
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tubuh manusia sesungguhnya memiliki satu kebiasaan yang sangat bertolak belakang dengan manusia modern: ia senang bersih. Ia tidak nyaman menumpuk barang rusak. Ia tidak betah menyimpan sisa-sisa lama.
Jika dibiarkan bekerja sebagaimana mestinya, tubuh justru rajin berbenah—membersihkan dirinya sendiri secara berkala, diam-diam, tanpa keluhan. Proses itu bernama autofagi.
Dalam bahasa Yunani, maknanya terdengar agak menyeramkan: memakan diri sendiri. Namun jangan buru-buru membayangkan tubuh sedang nekat. Yang dimakan bukan yang sehat, melainkan yang sudah aus.
Protein tua, organel bocor, sel yang tidak lagi efisien — semuanya dibongkar, dipilah, lalu didaur ulang menjadi energi baru. Autofagi adalah petugas kebersihan sel yang bekerja ketika manusia berhenti makan dan dunia mulai melambat.
Masalahnya, manusia modern hampir tidak pernah memberi malam untuk beristirahat bagi tubuhnya. Kita makan pagi, ngemil siang, kopi sore, kudapan malam, lalu tidur sambil sistem pencernaan masih lembur.
Akibatnya, tubuh tidak pernah mendapat kesempatan membersihkan diri. Autofagi tidak sempat turun ke lapangan. Sampah biologis menumpuk perlahan. Inflamasi naik pelan-pelan. Penuaan berjalan seperti kota tanpa dinas kebersihan: tampak hidup, tapi baunya tak bisa disembunyikan.
Dr. Yoshinori Ohsumi, peraih Hadiah Nobel 2016, menemukan mekanisme ini melalui eksperimen sederhana namun jenius. Ia membuat sel ragi kelaparan — bukan disiksa, hanya tidak diberi makan. Lalu ia memodifikasi gen tertentu agar proses pencernaan internal terganggu.
Beberapa jam kemudian, di bawah mikroskop, tampak kantong-kantong kecil menumpuk di dalam sel. Autofagosom. Di situlah dunia sains tersentak: sel ternyata memiliki sistem daur ulang yang rapi, terprogram, dan sangat menentukan umur panjang.
Autofagi bukan reaksi panik. Ia strategi bertahan hidup. Saat makanan berhenti masuk, tubuh tidak ketakutan. Ia justru berpikir lebih jernih. Ia mematikan mode pertumbuhan dan menyalakan mode perawatan.
Saat itu, energi yang tersedia di tubuh dialihkan dari membangun ke memperbaiki. Dari menambah ke membersihkan. Inilah fase ketika gen-gen ketahanan hidup aktif dan sel menjadi jauh lebih tahan terhadap stres serta kerusakan.
Ilmu kedokteran modern kemudian menemukan bahwa terganggunya autofagi berkaitan dengan hampir seluruh penyakit degeneratif: Alzheimer, Parkinson, kanker, diabetes, hingga penyakit jantung.
Itu terjadi bukan karena autofagi adalah obat segalanya, tetapi karena tanpa pembersihan rutin, tubuh menua dalam kondisi kotor. Menariknya, autofagi tidak bisa dibeli. Dan tidak ada yang jual.
Tidak ada kapsulnya. Tidak ada suntikannya. Tidak ada diskon bundling-nya. Satu-satunya cara mengaktifkan autofagi hanya dengan tubuh diberi jeda dari kerja. Misalnya dengan berpuasa selama 14 hingga 16 jam, yang terbukti cukup untuk memulai proses ini, karena hati memerlukan waktu menghabiskan cadangan glikogen sebelum sel beralih ke mode pembersihan.