Jumat 26 Jun 2026 13:54 WIB
Catatan Cak AT

Topeng Kewarasan

Pelajaran terbesarnya adalah membangun keluarga yang kuat, masyarakat yang peka.

Topeng Kewarasan. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Topeng Kewarasan. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, Di dalam khazanah kebudayaan Nusantara, topeng bukan sekadar properti pertunjukan. Ia adalah bahasa. Ia adalah isyarat, bahkan filosofi. Yang disembunyikannya adalah wajah, tetapi yang dipertontonkannya adalah watak yang ingin dipercaya.

Baca Juga

Indonesia mengenal banyak tradisi topeng. Di Cirebon ada Topeng Panji, Samba, Rumyang, Tumenggung, dan Kelana. Di Bali dikenal Topeng Keras, Topeng Tua, Bondres, dan Topeng Ratu. Malang, Yogyakarta, hingga berbagai daerah lain pun memiliki tradisi topeng dengan filosofi masing-masing.

Topeng memang tidak dibuat untuk mengubah wajah seseorang. Topeng dibuat agar orang lain melihat wajah yang bukan wajah sebenarnya. Dalam seni pertunjukan, topeng adalah medium ekspresi. Tetapi dalam kehidupan nyata, topeng kadang menjadi alat penyamaran. Dan di situlah letak bahayanya.

Ada kejahatan yang datang membawa golok sehingga mudah dikenali. Orang segera menghindar ketika melihatnya.

Tetapi ada pula kejahatan yang datang membawa senyum, tutur kata yang lembut, perhatian yang meyakinkan, bahkan citra sebagai pribadi yang santun dan religius. Justru kejahatan jenis kedua inilah yang sering kali lebih mematikan. Ia tidak menyerang dari depan, melainkan merayap melalui kepercayaan.

Tragedi yang menimpa Yuvita Tri Rezeki di Cileunyi, Kabupaten Bandung, mengingatkan kita bahwa tidak semua ancaman memiliki wajah yang menakutkan. Taufik Hidayat datang padanya dengan membawa harapan dan cinta.

Ada orang yang tampak sepenuhnya waras, baik, dan menyenangkan, tetapi menyembunyikan sisi gelap yang hanya diketahui oleh korbannya. Dalam psikologi, fenomena inilah yang oleh Hervey M. Cleckley disebut the mask of sanity — topeng kewarasan.

Mengapa seseorang dapat menjalani kehidupan sosial yang tampak biasa, sementara di balik pintu tertutup diduga terjadi kekerasan yang demikian mengerikan? Pertanyaan inilah yang membawa saya kembali kepada pemikiran dua tokoh penting dalam psikologi forensik: Hervey M. Cleckley dan Robert D. Hare.

Istilah the mask of sanity atau "topeng kewarasan" sesungguhnya diperkenalkan Cleckley melalui bukunya yang terbit pada 1941. Ia menggambarkan individu yang dari luar tampak normal, rasional, cerdas, bahkan memesona, tetapi sesungguhnya mengalami gangguan kepribadian yang membuatnya kehilangan empati dan nurani.

Puluhan tahun kemudian, Robert Hare mengembangkan konsep itu melalui penelitian ilmiah yang melahirkan Psychopathy Checklist-Revised (PCL-R), instrumen yang hingga kini menjadi salah satu rujukan utama dalam psikologi forensik dunia.

Saya teringat kembali pada konsep tersebut setelah menerima sejumlah pesan dari Prof. Lucky Aziza Bawazier. Guru Besar Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia itu pernah mengikuti pendidikan langsung bersama Robert Hare dan menyelenggarakan seminar serta pelatihan psikopati di Indonesia pada 2006 dan 2008.

Dalam pandangan dokter pemilik rumah sakit itu, tragedi Yuvi tidak hanya harus dibaca sebagai perkara pidana, tetapi juga sebagai pelajaran besar bagi keluarga dan masyarakat tentang bagaimana wajah kejahatan dapat bersembunyi di balik pesona.

Di sinilah masyarakat sering keliru memahami psikopat. Banyak orang membayangkan sosok yang selalu kasar, brutal, atau mudah marah. Padahal berbagai kajian psikologi menunjukkan bahwa sebagian individu dengan karakteristik psikopatik justru mampu membangun kesan pertama yang sangat baik.

Mereka dapat tampil percaya diri, komunikatif, humoris, karismatik, dan pandai memperoleh kepercayaan orang lain. Topeng itulah yang membuat korban, keluarga, bahkan lingkungan sekitar terlambat menyadari bahaya yang sebenarnya.

Karena itu, jika dalam proses penyidikan muncul dugaan adanya karakteristik psikopatik pada seorang tersangka, pendekatannya tidak cukup hanya menggunakan kacamata hukum.

Penyidik tentu memiliki kompetensi dalam membangun konstruksi pidana, mengumpulkan alat bukti, dan membuktikan unsur-unsur delik. Namun memahami pola perilaku seseorang membutuhkan disiplin ilmu yang berbeda.

Di sinilah psikolog forensik, psikiater forensik, serta dokter yang memahami aspek medis sekaligus hukum dapat memberikan perspektif yang sangat penting. Mereka tidak menentukan seseorang bersalah atau tidak, tetapi membantu menjelaskan pola perilaku yang mungkin tidak terbaca melalui pendekatan hukum semata.

Hal itu penting karena psikopati bukan diagnosis yang dapat ditempelkan begitu saja berdasarkan pemberitaan media atau opini publik.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement