Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Pagi ini saya berdiskusi dengan istri tentang materi penyuluhan dan edukasi anti-narkoba yang akan dilaksanakan secara daring. Tema kegiatannya sebenarnya sudah sangat familiar: “Upgrade Your Life, Not Drugs! Jaga Diri, Raih Masa Depan.” Pelaksananya Institut Agama Islam Jameatkheir bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional.
Ada dua narasumber, sementara istri saya didapuk sebagai keynote speaker. Ada Zoom, jadwal, dan segala kelengkapan sebuah acara resmi. Tetapi percakapan kami justru berhenti pada pertanyaan yang lebih sederhana: kalau anak-anak sudah tahu narkoba berbahaya, apa lagi yang harus kita ajarkan?
Pertanyaan itu penting karena selama ini pendidikan anti-narkoba sering berjalan seperti pelajaran tentang api. Anak diberi tahu bahwa api panas, dapat membakar rumah, merusak tubuh, bahkan membunuh. Setelah itu kita berharap, kalau suatu hari seseorang datang membawa korek api, anak otomatis berteriak, “Tidak!”
Masalahnya, manusia bukan buku pelajaran yang selalu bertindak sesuai jawaban yang sudah dihafalnya.
Hampir semua anak pernah mendengar bahwa narkoba berbahaya. Mereka tahu narkoba dapat merusak kesehatan, pendidikan, keluarga, bahkan masa depan. Mereka mungkin juga pernah melihat gambar otak rusak atau mendengar kisah orang kehilangan hidupnya karena narkoba. Namun pengetahuan tentang bahaya tidak otomatis berubah menjadi kemampuan menolak.
Di sinilah pendidikan anti-narkoba perlu naik kelas. Riset mutakhir semakin mengarah kepada pencegahan yang tidak berhenti pada pemberian informasi, tetapi membangun kemampuan regulasi emosi, ketahanan diri, keterampilan menghadapi tekanan, kemampuan mencari pertolongan, dan kecakapan sosial.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang baru terbit menemukan bahwa program pencegahan di sekolah yang menggabungkan kesehatan mental dengan pencegahan penggunaan zat memberikan hasil lebih baik pada sejumlah perilaku terkait alkohol. Dimasukkan regulasi emosi, resiliensi, kemampuan menghadapi stres, coping, dan help-seeking.
Temuan ini mengubah pertanyaan kita. Jangan hanya bertanya, “Apakah anak tahu narkoba berbahaya?” Tanyakan pula, “Apa yang dilakukan anak ketika sedang tertekan, kesepian, marah, gagal, ingin diterima teman, atau ditawari hal keren?” Sebab godaan narkoba jarang datang membawa pesan: "Saya narkoba. Saya akan menghancurkan masa depanmu."
Ia bisa datang dalam kalimat yang jauh lebih sederhana: “Coba sedikit.” “Jangan takut.” “Semua juga pakai.” “Kalau kamu teman saya, ikut.” Di situ anak tidak sedang mengikuti ujian pengetahuan. Ia sedang menghadapi tekanan sosial.
Karena itu, slogan Say No to Drugs di flyer-flyer anti-narkoba sebenarnya baru separuh pendidikan. Anak memang harus mampu berkata tidak. Tetapi kita perlu mengajarinya bagaimana mengatakan tidak ketika teman terus mendesak, ketika ia takut dikucilkan, atau ketika dirinya sendiri sedang mencari pelarian.
Kita bahkan bisa melakukan simulasi dalam penyuluhan. Seorang peserta berperan sebagai teman yang menawarkan. Peserta lain berlatih menolak. Teman itu mengejek. Ia tetap menolak. Teman itu menawarkan lagi dengan alasan yang lebih halus. Ia mencari jalan keluar. Dengan latihan semacam itu, pendidikan tidak berhenti sebagai poster yang indah di dinding. Ia berubah jadi keterampilan yang mungkin dipakai ketika keadaan memaksa.
Angka di Indonesia membuat persoalan ini tidak layak diperlakukan sebagai urusan kecil. Survei kolaboratif BNN, BRIN, dan BPS untuk periode 2023–2025 mencatat prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 2,11 persen atau sekitar 4,15 juta orang usia 15–64 tahun, naik dari 1,73 persen pada 2023. BNN juga menyebut kelompok usia 15–24 tahun sebagai kelompok yang paling rentan, dengan prevalensi 2,53 persen.
Namun ada bagian data yang justru lebih menarik dari jumlahnya. BNN menyebut lingkungan sosial sebagai salah satu faktor utama yang berkaitan dengan meningkatnya penyalahgunaan. Karena itu strategi pencegahan mereka kini tidak hanya berbicara tentang penindakan, tetapi juga keluarga, sekolah, kampus, desa, dan komunitas.
Artinya, anak tidak hidup dalam laboratorium steril. Ia hidup dalam keluarga. Ia masuk sekolah. Ia berteman. Ia bermain di lingkungan. Ia membawa telepon genggam. Ia masuk grup percakapan. Ia melihat konten digital. Ia mencari pengakuan. Ia mengalami kegagalan. Ia bisa merasa sendirian meskipun memiliki ratusan teman di media sosial.
Karena itu anak tidak bisa kita perlakukan seperti komputer yang cukup dipasangi antivirus bernama “penyuluhan”. Penyuluhan penting. Tetapi penyuluhan hanya satu mata rantai. Benteng pertama tetap hubungan manusia dengan manusia.