Selasa 23 Jun 2026 10:15 WIB

Jurnalisme Filantropi dan Perubahan Sosial

Filantropi dijadikan sebagai cara pandang, metode, dan sekaligus tujuan jurnalisme.

Warga memeriksa kesehatan secara gratis di gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta. Ilustrasi filantropi Islam.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga memeriksa kesehatan secara gratis di gedung Filantropi Dompet Dhuafa, Jakarta. Ilustrasi filantropi Islam.

Oleh: Roni Tabroni*)

Era digital, yang di dalamnya infodemi melanda publik yang tertunduk pada layar gadget, menyebabkan bias kebenaran. Di layar ponsel, berseliweran informasi bencana, kriminalitas, korupsi, perundungan, caci-maki, kekerasan, peperangan, dan konflik yang seolah tak pernah putus. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga berbagai belahan dunia lainnya.

Dampaknya, tidak sedikit yang kemudian menanggalkan tradisi membaca berita karena jengah dengan konten yang serba-sensasi. Beberapa riset internasional menunjukkan adanya penurunan aspek kepercayaan para tradisi jurnalisme bermodal sensasi. Orang-orang lelah, bukan karena tidak peduli, melainkan lantaran terlalu sering disuguhi derita tanpa arah dan tanpa solusi.

Baca Juga

Pada skala yang lebih lokal, persoalan jurnalisme Indonesia tidak kalah pelik. Media massa berlomba mengejar trafik di tengah disrupsi digital. Judul clickbait menjadi senjata bertahan hidup, sementara substansi berita kerap dikorbankan demi jumlah pembaca.

Algoritma media sosial memperparah keadaan karena dirancang memprioritaskan konten yang memicu emosi, bukan konten yang mencerahkan. Jurnalisme profesional pun harus bersaing dengan konten asal viral dari akun anonim, influencer, hingga buzzer yang tidak terikat kode etik apa pun.

Pola pemberitaan yang berorientasi sensasi dan konten negatif ini menimbulkan efek psikologis yang sangat kongkrit. Setidaknya kita akan melihat generasi yang compassion fatigue, atau kelelahan empati.

Bagaimana tidak? Publik kini dibanjiri kabar duka terus-menerus hingga akhirnya mati rasa. Berbagai informasi bencana, kemiskinan, dan ketimpangan sosial diberitakan berulang-ulang sampai tak terhingga, tetapi jarang disertai konteks, apalagi solusi.

Korban musibah sering kali hanya dijadikan objek liputan untuk membangkitkan rasa iba sesaat, tanpa tindak lanjut tentang nasib mereka setelah kamera pergi. Jurnalisme semacam ini berhenti pada level “memberitakan”, tanpa pernah benar-benar “menjawab” persoalan sosial yang ia angkat sendiri.

Kapitalisme media

Berabad-abad lamanya, media menyembah logika kapitalisme dalam kerja pemberitaannya. Inilah persoalan struktural yang sulit terhindarkan. Newsroom dituntut menghasilkan profit dalam waktu singkat. Iklan dan trafik menjadi indikator utama keberhasilan, bukan dampak sosial.

Selain itu, jurnalis dikejar tenggat dan target harian sehingga ruang untuk riset mendalam dan liputan investigatif kian menyempit. Media yang seharusnya menjadi pilar demokrasi keempat perlahan bergeser menjadi mesin pencari keuntungan jangka pendek.

Ironisnya, semakin media mengejar angka, semakin jauh ia dari fungsi aslinya. Media baiknya meneguhkan komitmen pada fungsi mencerdaskan dan memberdayakan publik. Aspek profit juga bagian dari kerja media, tetapi bukan satu-satunya dan orientasi utama.

Orientasi kapitalisme dalam ruang media tidak menanggalkan misi kemanusiaan yang lebih ramah terhadap keberlanjutan. Manusia yang dimaksud adalah subjek perubahan yang saling mengisi dan menjadi mitra menghasilkan dampak sosial nyata.

Rasa-rasanya, jurnalisme merupakan instrument strategis bagi perbaikan di berbagai sektor kehidupan. Ia dapat memulihkan kepercayaan publik dari diskursus informasi yang selama ini dianggap terlalu eksploitatif.

Ketika tradisi jurnalistik dipersonalisasi, homeless media pun tercipta, tetapi tidak semua itu dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya.

photo
ILUSTRASI Media massa. - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

Jurnalisme filantropi

Republika sudah mulai mengumandangkan perubahan sosial melalui ekosistem jurnalistik berdampak sosial sejak tahun 1993. Bukan hanya penguatan aspek keredaksian, tetapi juga membangun pondasi sayap yaitu lembaga filantropi dengan membangun dampak nyata.

Namun, hingga di sini Jurnalisme Filantropi (Julantropi) belum menemukan bentuknya yang konkret. Konten yang berjubel tentang isu-isu kemanusiaan, belum terstruktur lebih sistematis menjadi sebuah gendre baru yang menghasilkan sebuah ranah keilmuan alternatif.

Atas dasar itulah kemudian bagaimana sebenarnya Julantropi menjadi alternatif pikiran yang ditawarkan untuk membangun sebuah mazhab atau school of thought baru dalam dunia jurnalistik Indonesia. Ia lahir bukan sebagai bentuk jawaban, tetapi juga bangkit dari kekuatan khas masyarakat Indonesia yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi berbagi.

Karenanya, Julantropi berakar dari semangat jurnalisme solusi (solutions journalism) yang sudah berkembang di Eropa dan Amerika, tetapi mengambil jalan berbeda. Ia menanamkan akarnya pada nilai filantropi-kultural khas Indonesia, yaitu tradisi kebaikan untuk keadilan sosial seperti zakat, wakaf, infak, sedekah, dan gotong royong.

Semua ini merupakan praktik dan nilai yang sudah lama hidup di tengah masyarakat kita, jauh sebelum istilah solutions journalism dikenal di ruang akademik Barat.

Bedanya dengan jurnalisme pembangunan ala Orde Baru yang menjadi corong negara, atau jurnalisme damai yang fokus pada isu konflik, Julantropi hadir dari inisiatif masyarakat sipil, serta menyasar seluruh ranah persoalan sosial, seperti kemiskinan, bencana, kesehatan, hingga pendidikan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement