Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Agustus bagi saya punya dua ulang tahun yang menentukan. Pertama, ulang tahun Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Di hari kemerdekaan yang bertepatan dengan Jumat keramat itu bangsa kita berteriak lantang ke dunia, "Kami mau mengatur hidup kami sendiri!" Kita merayakannya dengan upacara dan aneka lomba.
Ulang tahun Agustusan kedua tak pakai upacara. Ia terjadi di dunia komputer. Pada 25 Agustus 1991, seorang mahasiswa Finlandia bernama Linus Torvalds menulis pesan di internet. Ia mengumumkan sedang membuat sistem komputer. Nama sistem itu kemudian memakai akronim namanya, Linux. Jutaan orang menggunakannya dengan halal.
Maka bagi saya, pesta Agustusan mempunyai dua cerita kemerdekaan. Indonesia merdeka dari penjajah. Sementara Linux menjadi simbol merdeka di dunia komputer, memerdekakan saya dari Windows yang harus bayar. Linux, termasuk turunannya Android, bebas kita pakai. Sementara sistem operasi Windows harus kita bayar.
Indonesia memulai kemerdekaannya dari Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta. Sementara Linus memulai kemerdekaan komputernya dari pesan singkat di internet. Keduanya mengajari kita satu hal, bahwa perubahan besar tidak harus mulai dari gedung megah. Perubahan mulai dari orang yang berani berkata, "Saya mau coba cara lain!"
Kisah Linux sebenarnya sangat sederhana, sangat jauh dari kisah bangsa Indonesia. Tak ada pula perusahaan kaya yang mendanai proyek ini. Tak ada ratusan insinyur hebat. Tak ada rapat bos besar. Adanya cuma seorang mahasiswa di Universitas Helsinki, satu komputer tipe 386, rasa ingin tahu yang sangat besar, dan ketekunan.
Pada tahun 1991, jangan bayangkan komputer secanggih sekarang. Komputer bertenaga prosesor buatan Intel, PC 386, sangat keren bagi mahasiswa yang mampu membelinya. Mesin ini pintar. Linus membeli komputer itu bukan untuk mendirikan perusahaan kaya atau menguasai dunia. Ia cuma ingin belajar cara kerja bagian dalam mesinnya.
Linus belajar memakai sistem operasi bernama MINIX buatan Profesor Andrew Tanenbaum. Andrew membuat MINIX sebagai piranti pembelajaran di kelasnya. Ia bagus tapi sangat sederhana. Di rumah, Linus memakai MINIX untuk mencoba hal baru. Tapi lama-lama, Linus merasa fitur MINIX kurang memenuhi kebutuhannya.
Di kepala, Linus punya banyak ide baru. Ia pun mulai membuat program kecil terminal. Program ini menghubungkan komputer di rumahnya dengan komputer besar di kampus lewat kabel telepon dan modem. Dari awal cuma dimaksud mainan, Linus terus memperbaikinya. Program itu pun berubah menjadi alat berkirim pesan yang hebat.
Cerita ini dekat dengan pengalaman saya. Pada akhir tahun 1980-an, saya sudah membeli komputer XT 386 untuk membantu kerja saya sebagai wartawan TEMPO. Lalu pada 1993, saat orang Indonesia belum kenal internet, saya memakai software BBS (Bulletin Board System).
Saya memilih BBS untuk memudahkan pengiriman berita dari kantor-kantor berita koran Republika di berbagai kota. Dahulu, untuk berkirim teks berita, kami harus memakai sambungan telepon dan modem. Bunyinya “kriik-kriik” sangat bising. Tapi bagi kami waktu itu, layar komputer itu seperti jendela ajaib melihat dunia luar.
Saya sangat paham perasaan Linus waktu itu. Di rumah ada komputer, modem, kabel telepon, dan komputer kampus yang jauh. Bedanya, Linus tidak cuma mau memakai komputer kampus. Linus bertanya pada dirinya sendiri, "Bagaimana kalau saya membuat sendiri sistem untuk mengendalikan komputer ini?"
Pertanyaan kecil ini sangat hebat! Hampir semua penemuan besar di dunia mulai dari pertanyaan sederhana seperti ini. Linus lalu mulai menulis paket aplikasi yang kita kenal sebagai kernel. Inilah otak paling inti dari komputer. Otak ini bertugas mengatur memori, mesin, dan semua program.
Linus mula-mula mengetik kodenya pada April 1991. Lima bulan kemudian, pada 25 Agustus — tanggal lahirnya Linux — ia berkirim pesan ke teman-temannya di internet. Pesannya sangat terkenal sampai sekarang. Ia berkata sedang membuat sistem komputer gratis. "Cuma hobi," katanya. Ia bilang sistem ini tidak akan jadi proyek besar.
Tapi sejarah membuktikan hal lain! Sesuatu yang Linus sebut "cuma hobi" itu sekarang menjadi otak bagi jutaan komputer di dunia. Linux sekarang bekerja di dalam server internet, komputer raksasa, alat jaringan, hingga HP Android yang kita pakai sehari-hari. Tanpa kita sadari, Linux ada di mana-mana!