Ahad 07 Jun 2026 09:14 WIB
Catatan Cak AT

Menjaga Ashabiyah

Ancaman terbesar bagi pemerintahan bukanlah kritik, melainkan hilangnya kepercayaan.

Menjaga Ashabiyah. (ilustrasi)
Foto: ahmadie Thaha
Menjaga Ashabiyah. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam dua catatan sebelumnya, kita berbicara tentang kurs dolar dan kepercayaan publik. Yang satu diukur oleh pasar, yang lain diukur oleh survei. Yang satu bergerak di layar monitor, yang lain hidup di kepala dan hati manusia.

Baca Juga

Survei Poltracking menyebut tingkat kepercayaan publik pada pemerintah masih tinggi, 74 persen. Tapi ada satu pertanyaan yang lebih menarik. Jika kepercayaan publik memang merupakan modal politik yang begitu berharga, yang bisa saja tiba-tiba turun, apa yang sedang dilakukan Prabowo untuk menjaganya?

Pertanyaan ini penting karena kepercayaan tidak tumbuh seperti rumput liar yang muncul sendiri setelah hujan. Kepercayaan lebih mirip sawah. Ia harus ditanam, dipelihara, diairi, dan dijaga dari hama. Sekali gagal panen, tidak mudah menumbuhkannya kembali.

Dalam beberapa bulan terakhir, tampak ada pola yang konsisten. Presiden Prabowo Subianto tidak hanya berbicara tentang program-program pemerintah. Ia berusaha memastikan bahwa program-program itu terlihat, terasa, dan menyentuh langsung kehidupan rakyat. Setidaknya begitu yang terlihat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi contoh paling jelas. Presiden tidak sekadar meresmikan program, lalu menyerahkannya kepada birokrasi. Ia berkali-kali turun tangan, memantau pelaksanaan, bahkan mengumpulkan ratusan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sentul untuk memastikan mesin besar itu bergerak sesuai arah yang ditentukan.

Di mata sebagian orang, itu mungkin sekadar urusan teknis. Tetapi dalam politik, dapur sering kali lebih penting daripada podium. Rakyat tidak memakan pidato. Rakyat memakan hasil kebijakan. Karena itu, bagi seorang presiden, satu dapur yang gagal terkadang lebih berbahaya daripada seratus pidato yang berhasil.

Namun kepercayaan tidak hanya dibangun oleh keberhasilan. Ia juga dibangun oleh cara seorang pemimpin menghadapi kegagalan.

Di sinilah ujian sesungguhnya muncul. Ketika dugaan penyimpangan dan korupsi menyeret nama-nama yang berada di lingkungan program strategis pemerintah, perhatian publik tidak lagi tertuju pada besarnya anggaran atau jumlah penerima manfaat. Perhatian publik beralih pada satu pertanyaan sederhana: apakah pemerintah berani membersihkan rumahnya sendiri?

Membersihkan rumah sendiri selalu lebih sulit daripada membersihkan rumah tetangga. Debu di rumah tetangga tidak memiliki hubungan emosional dengan kita. Debu di rumah sendiri sering kali menempel pada orang-orang yang dahulu dipercaya, diajak berjuang, bahkan dibanggakan.

Karena itu sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin jatuh bukan karena serangan lawan, melainkan karena ketidakmampuannya mengambil jarak dari orang-orang dekatnya sendiri. Loyalitas berubah menjadi pembenaran. Persahabatan berubah menjadi perlindungan. Dan kekuasaan perlahan berubah menjadi benteng yang melindungi kesalahan.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement