Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Kalau suatu hari Anda berjalan-jalan di sebuah kota, lalu menemukan toko buku yang seluruh isinya hanya novel roman, mungkin Anda akan tersenyum. "Apa ada yang mau membeli?" pikir Anda. Bukankah toko buku biasanya menjual segala macam buku, dari agama sampai akuntansi, dari buku anak sampai filsafat?
Namun di Oxford, Inggris, awal Juli lalu, sebuah toko bernama Bad Girl Books justru dibuka dengan konsep yang sebaliknya: hanya menjual romantasi — istilah yang saya Indonesiakan dari romantasy, gabungan romance (roman) dan fantasy (fantasi). Anehnya, sebelum pintu dibuka, ratusan orang sudah mengantre berjam-jam.
Mereka datang sejak subuh, bahkan ada yang membawa koper kosong untuk diisi buku. Peristiwa itu menarik bukan karena nama tokonya yang nyentrik, melainkan karena ia memperlihatkan satu kenyataan: orang ternyata tidak hanya membeli buku. Mereka membeli pengalaman, imajinasi, dan rasa memiliki terhadap sebuah komunitas.
Nama tokonya sendiri mengundang senyum. Mengapa harus Bad Girl Books? Apakah semua pembacanya perempuan "nakal"? Tentu tidak. Dalam budaya populer Barat, istilah bad girl lebih sering dipakai untuk menggambarkan perempuan yang berani melanggar pakem, mandiri, keras kepala, atau tidak mau tunduk pada stereotip.
Di rak-rak toko buku memang bertebaran judul dengan frasa Bad Girl, mulai dari novel, memoar, hingga buku pengembangan diri. Barangkali para pendirinya sadar, "Bad Girl Books" lebih mudah diingat dari "Good Girl Books". Lagi pula, dalam dunia pemasaran, nama yang sedikit usil sering kali lebih cepat mencuri perhatian.
Di era ketika banyak orang meramalkan toko buku fisik akan mati digilas dunia digital, justru muncul toko yang hidup karena keberanian memilih ceruk yang sangat sempit. Mereka tidak menjual semua hal kepada semua orang. Mereka menjual sesuatu yang sangat spesifik kepada orang-orang yang benar-benar mencintainya.
Mungkin di Indonesia belum ada toko buku yang mengkhususkan diri hanya pada satu genre seperti itu. Namun bukan berarti budaya membaca berdasarkan genre asing bagi kita.
Sejak lama kita mengenal rak "roman", "cerita silat", "detektif", "horor", atau "novel remaja". Generasi yang tumbuh pada dekade 1970-an hingga 1990-an tentu masih ingat bagaimana nama-nama seperti Marga T., Mira W., atau Kho Ping Hoo memiliki pembaca fanatik yang rela menunggu buku berikutnya terbit.
Kata "roman" sendiri sebenarnya bukan istilah baru dalam khazanah sastra Indonesia. Ia telah lama menjadi bagian dari sejarah penerbitan kita. Bahkan salah satu roman terbesar dalam sastra Indonesia adalah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, karya Buya HAMKA yang bukan sekadar sastrawan, tapi ulama besar dan mufasir Al-Qur'an.
Di tangan HAMKA, roman tidak pernah menjadi pelarian dari kenyataan. Ia justru menjadi jendela untuk melihat kenyataan dengan lebih jernih. Kisah cinta Zainuddin dan Hayati bukan sekadar cerita dua insan yang gagal bersatu.
Di baliknya ada kritik terhadap adat yang membelenggu, perenungan tentang martabat manusia, serta pergulatan antara cinta, agama, dan keadilan sosial. Pembaca memang datang karena kisah cintanya, tetapi pulang membawa pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar "siapa akhirnya menikah dengan siapa".
Tradisi roman di Indonesia sendiri sesungguhnya jauh lebih berwarna daripada yang sering dibayangkan. Ada roman religius yang memadukan cinta dengan pergulatan iman, sebagaimana ditulis Buya HAMKA. Ada roman populer yang ringan dan akrab dengan kehidupan sehari-hari melalui karya-karya Marga T. dan Mira W.
Ada pula roman sejarah, roman remaja, roman psikologis, hingga roman yang secara terbuka mengeksplorasi seksualitas. Di wilayah terakhir ini, publik mengenal nama Enny Arrow yang melegenda melalui novel-novel stensilan berisi erotika vulgar yang beredar luas pada dekade 1980-an dan 1990-an.
Setelah itu muncul pendekatan yang berbeda dari Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Melalui karya seperti Mereka Bilang, Saya Monyet! dan Saman, seksualitas tidak lagi sekadar menjadi sensasi, melainkan perangkat sastra untuk membicarakan tubuh, kebebasan, relasi kuasa, dan pengalaman perempuan.
Sementara itu, Moammar Emka lewat Jakarta Undercover membawa pembaca memasuki sisi gelap kehidupan malam Jakarta melalui perpaduan reportase dan narasi.
Ragam itu menunjukkan bahwa "roman" bukanlah satu warna. Ia adalah payung besar yang menaungi karya-karya dengan tujuan, gaya, dan kedalaman yang sangat berbeda — mulai dari yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan, sekadar hiburan, hingga yang sengaja mengguncang batas-batas moral dan sosial.
Di sinilah letak perdebatan yang mengiringi lahirnya toko seperti Bad Girl Books. Sebagian orang buru-buru menyimpulkan bahwa romantasy tidak lebih dari "fairy smut", yakni pornografi yang dibungkus kerajaan peri, naga, dan sihir. Anggapan itu tidak sepenuhnya lahir dari ruang kosong.
Dalam dunia penerbitan Barat memang dikenal pembedaan antara romance, yang berfokus pada hubungan cinta; spicy romance, yang memuat adegan seksual secara cukup terbuka; dan smut, ketika adegan seksual eksplisit menjadi salah satu elemen utama cerita. Tidak sedikit novel romantasy yang masuk kategori terakhir, sehingga kritik terhadap genre ini pun dapat dipahami.
Namun, menyamakan seluruh romantasy dengan smut juga merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Para pembacanya justru menilai daya tarik utama genre ini terletak pada kemampuan penulis membangun dunia-dunia imajiner (world-building), menciptakan konflik antarkarakter, menghadirkan petualangan, serta merangkai kisah cinta yang menjadi penggerak emosi pembaca.
Unsur erotis, bagi banyak penggemarnya, hanyalah salah satu komponen dengan kadar yang berbeda-beda pada setiap novel. Ada yang nyaris tidak ada, ada yang sekadar bumbu, dan ada pula yang memang menjadi menu utama.
Karena itu, Bad Girl Books tidak tepat dipahami sebagai toko porno yang menyamar menjadi toko buku. Ia adalah toko buku yang memilih satu ceruk pasar yang sangat spesifik: romantasy, sebuah genre yang spektrumnya sangat luas, dari karya yang relatif bersih hingga yang sangat eksplisit.
Yang sesungguhnya mereka bangun bukan sekadar rak-rak berisi novel, melainkan sebuah komunitas pembaca yang sebelumnya hanya saling bertemu di BookTok, Instagram, dan Reddit. Dalam pengertian itu, toko tersebut bukan hanya peristiwa bisnis, tetapi juga sebuah gejala budaya: bukti bahwa di zaman media sosial, orang tetap bersedia mengantre berjam-jam demi bertemu sesama pencinta buku.