
Oleh: Dr Aguk Irawan Lc MA, Pengasuh Baitul Kilmah Bantul Yogyakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada yang bergerak lamat-lamat di tubuh Nahdlatul Ulama, seperti santri yang melangkah tanpa alas kaki di atas ubin masjid tua: sunyi, tetapi jejaknya basah dan nyata.
Mungkin gambaran seperti itulah ketika nama Gus Ipang (Irfan Asy'ari Sudirman Wahid) diumumkan sebagai salah satu Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.
Sebagian orang mungkin mengernyitkan dahi. Sebab, mereka yang terbiasa melihat NU dari panggung-panggung khotbah atau hiruk-pikuk politik praktis pasti merasa asing.
Namun, bagi yang paham bagaimana jamiyah ini merawat denyutnya, kehadiran Gus Ipang bukan sebuah kejutan, melainkan sebuah keniscayaan panggilan sejarah yang mungkin datang pada saat yang tepat.
Gus Ipang tidak pernah jauh dari NU. Bagaimana mungkin ia menjauh? Di dalam darahnya mengalir riwayat Tebuireng yang pekat.
Ia adalah cucu dari KH Wahid Hasyim, keponakan dari Gus Dur, dan putra dari KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
Ia lahir dari rahim tradisi yang tidak sekadar belajar kitab kuning, tetapi juga merumuskan dasar-dasar kebangsaan.
Namun, Gus Ipang memilih jalan khidmat yang agak berbeda. Jika para leluhurnya menjaga NU melalui fatwa, pesantren, dan artikulasi politik makro, Gus Ipang memilih jalan sunyi yang hari ini justru menjadi penentu masa depan peradaban: strategi media, komunikasi publik, dan lanskap sosial digital.