Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Dulu, menyebut Microsoft akrab dengan Linux itu seperti mendengar kabar kucing sedang ronda menjaga ikan asin. Sulit dipercaya. Steve Ballmer, mantan bos besar Microsoft, bahkan pernah menyebut Linux sebagai “kanker.” Kalimat itu sampai sekarang masih dikenang para pejuang open source.
Tetapi sejarah memang suka bercanda. Kini Microsoft justru meluncurkan Azure Linux, tahu-tahu disiarkan sudah versi 4.0. Bukan sekadar tempelan. Bukan Linux kosmetik. Ini distro Linux server penuh buatan Microsoft sendiri. Dan yang lebih lucu lagi, basisnya Fedora, distro Linux keluarga besar RedHat.
Dulu Microsoft perang dingin dengan Linux. Setelah lama musuhan, sekarang hidup nyaman serumah. Dunia teknologi memang aneh. Kadang musuh ideologis hari ini berubah menjadi mitra strategis besok pagi, asal saham naik dan server tetap hidup.
Pengumuman itu muncul di Open Source Summit North America. Brendan Burns, salah satu pendiri Kubernetes yang kini jadi petinggi Azure Microsoft, dengan tenang mengatakan bahwa Linux kini menjadi sistem operasi mayoritas di cloud Azure.
Linux jadi mayoritas, bukan Windows. Orang-orang di ruangan itu konon sampai berkedip dua kali. CEO Linux Foundation pun sempat melongo seperti baru mendengar kabar Darth Vader pindah jadi ustadz pesantren.
Lalu tibalah kalimat pamungkas itu: "Microsoft kini pada dasarnya adalah perusahaan Linux." Itu kalimat Brendan Burns. Seketika sejarah teknologi terasa seperti serial panjang sinetron azab.
Padahal bertahun-tahun Microsoft sibuk menjaga pengguna Windows agar tidak “kabur ke pegunungan Linux.” Maka dibuatlah WSL, Windows Subsystem for Linux. Maksudnya jelas, agar pengguna Windows bisa mencicipi Linux tanpa benar-benar pindah. Mirip warung kopi yang menyediakan kopi pahit gratis supaya pelanggan tidak pindah ke kafe sebelah.
Strateginya cerdas. Banyak programmer, developer AI, administrator server, dan pejuang terminal mulai jatuh cinta pada Linux. Tetapi Microsoft tidak mau mereka benar-benar hengkang. Maka Linux dimasukkan ke Windows seperti menaruh kandang kambing di ruang tamu: biar dekat, tapi tetap dalam kontrol tuan rumah. Dan ternyata strategi itu berhasil.
Kini langkahnya lebih jauh lagi. Azure Linux 4 dihadirkan Microsoft hadir bukan untuk desktop rumahan yang dipakai mengetik surat RT atau edit foto pengajian. Ini Linux kelas tempur. Linux server. Linux untuk cloud. Linux untuk AI. Linux yang dipakai menjalankan jutaan container, Kubernetes, machine learning, hingga infrastruktur AI sendiri.
Nah, di sinilah banyak orang awam mulai bingung: “Apa sih Azure itu?” Bayangkan Azure seperti kota raksasa milik Microsoft di langit digital. Isinya gedung-gedung server, jalan tol data, gardu listrik komputasi, dan gudang AI. Perusahaan menyewa ruang di sana untuk menjalankan aplikasi, website, database, analitik, sampai AI mereka.