Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarah sering kali bernasib seperti rumah tua yang diwariskan kepada banyak anak. Selama semua sepakat merawatnya, rumah itu menjadi tempat berteduh bersama. Tetapi ketika masing-masing merasa sebagai pemilik tunggal, rumah yang sama berubah menjadi medan sengketa.
Yang diperebutkan bukan lagi dinding atau atapnya, melainkan hak untuk berkata, "Ini milikku." Begitulah nasib Chhatrapati Shivaji Maharaj di India hari ini. Semakin besar penghormatan kepadanya, semakin keras pula perebutan atas makna yang diwariskannya.
Dalam dua tahun terakhir, lahir dua film yang sama-sama berbicara tentang seorang raja besa India, bernama Shivaji, tetapi memilih jalan yang sangat berbeda. Bahkan sedang disiapkan film panjang Shivaji Raje Bhosale yang ditargetkan tayang tahun 2028.
Film Raja Shivaji (2026) menghadirkan kisah seorang raja sebagaimana lazimnya film epik: panglima perang, penakluk benteng, simbol kejayaan Maratha. Sebaliknya, film Khalid Ke Shivaji (2025) justru mengajak penonton melihat Shivaji, raja beragama Hindu, dari mata seorang anak Muslim kelas lima bernama Khalid.
Perbedaan sudut pandang itu tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak keberanian film Khalid Ke Shivaji. Ia tidak bertanya bagaimana Shivaji memenangkan peperangan, melainkan bagaimana nilai-nilai Shivaji dapat hidup di hati seorang anak yang berbeda agama.
Pilihan itu ternyata mengusik banyak pihak. Trailer film Khalid Ke Shivaji memicu protes dari kelompok-kelompok Hindu sayap kanan karena memuat dialog yang menyebut adanya pengawal Muslim dalam pasukan Shivaji serta keberadaan masjid di Raigad. Sebagian sejarawan sendiri mengingatkan bahwa beberapa klaim tersebut memang belum memiliki bukti primer yang kuat.
Perdebatan akademik seperti itu tentu wajar. Sejarah berkembang justru karena keberanian menguji sumber, bukan karena kesediaan menerima setiap cerita tanpa kritik. Masalah muncul ketika diskusi ilmiah berubah menjadi tuntutan pelarangan, tekanan politik, bahkan penyensoran karya seni sebelum masyarakat sempat menontonnya secara utuh.
Di sinilah kita perlu membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan. Mempertanyakan akurasi sejarah adalah pekerjaan ilmuwan. Tetapi menolak sebuah gagasan hanya karena berusaha menghadirkan tokoh sejarah sebagai milik semua warga negara adalah persoalan yang berbeda.
Yang pertama menjaga integritas ilmu pengetahuan. Yang kedua berisiko mengubah sejarah menjadi pagar identitas. Padahal tokoh sebesar Shivaji tidak menjadi besar karena hanya dicintai satu kelompok, melainkan karena pengaruhnya melampaui batas-batas komunitasnya sendiri.
Yang menarik, kontroversi itu seakan meniru jalan cerita filmnya sendiri. Dalam dunia fiksi, Khalid dipersoalkan karena ia seorang Muslim yang mengagumi Shivaji. Di dunia nyata, Khalid Ke Shivaji juga mengalami nasib serupa.
Padahal pesan yang hendak disampaikan Raj Pritam More sesungguhnya sangat sederhana, bahkan selama puluhan tahun pernah menjadi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah India: bahwa Shivaji adalah pemimpin yang berusaha mempersatukan rakyatnya tanpa membedakan agama, kasta, maupun kelas sosial.
Namun di tengah menguatnya politik identitas, gagasan yang dahulu dianggap biasa itu kini justru berubah menjadi kontroversi. Shivaji yang selama berabad-abad dipandang sebagai kebanggaan Maharashtra perlahan direbut menjadi simbol eksklusif Hindutva, sehingga setiap upaya menampilkan sisi inklusifnya segera dicurigai sebagai ancaman ideologis.
Film ini juga cerdas karena tidak memulai cerita dari pertikaian agama, melainkan dari persoalan yang jauh lebih membumi. Di sebuah desa kecil di Maharashtra, warga mengeluhkan jalan rusak dan kesulitan air bersih. Alih-alih menyelesaikan kebutuhan dasar itu, kepala desa justru menggagas pembangunan sebuah kuil.
Menariknya, warga Hindu maupun Muslim sama-sama mempertanyakan prioritas tersebut. Adegan singkat ini seolah menyindir kenyataan politik modern: masyarakat biasa sering kali lebih waras daripada para pemimpinnya.
Raj More seperti hendak mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari sesungguhnya menyediakan ruang hidup bersama yang cukup luas, tetapi ruang itu terus dipersempit oleh politik identitas yang lebih sibuk mengurus simbol daripada kesejahteraan rakyat.
Dari titik itulah perjalanan Khalid menjadi semakin mengharukan. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga yang fanatik. Orang tuanya hidup sederhana, bahkan tidak terlalu menekankan ritual keagamaan.
Namun sejak teman-temannya mulai mengejeknya sebagai "Afzal Khan", ia mendadak dipaksa memikul beban identitas yang terlalu berat untuk anak berusia sebelas tahun.
Guru sejarahnya, Salve, berusaha menghiburnya dengan mengatakan bahwa yang tidak memiliki sejarah tidak akan memiliki masa kini, bahkan menjawab pertanyaan Khalid tentang agama Afzal Khan dengan kalimat sederhana, "Memangnya kenapa?"
Akan tetapi, justru di situlah ironi film ini. Orang-orang dewasalah yang membuat pertanyaan itu menjadi penting. Raj More memperlihatkan bagaimana prasangka tidak lahir dari kebencian yang besar, melainkan dari ejekan yang dianggap biasa, dari label yang terus diulang, hingga akhirnya seorang anak belajar melihat dirinya sebagai "yang berbeda".
Ketika ayah Khalid berkata, "Raja yang sejati menempatkan kemanusiaan di atas agama," Khalid hanya menjawab lirih, "Seandainya kami hidup pada zaman itu." Kalimat sederhana tersebut menjadi kritik yang sangat tajam terhadap India hari ini: barangkali yang semakin jauh bukan warisan Shivaji, melainkan kemampuan masyarakat untuk mewarisi semangatnya.