
Oleh: Pakar Ekonomi Syariah, Adiwarman A. Karim
REPUBLIKA.CO.ID, Dalam artikel “Mismatch Kurs Dolar” telah dijelaskan adanya faktor voice dan noise dalam volatilitas kurs dolar. Faktor voice merefleksikan fundamental ekonomi, sedangan faktor noise menggambarkan kegalauan pasar. Pelemahan kurs rupiah saat ini tidak menggambarkan fundamental ekonomi karena besarnya faktor noise.
Hal penting pertama, semakin besar kegalauan pasar semakin banyak pelaku transaksi noise yang terlibat. Mereka dikenal sebagai noise traders. Jeanne dan Rose, peneliti National Bureau of Economic Research (NBER), dalam kajian mereka “Noise Trading and Exchange Rate Regimes” menjelaskan kehadiran noise traders dapat menciptakan lebih dari satu keseimbangan (multiple equilibria) dalam pasar valuta asing.
Masuknya noise traders meningkatkan risiko volatilitas kurs, sekaligus membagi risikonya. Hal penting kedua, banyaknya noise traders menimbulkan diskoneksi antara fundamental ekonomi dan kurs rupiah.
Devereux dan Engel, peneliti NBER, dalam kajian mereka “Exchange Rate Pass-Though, Exchange Rate Volatility, and Exchange Rate Disconnect” menjelaskan faktor yang menyebabkan pergerakan kurs tidak menggambarkan fundamental ekonomi suatu negara. Pertama, pasar keuangan internasional yang tidak lengkap (incomplete).
Kedua, struktur harga internasional dan distribusi produk yang menihilkan atau paling tidak meminimalkan wealth effect dari pergerakan kurs. Ketiga, adanya deviasi stokastik dari uncovered interest rate parity (UIP). Wealth effect yang minimal antara lain berupa minimnya hasil devisa ekspor yang tidak kembali ke Indonesia.