Sabtu 06 Jun 2026 17:05 WIB

Menenangkan Kurs Rupiah

Masuknya noise traders tingkatkan risiko volatilitas kurs, sekaligus membagi risiko.

Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.

Oleh: Pakar Ekonomi Syariah, Adiwarman A. Karim 

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam artikel “Mismatch Kurs Dolar” telah dijelaskan adanya faktor voice dan noise dalam volatilitas kurs dolar. Faktor voice merefleksikan fundamental ekonomi, sedangan faktor noise menggambarkan kegalauan pasar. Pelemahan kurs rupiah saat ini tidak menggambarkan fundamental ekonomi karena besarnya faktor noise.

Hal penting pertama, semakin besar kegalauan pasar semakin banyak pelaku transaksi noise yang terlibat. Mereka dikenal sebagai noise traders. Jeanne dan Rose, peneliti National Bureau of Economic Research (NBER), dalam kajian mereka “Noise Trading and Exchange Rate Regimes” menjelaskan kehadiran noise traders dapat menciptakan lebih dari satu keseimbangan (multiple equilibria) dalam pasar valuta asing.

Baca Juga

Masuknya noise traders meningkatkan risiko volatilitas kurs, sekaligus membagi risikonya. Hal penting kedua, banyaknya noise traders menimbulkan diskoneksi antara fundamental ekonomi dan kurs rupiah.

Devereux dan Engel, peneliti NBER, dalam kajian mereka “Exchange Rate Pass-Though, Exchange Rate Volatility, and Exchange Rate Disconnect” menjelaskan faktor yang menyebabkan pergerakan kurs tidak menggambarkan fundamental ekonomi suatu negara. Pertama, pasar keuangan internasional yang tidak lengkap (incomplete).

Kedua, struktur harga internasional dan distribusi produk yang menihilkan atau paling tidak meminimalkan wealth effect dari pergerakan kurs. Ketiga, adanya deviasi stokastik dari uncovered interest rate parity (UIP). Wealth effect yang minimal antara lain berupa minimnya hasil devisa ekspor yang tidak kembali ke Indonesia.

photo
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan COO Danantara Dony Oskaria (dari kiri) saat memberikan keterangan terkait Persiapan Operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta, Ahad (31/5/2026). Pemerintah mulai memberlakukan ekspor tiga komoditas strategis yaitu batu bara, kelapa sawit, dan ferro alloy dalam satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) mulai Senin, 1 Juni 2026 untuk memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor nasional. - (Republika/Prayogi)

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement