Jumat 05 Jun 2026 09:47 WIB
Catatan Cak AT

Hantu Kurs Dolar

Jika rupiah adalah mata uang ekonomi, maka kepercayaan adalah mata uang politik.

Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika media-media asing seperti Al-Jazeera, Yahoo, France24 ikut memberitakan rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS, yang bangun sesungguhnya bukan hanya pasar. Ada hantu lama yang ikut terbangun: ingatan kolektif bangsa terhadap 1998.

Baca Juga

Di grup WhatsApp, di warung kopi, sampai di kolom komentar media sosial, hantu krisis moneter kembali dipanggil dari alam kuburnya. Seolah-olah angka Rp18.000, apalagi nanti Rp20.000, adalah lonceng yang otomatis membangunkan arwah Reformasi.

Logikanya sederhana, bahkan terlalu sederhana. Jika kejatuhan rupiah ikut menjatuhkan Soeharto pada 1998, maka kejatuhan rupiah hari ini pun diyakini sebagian orang dapat menyeret Prabowo-Gibran ke nasib yang sama. Kurs dolar pun menjelma menjadi hantu.

Masalahnya, sejarah bukan mesin fotokopi. Ia lebih mirip cucu yang mewarisi wajah kakeknya, tetapi tidak selalu mewarisi nasibnya.

Saya coba membuat tujuh atau delapan perbandingan antara kedua rezim dan era, sehingga saya dan moga-moga Anda mempunyai cermin yang lebih utuh.

Perbandingan pertama adalah soal kurs itu sendiri. Tahun 1998 rupiah bukan sekadar tergelincir. Ia seperti truk rem blong yang meluncur dari puncak gunung menuju jurang. Dari sekitar Rp2.500 per dolar, kurs menghantam Rp16.800.

Itu berarti kala itu dolar naik sekitar 572 persen. Setiap utang dolar berubah dari anak kucing menjadi harimau lapar yang menerkam pemiliknya sendiri.

Hari ini, dari kisaran Rp15.500 menuju Rp18.000, pelemahannya sekitar 16 persen. Sepuluh hari lalu, The Economist menyebut penurunan 11 persen. Jika suatu saat rupiah mencapai Rp20.000 per dolar, pelemahannya akan berada di kisaran 29 persen dibanding level Rp15.500.

Ini jelas buruk. Tetapi membandingkannya dengan 1998 sama seperti menyamakan hujan deras dengan tsunami.

Perbandingan kedua adalah cadangan devisa. Menjelang krisis 1998, Indonesia memasuki badai hanya dengan payung kecil yang hampir patah. Cadangan devisa ketika itu sekitar dua puluh miliar dolar. Hari ini payung itu telah berubah menjadi atap baja dengan cadangan devisa di atas seratus empat puluh miliar dolar. Hujan tetap bisa membasahi pakaian, tapi tidak otomatis menghanyutkan seluruh rumah.

Perbandingan ketiga adalah utang luar negeri swasta. Pada dekade 1990-an, banyak perusahaan Indonesia berpesta dengan pinjaman dolar. Musik terdengar merdu, lampu menyala terang, dan semua orang merasa kaya. Masalahnya, pesta itu dibayar dengan kartu kredit yang tagihannya baru datang saat dolar meledak.

Ketika kurs melonjak 572 persen, banyak perusahaan mendadak sadar bahwa mereka sedang berdansa di lantai yang ternyata rapuh. Hari ini risiko itu masih ada, tetapi aturan lindung nilai dan pengawasan jauh lebih ketat dibanding masa lalu.

Perbandingan keempat adalah kondisi perbankan. Pada 1998, banyak bank ibarat rumah kayu yang diam-diam sudah dimakan rayap selama bertahun-tahun. Dari luar tampak megah. Begitu badai datang, satu demi satu roboh seperti kartu domino. Hari ini sistem perbankan Indonesia jauh lebih tebal dindingnya. Belum tentu kebal terhadap badai, tetapi setidaknya tidak lagi terbuat dari papan lapuk.

Perbandingan kelima adalah pertumbuhan ekonomi. Tahun 1998 ekonomi Indonesia terjun hingga minus sekitar 13 persen. Itu bukan perlambatan. Itu pesawat yang kehilangan kedua mesinnya sekaligus. Hari ini ekonomi masih tumbuh positif. Memang ada turbulensi, tetapi pesawatnya masih terbang. Penumpang boleh cemas, tetapi belum saatnya berebut parasut.

Perbandingan keenam adalah dampaknya terhadap rakyat. Pada 1998, PHK menyapu berbagai sektor seperti kebakaran hutan di musim kemarau. Pabrik tutup, usaha gulung tikar, dan jutaan orang kehilangan sumber penghidupan. Hari ini tekanan ekonomi memang terasa, ada PHK pula, tetapi apinya belum menjalar menjadi kebakaran nasional yang menghanguskan seluruh kawasan.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement