutnya, petani butuh cepat cair: Panen identik dengan butuh duit buat bayar utang, pupuk musim depan, kebutuhan rumah.
Petani, jual gabah basah/kering ke pengepul langsung cair. Kalau digiling dulu, petani mesti menunggu dan mencari pembeli beras sendiri. Kemudian, risiko dan simpan: Gabah lebih tahan lama dan tidak gampang rusak dibandingkan beras.
Petani kecil biasanya tidak punya gudang yang proper buat menyimpan beras dalam jumlah besar.
Ketiga, Bulog saja serap gabah. Pas panen, Bulog juga fokus serap Gabah Kering Panen GKP Rp 6.500/kg dan beras Rp12 ribu/kg. Artinya gabah memang bentuk utama yang diperjualbelikan di tingkat petani.
Namun, ada pengecualian: Petani yang punya sawah luas dan penggilingan sendiri atau yang jual langsung ke konsumen, kadang jual beras. Tapi untuk petani kecil-menengah, pola umumnya panen lalu jemur jadi GKP dan jual gabah.
Di sisi lain, menarik untuk dibahas lebih dalam, mengapa banyak petani lebih banyak memilih menjual dalam bentuk gabah ketimbang beras? Keuntungan menjual dalam bentuk gabah antara lain, cair cepat. Panen sore, sore itu juga bisa laku ke pengepul.
Tidak perlu menunggu antrean giling. Lalu, tidak keluar modal dulu. Tidak usah bayar biaya giling 10 persen dari hasil beras. Tidak usah memikirkan karung atau biaya transport ke penggilingan. Selain itu, risiko kecil: Kalau harga beras anjlok pas digiling, rugi di petani. Kalau jual gabah, risiko harga ditanggung pengepul/penggilingan.
Sedangkan beberapa kerugiannya antara lain, harga per kg lebih rendah: Gabah Kering Panen HPP 2026 Rp 6.500/kg. Sebanyak 1 kg gabah jadi 0.6-0.65 kg beras. Kalau beras Rp 12 ribu/kg, artinya nilai gabahnya "seharusnya" Rp 7.800/kg.
Jadi petani "kehilangan" selisih itu. Kemudian, ditentukan pengepul: Harga gabah di sawah biasanya ditekan. Petani posisinya lemah tawar-menawar.
Bagaimana kalau jual beras ? Hal ini biasanya dilakukan petani yang mempunya modal/lahan luas. Keuntungan yang diperoleh, margin lebih tinggi: Harga beras eceran Rp 12 ribu-Rp 15 ribu/kg. Selisih dari harga gabah lumayan kalau dijual langsung ke konsumen/pasar. Kemudian, menentukan harga sendiri. Tidak tergantung pengepul. Bisa jual pas harga bagus. Sedangkan kerugiannya, butuh modal di depan: Bayar giling, karung, transportasi. Kalau panen 2 ton gabah sama dengan keluar duit giling sekitar Rp 1 juta-Rp 2 juta.
Lalu, risiko dan kerja ekstra: Beras gampang rusak, kena kutu, susut. Harus bisa nyari pembeli sendiri. Tidak semua petani punya waktu/jaringan buat jualan. Selain itu, menunggu lebih lama: Dari panen, jemur, giling dan jual bisa 1-2 pekan. Butuh kesaabaran menunggu duit.
Catatan kritisnya, mana yang "lebih baik" untuk dipilih para petani? Pilihannya, bila lahan <0,5 ha, butuh uang cepat, tidak ada truk maka jual gabah tentu lebih praktis dan tidak pusing. Rugi sedikit tapi aman.
Namun jika memiliki penggilingan sendiri/akses giling murah, maka pilihannya jual beras. Selisih margin langsung masuk kantong. Lalu kalau punya jaringan ke pasar/agen beras maka jual beras. Bisa jual Rp 13 ribu- Rp 14 ribu/kg, untung lebih banyak
Sekarang apa yang harus dibenahi bila petani ingin menjual hasil panennya dalam bentuk beras ? Jawabnya sangat bisa tetapi pemerintah harus turun tangan menuntaskan tiga kendala utama petani yaitu modal, alat, dan pasar.
Langkah yang telah berjalan selama ini adalah pembenahan modal dan alat agar petani bisa giling sendiri. Kendala utama petani tidak punya uang buat membayar penggilingan dan tidak punya RMU/penggilingan sendiri.
Yang pemerintah lakukan, pertama, KUR Khusus RMU: Kementan menyiapkan KUR Rp 300 triliun. Buat penggilingan padi/RMU plafon sampai Rp 2 miliar, bunga cuma 3 persen per tahun. Tujuannya biar koperasi/gapoktan/petani mampu beli mesin giling sendiri
Kedua bantuan alsintan: Subsidi alat mesin pertanian termasuk RMU mini. Jadi koperasi desa bisa punya penggilingan, petani tinggal membawa gabah, bayar lebih murah, atau bagi hasil beras.
Ketiga, permudah izin: Sekarang mengurus NIB dan izin penggilingan padi sudah online lewat OSS. Skala kecil cukup SPPL, tidak ribet AMDAL. Logikanya, kalau desa punya RMU sendiri, petani tidak perlu ke pengepul. Giling, lalu beras langsung dijual.
Selanjutnya, jamin pasar dan harga: Biar beras petani laku dan tidak rugi. Petani takut menggiling gabah menjadi beras karena bisa jadi tidak ada yang membelinya.
Yang pemerintah lakukan Bulog serap beras: tidak cuma gabah. Sejak Januari 2026, Bulog "jemput bola" serap gabah dan beras petani langsung di sawah/penggilingan. HPP beras Rp 12 ribu/kg. Jadi ada pembeli pasti.
Beras SPHP 1 harga nasional 2026: BULOG distribusi beras SPHP ke seluruh Indonesia biar harga stabil. Ini bikin aliran beras dari daerah surplus ke defisit lebih lancar. Jadi petani daerah produksi tidak kesulitan jual.
Tetapkan HPP: HPP Gabah Rp 6.500/kg jadi acuan agar petani tak ditekan pengepul. Kuatkan pula kelembagaan petani karena jika sendirian susah. Maka, pemerintah dorong lewat gapoktan/koperasi: KUR RMU biasanya disalurkan ke koperasi/gapoktan.
Jadi petani patungan punya penggilingan, gudang, dan truk. Lalu, Pemerintah mengajak Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi bantu penyerapan panen puncak Februari-Mei. Biar rantai giling tidak macet.
Simpelnya demikian, pemerintah mau petani naik kelas dari "penjual bahan baku gabah" jadi "penjual produk jadi beras". Caranya berikan mesin murah dan kasih pembeli pasti Bulog dan kasih duit murah lewat KUR.
Tantangannya di lapangan, tak semua desa dapat RMU dan HPP kadang dilanggar pengepul. Catatan kritisnya, jual beras lebih menguntungkan secara angka. Jual gabah lebih menguntungkan secara risiko dan kepraktisan. Tergantung petani punya modal dan waktu atau tidak.