
Oleh: Hasan Basri Tanjung, Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor - Ketua Yayasan Dinamika Umat
REPUBLIKA.CO.ID,
Sejatinya, hidup ini adalah perjuangan untuk meraih kemuliaan. Meskipun demikian, manusia sebagai mahkluk yang mulia karena diciptakan Allah SWT. Yang Maha Mulia, bisa saja terjerembab bahkan lebih hina dibandingkan makhluk lain. Oleh karenanya, manusia dituntut agar menjaga kemuliaan tersebut dengan jalan yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Jika tidak, manusia akan menjadi makhluk yang sesat dan buruk melebihi bintang ternak (QS. Al-A’raf[7]: 179).
Jika kemuliaan (kehormatan) diraih dengan perjuangan, maka perjuangan pun menuntut pengorbanan. Tidak ada perjuangan yang dilalui oleh para nabi dan rasul serta orang-orang saleh terdahulu yang mudah, akan tetapi penuh ujian dan ancaman, boikot dan pengusiran. Tidak ada pula perjuangan yang akan lepas dari pengorbanan, baik fisik, tenaga, waktu, pikiran, harta, keluarga bahkan kehilangan nyawa. Pengorbanan itulah yang dimaknai dengan jihad fii sabilillah (QS. Al-Baqarah[2]: 214).
Siapa saja yang menempuh jihad tersebut, maka di ujung perjalanan akan meraih kemuliaan. Namun, siapa saja yang menghindari apalagi menentangnya, maka akan hina di hadapan manusia dan Allah SWT.
Bagi para pejuang, bahwa kehidupan dunia ini hanya menyediakan dua pilihan, yakni hidup dalam kemuliaan atau mati dalam kesyahidan (’isy kariiman aw mut syahiidan). Agama mendorong kita untuk memilih jalan perjuangan yakni menolong agama Allah SWT.
Berjihad melawan kolonialisme, sekularisme, pluralisme, liberalisme dan faham sesat lainnya. Termasuk menolak propaganda dan promosi LGBTQ (lesbian, gay, biseksual, transgender dan queer) yang didanai PBB dengan alasan hak asasi manusia. Padahal, perbuatan tersebut merupakan penyimpangan seksual dan bertentangan dengan fitrah manusia yang akan menghancurkan peradaban seperti kaum Nabi Luth as dahulu (QS. Al-A’raf[7]:80-81).
Perjuangan untuk meraih kemuliaan harus mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti militer, politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, perdagangan, pendidikan dan dakwah. Setiap muslim wajib mengambil peran dalam bidang-bidang tersebut yang sesuai dengan kapasitas dan keahlian agar dunia ini berada dalam genggaman orang-orang beriman.
Sebab, jika dalam berbagai aspek tersebut dikuasai orang jahat, maka kehidupan akan semakin hancur dan tak berkeadaban. Untuk itu, diperlukan para pejuang yang tangguh agar gerakan dakwah tertata rapi dalam sistem yang utuh dan komprehensif (QS. Al-Isra` [17]: 81).
Seperti pesan Imam Ali Bin Abi Thalib Kw. bahwa kejahatan yang diorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tak terorganisir (al-haqqu bilaa nidzaamin yaghlibuhul baahtil bin nidzaam).
Petuah Guru Kehidupan, Prof. KH. Didin Hafdihuddin menegaskan tiga syarat yang wajib dipenuhi, baik sebagai guru (da’i) yang menjadi pewaris para nabi, maupun pengelola lembaga pendidkan yakni;