Jumat 24 Apr 2026 12:30 WIB

Kedewasaan Berbangsa di Tengah Pusaran Disinformasi dalam Membaca Utuh Sosok Jusuf Kalla

Kesalahpahaman yang muncul lebih disebabkan oleh pemaknaan yang terpotong.

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla memberikan keterangan pers di kediamannya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Dalam konferensi pers tersebut, Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait dugaan penistaan agama atas potongan video saat dirinya berceramah di Masjid Kampus Universitas Gajah Mada (UGM) pada Kamis (5/3).
Foto: ANTARA FOTO/Rakha Raditya Yahya
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla memberikan keterangan pers di kediamannya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Dalam konferensi pers tersebut, Jusuf Kalla memberikan klarifikasi terkait dugaan penistaan agama atas potongan video saat dirinya berceramah di Masjid Kampus Universitas Gajah Mada (UGM) pada Kamis (5/3).

Oleh: M.T. Natalis Situmorang, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2006-2009 & 2009-2012

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik kita kembali diuji oleh riuhnya perdebatan yang bersumber dari sepotong informasi. Dinamika yang berkembang di tengah masyarakat terkait pernyataan Bapak Jusuf Kalla (JK) rupanya telah menimbulkan kesalahpahaman, khususnya dari sebagian saudara-saudara kita umat Nasrani.

Di era digital saat ini, di mana algoritma media sosial lebih menyukai polarisasi ketimbang klarifikasi, emosi massa sangat mudah tersulut oleh potongan video atau kutipan yang kehilangan konteks aslinya.

Sebagai bagian dari warga negara dan umat beragama, merespons situasi ini dengan reaktif dan penuh amarah bukanlah jalan keluar. Justru di sinilah kedewasaan kita dalam berdemokrasi dan beragama sedang diuji.

Membaca dengan saksama Pernyataan Sikap Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) yang dirilis pada 20 April 2026 di Republika, saya menemukan sebuah titik temu yang resonan dengan prinsip-prinsip yang selama ini dihidupi oleh Gereja Katolik. KAHMI secara tegas mengajak kita untuk menjaga persatuan, meluruskan kesalahpahaman, dan menguatkan ukhuwah kebangsaan. Prinsip ini selaras dengan panggilan kekatolikan kita di bumi Nusantara.

photo
Sejumlah umat Islam menunaikan Sholat Idulfitri 1447 Hijriah di kawasan Jatinegara, Jakarta, Sabtu (21/3/2026). Sholat Idulfitri 1 Syawal 1447 H tersebut dilaksanakan sesuai dengan ketetapan pemerintah pada Sabtu, 21 Maret 2026. Warga Muslim setempat melaksanakan salat di jalanan samping Gereja Koinonia yang didirikan pada 1889 dan menjadi simbol toleransi yang ikonik. - (Republika/Prayogi)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement