Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Ada kasus-kasus kriminal yang datang dan pergi seperti hujan sore. Mengguyur sebentar, lalu menghilang dari ingatan publik. Tapi ada pula kasus yang membuat kita berhenti sejenak, lalu termenung lama. Kasus Yuvita Tri Rezeki termasuk jenis yang kedua.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, publik Indonesia menyaksikan sebuah tragedi kekerasan dengan tingkat keterbukaan yang tidak lazim. Nama korban disebut lengkap, tak cuma nama inisial dan usianya yang 29 tahun: Yuvita Tri Rezeki. Nama pelaku disebut lengkap: Taufik Hidayat.
Wajah pelaku beredar luas. Bahkan kondisi korban yang selama ini biasanya dijaga rapat oleh media, muncul dalam berbagai video dan foto di media sosial. Saya sendiri tidak sanggup menatapnya lama-lama. Ada jenis penderitaan yang membuat mata kita ingin berpaling, bukan karena jijik, tetapi karena nurani merasa tak kuat menanggungnya.
Biasanya media dan kepolisian menggunakan inisial. Ada pertimbangan hukum, etika, dan perlindungan korban. Tetapi dalam kasus Yuvi yang disiksa dan disekap Taufik selama tiga tahun, seolah-olah tingkat kekejaman yang diduga terjadi telah melampaui batas-batas normal sehingga masyarakat ingin melihat wajah kejahatan itu secara telanjang.
Kita tak lagi menyebutnya sekadar laporan kriminal, melainkan sebuah tragedi kemanusiaan. Semula saya melihat kasus ini sebagai kekerasan ekstrem. Tetapi saya belum mengaitkannya dengan psikopati. Sampai sebuah pesan WhatsApp masuk dari Prof Lucky Aziza Bawazier.
Selama bertahun-tahun, guru besar ilmu kedokteran Universitas Indonesia dengan sembilan gelar itu mengikuti kajian tentang psikopati yang dipelopori Prof. Robert D. Hare. Ahli psikologi asal Kanada ini adalah pencipta Psychopathy Checklist-Revised (PCL-R), instrumen yang hingga kini menjadi rujukan penting dalam psikologi forensik dunia.
Prof. Dr. dr. Lucky mengingatkan saya pada satu fakta penting. Banyak orang mengira seorang psikopat selalu tampil seperti monster dalam film horor. Padahal Robert Hare justru menunjukkan kebalikannya. Psikopat sering tampil menawan, cerdas, santun, dan meyakinkan. Mereka tidak datang membawa tanduk. Mereka datang membawa senyum.
Dalam buku terkenalnya, Without Conscience (Tanpa Nurani), Robert Hare menggambarkan psikopat sebagai manusia yang memahami kata-kata tentang cinta, belas kasih, dan empati, tetapi tidak benar-benar merasakan maknanya. Mereka mengetahui kamus emosi, tetapi tidak memiliki jiwanya.
Pertanyaannya kemudian: apakah Taufik Hidayat seorang psikopat? Jawaban ilmiahnya harus tegas: kita tidak tahu.
Tidak seorang pun boleh mendiagnosis seseorang sebagai psikopat hanya berdasarkan pemberitaan media. Bahkan Robert Hare sendiri berkali-kali mengingatkan bahwa PCL-R bukan alat tebak-tebakan media sosial. Penilaian harus dilakukan melalui wawancara mendalam, rekam jejak hidup, observasi klinis, dokumen hukum, dan evaluasi profesional yang ketat.
Karena itu, yang bisa dilakukan di sini bukanlah mendiagnosis, melainkan memetakan dugaan perilaku yang tampak di ruang publik terhadap indikator Robert Hare.
Jika tuduhan penyekapan yang dilakukan Taufik selama hampir tiga tahun terhadap Yuvi terbukti benar di pengadilan, maka terdapat beberapa indikator yang tampak relevan untuk ditelaah.
Pertama, manipulatif. Menurut keluarga, hubungan antara Taufik-Yuvi berawal dari perkenalan yang tampak biasa. Tidak ada alarm bahaya yang menyala. Dalam banyak kasus psikopati, kemampuan membangun kepercayaan merupakan senjata utama.
Kedua, kurang empati. Bila seseorang mampu melihat penderitaan orang lain selama bertahun-tahun tanpa menghentikannya, apalagi melakukannya sendiri, itu menunjukkan kemungkinan defisit empati serius. Namun sekali lagi, ini memerlukan pembuktian klinis.
Ketiga, kurang rasa bersalah. Bila tindakan kekerasan dilakukan berulang dalam waktu panjang tanpa upaya menghentikan diri, indikator ini patut dipertimbangkan sebagai bukti psikopat.
Keempat, kebutuhan mengendalikan orang lain. Banyak ahli psikologi menyebut kontrol total sebagai salah satu motif yang sering muncul dalam hubungan abusif. Korban bukan lagi dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai milik.
Kelima, kebohongan dan manipulasi realitas. Korban bahkan sempat mengaku kepada tenaga medis bahwa dirinya terluka karena jatuh di kamar mandi. Ini mengingatkan pada fenomena yang dalam psikologi disebut coercive control, ketika korban begitu takut sehingga mengulangi narasi yang dibangun pelaku.