Sabtu 27 Jun 2026 12:11 WIB
Catatan Cak AT

Jejak Kematian Sel

Tubuh kita ternyata lebih bijaksana daripada diri kita sendiri.

Jejak Kematian Sel. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Jejak Kematian Sel. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, Bayangkan sebuah kota yang penduduknya mencapai tiga puluh triliun jiwa. Setiap hari, miliaran warganya meninggal. Anehnya, kota itu tidak pernah dipenuhi kuburan, tidak pernah berbau bangkai, dan tidak pernah berhenti berdenyut. Bahkan, kehidupan di sana justru terus berjalan dengan tertib.

Baca Juga

Kota itu adalah tubuh kita sendiri. Sejak kita mulai membaca tulisan ini, entah sudah berapa juta sel yang mengakhiri hidupnya. Sebagian besar segera digantikan oleh sel-sel baru. Kulit berganti. Darah diperbarui. Dinding usus diperbaiki.

Namun ada pula sel-sel yang hampir tak pernah tergantikan, seperti sebagian sel saraf di otak. Tubuh ternyata bukan benda yang tetap. Ia lebih menyerupai sebuah kota yang siang malam membongkar bangunan lama sambil mendirikan bangunan baru.

Lalu muncul pertanyaan yang sederhana, tetapi mengganggu rasa ingin tahu. Ke mana perginya bangkai miliaran sel yang mati itu? Apakah hancur begitu saja? Siapa yang membersihkannya dari dalam tubuh kita?

Selama ini para ilmuwan mengira jawabannya cukup sederhana. Ketika sebuah sel sudah tua, rusak, atau membahayakan tubuh, ia "memutuskan pensiun". Sel itu membongkar dirinya sendiri dengan sangat tertib. Tidak meledak, tidak merusak tetangganya, dan tidak meninggalkan kekacauan.

Bayangkan seorang pegawai yang sebelum pensiun merapikan meja kerjanya, mengembalikan semua inventaris, lalu berpamitan dengan tenang. Dalam dunia biologi, cara mati yang santun ini mempunyai nama ilmiah: apoptosis.

Sebaliknya, ada pula sel yang mati karena "kecelakaan". Misalnya akibat benturan keras, racun, infeksi, atau luka berat. Sel seperti ini pecah begitu saja. Isinya tumpah ke mana-mana sehingga jaringan di sekitarnya ikut panik.

Ibarat sebuah rumah yang meledak karena tabung gas, seluruh lingkungan menjadi kacau. Para ilmuwan menyebut kematian yang berantakan ini sebagai nekrosis.

Yang menarik, penelitian terbaru menunjukkan bahwa bahkan pada kematian yang paling tertib sekalipun, ternyata masih ada pekerjaan lain yang selama ini luput dari perhatian.

Penelitian yang dipimpin Stephanie F. Rutter, kandidat doktor di laboratorium Prof. Ivan K. H. Poon, La Trobe University, Australia, menemukan bahwa sel yang mati ternyata meninggalkan sesuatu yang mereka sebut "footprint of death" atau "jejak kematian".

Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Nature Communications dan melibatkan kolaborasi dengan WEHI serta Toronto Metropolitan University.

Jejak itu bukanlah bekas kaki seperti di pasir. Yang dimaksud adalah paket-paket sangat kecil yang tertinggal di tempat sel itu mati.

Bayangkan seseorang yang tersesat di hutan lalu meninggalkan remah-remah roti agar tim penyelamat tahu ke mana harus datang. Sel yang mati ternyata melakukan hal serupa. Ia meninggalkan paket-paket mungil sebagai penunjuk lokasi.

Paket-paket itu berisi berbagai pesan kimia. Fungsinya sederhana tetapi sangat penting: memanggil "petugas kebersihan" tubuh.

Tubuh kita memang mempunyai pasukan kebersihan yang luar biasa. Mereka berkeliling tanpa henti mencari sampah biologis, membersihkan bangkai sel, mendaur ulang bagian-bagian yang masih berguna, lalu memastikan semuanya tetap rapi.

Kalau pekerjaan itu gagal dilakukan, sisa-sisa bangkai sel akan menumpuk dan memicu "alarm darurat" tubuh berupa peradangan. Dalam jangka panjang, keadaan ini bahkan dapat memicu penyakit autoimun seperti lupus, ketika tubuh justru menyerang dirinya sendiri.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement