Sabtu 25 Apr 2026 11:52 WIB
Catatan Cak AT

Tanpa Kubu Tetap

Bisakah sebuah bangsa tetap merdeka… sambil berteman dengan semua?

Tanpa Kubu Tetap. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Tanpa Kubu Tetap. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia pernah sederhana. Setidaknya tampak sederhana. Ada Timur, ada Barat. Ada Washington, ada Moskow.

Baca Juga

Bahkan setelah Perang Dingin usai, dunia masih mencoba berpura-pura rapi: satu kutub dominan, satu sistem keuangan, satu bahasa kekuasaan. Negara-negara lain tinggal memilih—ikut atau tersisih.

Tapi dunia 2026 tidak lagi mengenal kesederhanaan itu. Ia berubah menjadi pasar yang riuh — tempat semua orang bertransaksi, bernegosiasi, dan yang paling penting: menarik keuntungan.

Dan di tengah keramaian itu, Indonesia muncul bukan sebagai pembeli pasif, tapi sebagai pedagang yang tahu kapan harus menawar, kapan harus menahan, dan kapan harus pergi.

Inilah yang oleh banyak pemikir hubungan internasional disebut sebagai pergeseran dari alignment menuju strategic autonomy, bahkan lebih jauh lagi: multi-alignment, atau yang oleh sebagian analis disebut omni-enmeshment.

Samir Saran dari Observer Research Foundation menyebutnya sebagai era ketika negara tidak lagi terikat pada satu poros, melainkan membangun jejaring kepentingan ke segala arah.

Dunia tidak lagi seperti rel kereta yang memaksa kita memilih jalur. Ia lebih mirip persimpangan besar tanpa lampu lalu lintas — siapa cepat, dia dapat. Dan Indonesia adalah contoh hidup dari perubahan ini.

Apa yang dilakukan Jakarta — bermain di antara BRICS, Amerika Serikat, Rusia, dan kekuatan regional — bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari perubahan yang lebih besar.

Brazil di bawah Luiz Inácio Lula da Silva berbicara tentang dedolarisasi, tapi tetap menjaga hubungan erat dengan Barat. Arab Saudi membuka pintu bagi investasi China, sambil tetap berteduh di bawah payung keamanan Amerika. Vietnam mempererat hubungan strategis dengan Washington, tanpa memutus relasi ekonomi dengan Beijing.

Semua bergerak dalam satu pola yang sama: bukan memilih kubu, tapi memaksimalkan posisi.

Dalam literatur klasik, gagasan ini sebenarnya punya akar. Stephen Walt, pemikir realisme, memperkenalkan teori balance of threat (keseimbangan ancaman) — bahwa negara tidak sekadar menyeimbangkan kekuatan, tapi ancaman.

Namun hari ini skalanya berubah. Ancaman tidak lagi tunggal. Ia datang dari energi, teknologi, finansial, bahkan mata uang. Maka responsnya pun tidak cukup dengan satu aliansi. Ia membutuhkan banyak jalur sekaligus.

Di sinilah hedging berevolusi. Ia bukan lagi sekadar strategi berjaga-jaga, tapi berubah menjadi mekanisme aktif untuk mengekstraksi nilai dari setiap hubungan. Seolah-olah setiap negara kini membawa keranjang sendiri ke pasar global — bukan untuk membeli, tapi untuk berdagang.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement