Selasa 21 Apr 2026 12:07 WIB
Catatan Cak AT

Infus Muhammadiyah

Bahwa yang tampak sederhana sering kali menyimpan pertaruhan yang paling mendasar.

Infus Muhammadiyah. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Infus Muhammadiyah. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di ruang-ruang rumah sakit yang sunyi, di antara bunyi mesin yang berdetak seperti detak waktu yang dipinjamkan Tuhan, ada satu benda sederhana yang sering luput dari perhatian: botol bening berisi cairan yang menetes perlahan.

Baca Juga

Ia tampak remeh, tergantung di tiang besi, seolah hanya pelengkap dekorasi penderitaan. Padahal, di dalamnya mengalir kehidupan. Itulah infus.

Infus bukan sekadar air yang diberi label medis. Ia adalah larutan steril yang diracik dengan presisi: air murni, elektrolit seperti natrium dan kalium, kadang glukosa, bahkan obat-obatan tertentu.

Ia masuk langsung ke dalam pembuluh darah, melewati semua protokol tubuh yang biasanya ketat. Jika tubuh adalah negara berdaulat, maka infus adalah diplomat yang mendapat jalur khusus tanpa pemeriksaan imigrasi.

Mengapa ia begitu penting? Karena dalam kondisi tertentu, tubuh manusia seperti kota yang kehabisan logistik. Pasien dehidrasi, kehilangan darah, tidak mampu makan, atau sedang dalam kondisi kritis.

Dalam situasi seperti itu, infus bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ia memberi cairan, menjaga tekanan darah, menyalurkan nutrisi, bahkan menjadi jalur utama pemberian obat. Tanpa infus, banyak prosedur medis modern akan runtuh seperti bangunan tanpa fondasi.

Ironisnya, selama bertahun-tahun, kebutuhan vital ini sebagian besar masih bergantung pada produksi luar atau segelintir industri dalam negeri. Kita punya rumah sakit, punya dokter, punya pasien, tetapi untuk cairan kehidupan itu sendiri, kita masih sering menengadah ke luar. Sebuah ironi yang halus, tetapi dalam.

Di sinilah langkah Muhammadiyah menjadi menarik, sekaligus sedikit dramatis. Organisasi yang selama ini dikenal dengan amal usaha pendidikan dan kesehatan, tiba-tiba melompat ke hulu industri: membangun pabrik infus senilai Rp 800 miliar.

Angkanya tidak kecil. Ini bukan sekadar proyek, ini deklarasi diam-diam: bahwa pelayanan tidak cukup tanpa kemandirian.

Bayangkan, sebuah jaringan dengan lebih dari seratus rumah sakit, selama ini membeli infus dari luar, kini mulai memproduksi sendiri hingga puluhan juta botol per tahun.

Ini seperti pesantren yang tidak lagi hanya mengajarkan kitab, tetapi juga mencetak kertasnya, meracik tintanya, bahkan membuat pulp kayunya. Sebuah integrasi yang dalam istilah ekonomi disebut vertikal, tetapi dalam bahasa awam disebut: tidak mau lagi bergantung.

Tentu saja, manfaat pertama dan paling nyata jatuh ke tangan Muhammadiyah sendiri. Biaya bisa ditekan, pasokan lebih terjamin, kualitas lebih terkendali. Dalam dunia kesehatan yang sering terguncang oleh kelangkaan dan fluktuasi harga, ini adalah bentuk ketenangan yang mahal.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement