Jumat 02 Oct 2026 07:41 WIB

Agresi, Minyak, dan Uang: Membaca Iran dalam Bayangan Imperium Global

Kita hidup dalam bentuk imperialisme yang berbeda dari masa lalu.

Billboard menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump terpampang di salah satu jalan di Teheran, Iran, Senin (27/7/2026).
Foto: EPA/Abedin Taherkenareh
Billboard menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump terpampang di salah satu jalan di Teheran, Iran, Senin (27/7/2026).

Oleh: Achmad Tshofawie; Kordinator ECO-FITRAH, keluarga FKPPI, ICMI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya sebuah perang tidak benar-benar dimulai di medan tempur, melainkan jauh sebelumnya—di ruang-ruang rapat, di balik grafik ekonomi, di dalam desain sistem moneter global. Dentuman bom hanyalah gema terakhir dari keputusan-keputusan sunyi yang telah lama disusun.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran adalah salah satu contoh paling gamblang dari realitas ini. Ini bukan sekadar soal keamanan regional. Jika dibaca melalui lensa ekonom seperti Michael Hudson, konflik ini berubah wajah: dari perang militer menjadi perang sistemik atas kendali ekonomi dunia.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, lalu bertanya dengan objektif : apakah ini benar-benar tentang bom, atau tentang siapa yang mengendalikan harga minyak dan nilai uang?

Untuk memahami Iran hari ini, kita harus mundur ke tahun 1979—tahun yang mengubah arah sejarah Timur Tengah.

Sebelum itu, Iran bukanlah musuh Amerika. Ia justru sekutu utama. Bersama Arab Saudi, Iran menjadi bagian dari strategi “dua pilar” Amerika di Asia Barat. Di bawah kekuasaan Shah, Iran adalah benteng kepentingan Barat—baik secara politik, militer, maupun ekonomi.

Namun semua berubah ketika Revolusi Iran meletus. Revolusi itu bukan sekadar pergantian rezim. Ia adalah penolakan terhadap dominasi eksternal. Ia adalah deklarasi bahwa sebuah bangsa ingin berdiri di atas kakinya sendiri—mengelola sumber dayanya sendiri, menentukan arah politiknya sendiri. Dalam logika imperium, ini bukan sekadar pembangkangan. Ini adalah kehilangan aset strategis. Sejak saat itu, hubungan berubah dari kemitraan menjadi permusuhan. Dan sejak saat itu pula, Iran menjadi target.

Imperium Baru: Bukan Tanah, Tapi Sistem Keuangan

Menurut Michael Hudson, kita hidup dalam bentuk imperialisme yang berbeda dari masa lalu.

Jika dulu imperium menguasai wilayah secara fisik, hari ini ia menguasai melalui sistem keuangan global. Kuncinya adalah dolar. Dolar bukan sekadar mata uang. Ia adalah: alat transaksi global, cadangan devisa dunia, dan standar perdagangan energi.

Sistem ini diperkuat oleh apa yang disebut sebagai petrodolar—kesepakatan bahwa minyak dunia diperdagangkan dalam dolar.

Artinya: semua negara butuh dolar untuk membeli energi; semua negara, secara tidak langsung, bergantung pada sistem Amerika.

Inilah yang disebut Hudson sebagai “super imperialism”—imperium yang tidak perlu menjajah secara langsung, karena dunia secara sukarela menopangnya.

Dalam konteks ini, Iran bukan sekadar negara bermasalah versi Amerika. Ia adalah anomali dalam sistem. Mengapa?Karena Iran: mencoba menjual minyak di luar dolar, menjalin hubungan dengan China dan Rusia, mendukung sistem multipolar. Dengan kata lain, Iran mengganggu dua hal sekaligus: sistem energi global dan sistem moneter global. Versi Amerika, dalam dunia yang dibangun di atas sistem Dolar, gangguan seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Sebelum invasi langsung, alat utama yang digunakan adalah sanksi ekonomi. Sanksi ini bukan sekadar tekanan diplomatik. Ia adalah: pemutusan akses ke sistem keuangan global, pembatasan perdagangan dan isolasi ekonomi.

Namun dalam perspektif Hudson, tujuan utama bukan sekadar melemahkan Iran. Tujuan yang lebih besar adalah: mengirim pesan ke dunia: jangan keluar dari sistem dolar. Dengan kata lain, Iran dijadikan contoh.

Israel: Sekutu atau Pilar Sistem?

Dalam banyak analisis, Israel sering diposisikan sebagai sekutu utama Amerika di kawasan. Namun dalam kerangka Hudson, relasi ini lebih struktural. Israel bukan hanya sekutu. Ia adalah: basis militer, titik proyeksi kekuatan, dan bagian dari arsitektur kontrol regional. Dalam konflik dengan Iran, kepentingan Israel dan Amerika bertemu: Israel melihat Iran sebagai ancaman keamanan. Amerika melihat Iran sebagai ancaman sistemik.

Dua perspektif ini saling memperkuat, menciptakan dinamika konflik yang kompleks dan berlapis.

Jika dunia adalah tubuh, maka Selat Hormuz adalah salah satu pembuluh utamanya. Sekitar 20% minyak global melewati jalur sempit ini. Ketika Iran mengancam atau mengendalikan akses ke selat ini, dampaknya bukan hanya regional, tapi global. Harga minyak naik. Biaya transportasi meningkat. Harga pangan ikut terdorong. Inflasi merambat ke seluruh dunia. Di sinilah konflik lokal berubah menjadi krisis global. Dan di sinilah terlihat bahwa siapa yang mengendalikan jalur energi, pada akhirnya memegang pengaruh atas ekonomi dunia.

Salah satu perkembangan paling menarik adalah upaya Iran (bersama China) untuk mengurangi dominasi dolar. Jika minyak mulai diperdagangkan dalam yuan atau mata uang lain: permintaan dolar akan berkurang, dominasi finansial Amerika melemah. Inilah yang oleh Hudson disebut sebagai awal dari “pasar minyak multipolar”. Namun kita harus objektif, proses ini masih berlangsung, dolar masih dominan selama sistem lama belum runtuh. Ini di fase transisi—bukan revolusi yang telah selesai. Sebab baik Yuan maupun dolar,sama-sama fiat money.

Pernyataan mantan jenderal NATO Wesley Clark tentang rencana menggulingkan beberapa negara pasca-9/11 sering dijadikan bukti adanya desain besar imperium. Memang, beberapa negara dalam daftar itu telah mengalami intervensi: Irak, Libya, Suriah. Namun realitas di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Beberapa intervensi justru menghasilkan: kekacauan,instabilitas, konflik berkepanjangan. Ini menunjukkan bahwa bahkan kekuatan besar pun tidak sepenuhnya mampu mengendalikan hasil. Imperium tidak selalu rapi, kadang ia juga kacau.

Perang Tanpa Akhir: Stabilitas yang Dikontrol

Satu hal yang sering luput dari perhatian adalah bahwa tujuan utama bukan selalu kemenangan total. Seringkali yang diinginkan adalah: ketegangan yang terkendali, konflik yang tidak selesai, ketergantungan yang terus berlanjut.

Mengapa? Karena dalam kondisi seperti itu: negara-negara tetap membutuhkan perlindungan, pasar tetap bergantung pada sistem lama, dominasi tetap terjaga.

Ini adalah bentuk stabilitas yang paradoksal—stabil karena tidak pernah benar-benar damai.

Perang ini tidak berhenti di medan tempur. Ia merambat ke harga bahan bakar, biaya logistik, harga pangan. Pupuk, bahan kimia, transportasi—semuanya terhubung dengan energi. Ketika energi terganggu, seluruh rantai ekonomi ikut terguncang. Inilah sebabnya mengapa konflik di satu kawasan bisa dirasakan oleh petani di desa, oleh nelayan di pesisir, oleh keluarga di dapur mereka.

Refleksi Fitrah: Kembali ke Akar Peradaban

Di tengah semua ini, muncul pertanyaan yang lebih dalam: Dimana posisi kita sebagai manusia? Dimana posisi kita sebagai bangsa yang merdeka? Apakah kita hanya penonton? Atau bagian dari sistem yang sedang dipertaruhkan?

Pada akhirnya, semua ini membawa kita pada refleksi yang lebih mendasar. Manusia diciptakan dengan fitrah—kecenderungan untuk: adil, seimbang, tidak merusak. Namun sistem yang kita bangun sering kali menjauh dari fitrah itu: energi dijadikan alat dominasi, uang dijadikan alat kontrol, perang dijadikan alat stabilisasi. Padahal bumi ini bukan milik imperium. Ia adalah amanah. Sebagai bangsa merdeka, kita dihadapkan pada pilihan: apakah kita akan ikut dalam arus sistem yang tidak adil, atau berusaha membangun alternatif yang lebih berfitrah?

Kemandirian energi, keadilan ekonomi, dan kedaulatan pangan bukan sekadar slogan. Ia adalah jalan untuk keluar dari ketergantungan. Dan pada level individu :kesadaran, kejujuran, keberanian berpikir, menjadi langkah awal.

Dari Konflik ke Kesadaran

Perang antara Amerika, Israel, dan Iran mungkin akan terus berubah bentuk. Namun di balik semua itu, ada pelajaran yang lebih besar: bahwa dunia tidak hanya digerakkan oleh senjata, tetapi oleh sistem, dan sistem itu dibangun oleh manusia.

Maka pertanyaan terakhir bukan lagi tentang siapa yang menang, melainkan: sistem seperti apa yang ingin kita dukung dan peradaban seperti apa yang ingin kita bangun. Karena pada akhirnya, sejarah bukan hanya ditulis oleh kekuatan besar.

Ia juga ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil— yang kita ambil hari ini, sebagai manusia yang masih memiliki fitrah.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi