
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinihari tadi, televisi pemerintah Iran berbicara dengan nada datar, hampir seperti penyiar cuaca yang mengumumkan kemungkinan hujan ringan di sore hari. Tujuannya, untuk memberi kepastian kepada rakyat apa yang akan segera terjadi.
Namun yang diumumkan bukan hujan, melainkan waktu berakhirnya gencatan senjata. "Rabu pukul 00.00 GMT," kata sang penyiar. Jika dikonversi ke waktu kita, itu berarti pukul 07.00 WIB, saat sebagian orang baru saja menyesap kopi pertama.
Lalu datang versi lain dari Pakistan, tuan rumah diplomasi yang tampaknya lebih sibuk menjahit luka daripada merajut damai. Mereka menyebut pukul 23.50 GMT, atau 06.50 WIB. Selisih sepuluh menit.
Dalam kehidupan biasa, sepuluh menit hanya cukup untuk menunda bangun atau menambah satu episode serial. Tapi dalam geopolitik, sepuluh menit bisa berarti sepuluh tahun ketegangan, atau bahkan satu generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang perang.
Jam itu kini bukan lagi sekadar angka. Ia berubah menjadi semacam lonceng tak terlihat, yang bisa berbunyi kapan saja, menandai apakah dunia masih punya akal sehat atau sudah menyerah pada naluri destruksi.
Gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 7 April itu semula dijadwalkan berakhir pukul 20.00 waktu Washington, DC, pada Selasa malam. Itu setara dengan tengah malam GMT, pukul 03.30 di Teheran, dan pukul 05.00 di Islamabad pada Rabu.
Namun dalam pernyataan-pernyataan terbarunya, Trump memberi sinyal bahwa tenggat tersebut tidak lagi kaku, bahkan telah digeser mundur setidaknya satu hari, seolah waktu pun kini menjadi bagian dari strategi negosiasi, bukan sekadar penanda berakhirnya jeda perang.
Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan suara yang terdengar seperti doa yang diucapkan berulang-ulang tanpa kepastian dikabulkan, meminta agar gencatan ini diperpanjang. Namun di sisi lain, dari Washington, nada yang muncul lebih menyerupai ultimatum daripada ajakan.
Presiden AS menyatakan dengan terang bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, maka opsi militer akan kembali dibuka. Bukan sekadar dibuka, bahkan dipersiapkan dengan retorika yang nyaris teatrikal: penghancuran jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur vital Iran.
Seolah dunia ini adalah papan catur raksasa, dan pion-pionnya adalah kota-kota yang dihuni jutaan manusia.
Di Islamabad, pihak Pakistan mencoba memainkan peran sebagai tuan rumah yang sabar. Mereka menyiapkan meja perundingan, kursi-kursi diplomasi, dan secangkir teh yang mungkin akan dingin sebelum sempat diminum.
Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi, didampingi tokoh-tokoh lama dalam lingkaran kekuasaan seperti Jared Kushner.
Dari pihak Iran, harapan digantungkan pada figur seperti Mohammad Bagher Ghalibaf dan Abbas Araghchi, jika mereka benar-benar datang. Masalahnya, Iran mulai memberi sinyal: negosiasi di bawah ancaman blokade Selat Hormuz bukanlah negosiasi, melainkan undangan untuk menyerah.