Sabtu 18 Apr 2026 14:28 WIB
Catatan Cak AT

Nabung Jantung

Dan justru di situlah masalahnya: kita tahu, tetapi tidak bertindak.

Nabung Jantung. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Nabung Jantung. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolomnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah peradaban yang begitu bangga pada teknologi medisnya, manusia modern sesungguhnya sedang menyimpan satu ironi yang nyaris tragis: kita semakin pintar mengobati, tetapi tidak semakin serius mencegah.

Baca Juga

Itulah nada dasar yang diungkap Dr Sadiya S Khan, seorang kardiolog dan epidemiolog dari Northwestern University, dalam tulisannya terbaru di Time, yang terasa seperti laporan ilmiah sekaligus teguran moral.

Ia membuka dengan fakta yang tidak memberi ruang untuk berkelit: lebih dari 900 ribu orang Amerika meninggal karena penyakit kardiovaskular dalam satu tahun — jumlah yang melampaui gabungan kematian akibat kanker dan kecelakaan.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menyebut, di antara pasien jantung, kelompok usia 25–34 tahun berjumlah 140.206 orang, menduduki peringkat teratas. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia seperti alarm yang terus berbunyi, tapi kita memilih menekan tombol “snooze”.

Padahal, jika sejarah dijadikan saksi, seratus tahun terakhir adalah masa keemasan dunia kedokteran. Kita punya perangkat stent untuk membuka pembuluh darah, defibrillator untuk menghidupkan kembali jantung yang berhenti.

Kita juga punya obat-obatan yang mampu menurunkan kolesterol dan tekanan darah dengan presisi farmasi yang nyaris seperti sihir. Kita tahu pentingnya tidur, pola makan, olahraga. Kita tahu segalanya.

Dan justru di situlah masalahnya: kita tahu, tetapi tidak bertindak.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr Sadiya Khan pada 2025 menyajikan satu temuan yang nyaris memalukan: lebih dari 99% orang yang mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung, sudah memiliki setidaknya satu faktor risiko jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Ia menyebut contoh beberapa penyakit yang sudah ada pada diri kita, dan beresiko menyebabkan serangan jantung nanti. Misalnya hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, penyakit ginjal kronis, dan penggunaan tembakau alias merokok.

Dengan kata lain, penyakit jantung bukanlah bencana mendadak. Ia adalah undangan yang kita kirim sendiri, bertahun-tahun sebelumnya, dengan "memelihara" penyakit-penyakit yang beresiko tadi.

Di titik ini, narasi “tiba-tiba kena serangan jantung” menjadi seperti mitos yang nyaman. Kita pakai istilah ini untuk menghibur diri dari kenyataan bahwa tubuh sebenarnya sudah lama memberi sinyal, hanya saja kita tidak mau membaca.

Dan sains hari ini bahkan melangkah lebih jauh. Melalui Prevent equation —sebuah kalkulator risiko yang dikembangkan bersama American Heart Association— para ilmuwan kini mampu memperkirakan kemungkinan seseorang terkena penyakit jantung.

Ramalannya tak cuma untuk sekarang, tapi dalam rentang 10 hingga 30 tahun ke depan. Artinya, masa depan kesehatan kita bukan lagi misteri. Ia sudah menjadi semacam “ramalan ilmiah” yang bisa diakses, dihitung, bahkan diintervensi.

Anda dapat menggunakan Prevent equation sekarang juga secara online, dengan menyediakan data-data awal untuk diinput ke dalam aplikasi. Tetapi manusia, rupanya, tetap setia pada satu kebiasaan lama: menunda.

Bagi Anda yang suka ngotak-atik kode pemrograman, Anda dapat menginstall aplikasi dengan source code Prevent yang tersedia di repositori GitHub. Tersedia pula versi Python, dengan menjalankan perintah di console: pip install pyprevent.

Kembali ke masalah jantung: kita ini makhluk yang unik. Kita bisa merencanakan pensiun sejak usia 25, menghitung bunga majemuk, membeli asuransi berlapis-lapis. Tetapi untuk tubuh sendiri, kita berlaku seperti penyewa yang tahu kontraknya akan habis, tetapi tetap merusak rumah tanpa rencana perbaikan.

Lebih ironis lagi, faktor risiko utama penyakit jantung bekerja dengan cara yang nyaris “sopan”. Ia tidak berteriak.

Hipertensi tidak selalu membuat pusing. Kolesterol tinggi tidak selalu menimbulkan rasa sakit. Gula darah yang melonjak tidak selalu terasa dramatis oleh tubuh.

Semua berjalan pelan, rapi, diam — seperti rayap yang bekerja di balik dinding, sampai suatu hari rumah itu runtuh tanpa aba-aba. Lalu kita berkata: “Kok bisa?”

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement