Rabu 03 Jun 2026 18:38 WIB

Ekonomi Syariah, dari Peringkat ke Dampak

Indonesia adalah pemain ekonomi syariah global tapi kekuatannya belum merata.

 Penjaga stan menata produk fesyen halal yang dipamerkan pada Jogja Halal Fest (JHF) di Jogja Expo Centre, DI Yogyakarta. (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko
Penjaga stan menata produk fesyen halal yang dipamerkan pada Jogja Halal Fest (JHF) di Jogja Expo Centre, DI Yogyakarta. (ilustrasi)

Oleh: Jaharuddin, Ekonom Universitas Muhammadiyah Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Ekonomi syariah Indonesia sedang berada pada titik penting. Data State of the Global Islamic Economy Report atau SGIE 2025/26 menunjukkan bahwa ekonomi Islam global telah menjadi kekuatan besar.

Belanja Muslim global pada enam sektor ekonomi riil mencapai 2,60 triliun dolar AS pada 2024 dan diproyeksikan naik menjadi 3,56 triliun dolar AS pada 2029. Aset keuangan syariah global juga diperkirakan bergerak dari 5,99 triliun dolar AS pada 2024 menuju 9,72 triliundolar AS pada 2029. Ini bukan angka kecil. Ini adalah peta perubahan ekonomi dunia.

Namun, bagi Indonesia, angka besar itu tidak boleh hanya menjadi bahan kebanggaan. Pertanyaan paling penting bukan sekadar berapa besar pasar halal global, atau di peringkat berapa Indonesia berada.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah, apa dampak ekonomi syariah bagi kehidupan masyarakat? Apakah petani mendapatkan harga yang lebih baik? Apakah UMKM lebih mudah memperoleh pembiayaan? Apakah sertifikasi halal membuka pasar ekspor? Apakah industri halal menciptakan pekerjaan layak? Apakah keuangan syariah benar-benar menggerakkan sektor produktif?

SGIE 2025/26 menempatkan Indonesia pada peringkat keempat dalam Global Islamic Economy Indicator, setelah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Indonesia bahkan menjadi nomor satu dalam modest fashion, masuk tiga besar pada halal food dan media & recreation, serta berada di posisi keempat pada halal cosmetics dan halal pharmaceuticals. Tetapi Indonesia belum masuk lima besar pada Islamic finance dan Muslim-friendly travel.

Data ini menunjukkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, Indonesia adalah pemain utama ekonomi syariah global. Di sisi lain, kekuatannya belum merata. Indonesia kuat pada sektor konsumsi, gaya hidup, makanan halal, fesyen Muslim, kosmetik, farmasi, dan konten kreatif. Namun, mesin penggeraknya, terutama pembiayaan syariah, ekspor, logistik, inovasi, pariwisata ramah Muslim, dan integrasi rantai pasok, masih harus diperkuat.

Inilah kritik utama yang perlu disampaikan secara jujur. Indonesia tidak boleh puas menjadi pasar besar. Negara dengan penduduk Muslim besar memang memiliki daya konsumsi besar.

Namun, ekonomi syariah yang sehat tidak boleh berhenti sebagai ekonomi konsumen. Ia harus naik kelas menjadi ekonomi produksi, ekonomi inovasi, dan ekonomi kesejahteraan.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement