Kamis 03 Sep 2026 10:37 WIB

Menjaga Air: Ketika Tempat Ibadah Menjadi Ruang Edukasi

Indonesia memiliki kehidupan keagamaan yang kuat.

 Warga sedang mengambil air wudhu saat akan menjalankan shalat di masjid Sunda Kelapa, Jakarta.
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Warga sedang mengambil air wudhu saat akan menjalankan shalat di masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Oleh: Hendarman, Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor.

REPUBLIKA.CO.ID, Persoalan air sesungguhnya bukan hanya persoalan ketersediaan sumber daya. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu perilaku manusia dalam menggunakan air. Karena itu, menghadapi ancaman kekeringan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur penyediaan air, membuat sumur, memperluas jaringan perpipaan, atau mendistribusikan air ketika terjadi krisis. Masyarakat juga perlu dibekali pengetahuan dan kebiasaan bagaimana menggunakan air secara bijaksana.

Di sinilah edukasi publik mempunyai peran penting. Selama ini, kampanye hemat air lebih sering disampaikan melalui media massa, media sosial, sekolah, lingkungan kerja, atau program pemerintah. Semua saluran tersebut tentu penting. Namun, ada satu ruang sosial yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dan berpotensi menjadi bagian penting dari gerakan konservasi air, yaitu tempat ibadah.

Indonesia memiliki kehidupan keagamaan yang kuat. Masjid, musala, gereja, pura, vihara, dan tempat ibadah lainnya tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan. Tempat-tempat tersebut juga merupakan ruang perjumpaan sosial, pendidikan nilai, pembentukan karakter, dan penguatan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Potensi tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan lebih optimal.

Air dan Persoalan Perilaku

Ketika berbicara mengenai kekurangan air, perhatian sering tertuju pada faktor alam. Itu meliputi kemarau panjang, perubahan iklim, berkurangnya curah hujan, kerusakan daerah aliran sungai, atau menurunnya cadangan air tanah. Faktor-faktor tersebut memang penting.

Namun, yang tidak kalah menentukan, yaitu bagaimana manusia memperlakukan air. Fenomena yang sering ditemui adalah air yang mengalir dari keran tanpa digunakan, kebocoran yang dibiarkan, penggunaan air secara berlebihan untuk membersihkan halaman, kendaraan, maupun fasilitas umum. Semua itu merupakan contoh kecil dari perilaku yang apabila dilakukan secara terus-menerus dapat menjadi persoalan besar.

Masalahnya, sebagian masyarakat mungkin belum memperoleh edukasi yang sederhana dan praktis mengenai apa yang sebaiknya dilakukan ketika air tersedia melimpah dan apa yang perlu dilakukan ketika memasuki musim kering. Masyarakat sering diajak untuk “hemat air”. Namun, pesan tersebut terkadang berhenti sebagai slogan.

Masyarakat belum selalu mendapatkan contoh konkret. Contoh tersebut antara lain berapa banyak air yang sebenarnya dibutuhkan, kapan keran perlu ditutup, bagaimana memanfaatkan kembali air yang masih layak, dan bagaimana membangun kebiasaan hemat air dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangannya bukan semata-mata kurangnya kepedulian masyarakat, tetapi juga belum optimalnya proses edukasi yang mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan.

Tempat Ibadah sebagai Ruang Edukasi

Tempat ibadah memiliki keunggulan yang mungkin tidak dimiliki oleh semua saluran komunikasi publik. Pesan yang disampaikan di dalamnya dapat menyentuh aspek pengetahuan sekaligus nilai dan perilaku.

Dalam konteks umat Islam, misalnya, wudhu merupakan bagian penting dalam persiapan ibadah. Namun, berwudhu tidak berarti menggunakan air secara berlebihan. Ajaran Islam justru memberikan teladan untuk menggunakan air secara secukupnya dan menghindari sikap berlebih-lebihan. Pesan tersebut sangat relevan dengan tantangan lingkungan saat ini.

“Kesucian dalam beribadah tidak harus diwujudkan dengan penggunaan air secara berlebihan”. Pesan yang sama secara substansi juga dapat dikembangkan dalam konteks agama dan tradisi keagamaan lainnya sesuai dengan nilai masing-masing. Intinya adalah membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dan sumber daya alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia.

Karena itu, pesan konservasi air dapat disampaikan melalui khutbah, ceramah, pengajian, sekolah minggu, pendidikan keagamaan, kegiatan umat, pertemuan komunitas, maupun berbagai forum keagamaan lainnya. Pesannya tidak perlu rumit.

Misalnya “Gunakan air secukupnya. Tutup keran setelah digunakan.” Atau “Air adalah anugerah. Mari gunakan dengan bijaksana.”

Pesan sederhana tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, apabila disampaikan secara konsisten dan dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya dapat menjadi besar.

Bayangkan jika ribuan tempat ibadah di berbagai daerah secara bersamaan menjadi pusat edukasi hemat air. Pesan tersebut tidak hanya didengar sekali, tetapi berulang kali. Anak-anak mendengarnya dari guru, orang tua menerapkannya di rumah, tokoh agama menyampaikannya dalam ceramah, dan pengelola tempat ibadah memberikan contoh melalui pengelolaan fasilitas.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi