Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Venesia itu kota yang seperti menolak tunduk pada logika. Kota di Italia Utara itu berdiri di atas air, diikat oleh kanal-kanal, gondola, dan bangunan tua yang tampak seperti museum raksasa yang lupa ditutup sejak abad pertengahan.
Dari Jakarta ke Venesia, jaraknya sekitar sebelas ribu kilometer lebih. Kalau naik pesawat, transit sana-sini, bisa lebih lama daripada rapat DPR membahas nasib rakyat kecil.
Dan ironisnya, ketika orang Indonesia sampai di Venesia, mereka justru akan melihat bagaimana bangsa lain memamerkan masa depan, sementara kita sibuk membawa nostalgia masa lalu.
Di kota air itulah digelar Venice Biennale ke-61, salah satu festival seni paling bergengsi di dunia, yang sering disebut “Olimpiade Seni Rupa”. Sebuah pesta besar seni kontemporer internasional yang tahun ini diikuti 99 negara, berlangsung Mei hingga 22 November.
Venice Biennale adalah pameran seni rupa internasional dua tahunan. Sering dijuluki sebagai "Olimpiade dunia seni", partisipasi dalam Biennale merupakan peristiwa prestisius bagi para seniman kontemporer. Indonesia pun hadir di sana setelah absen selama enam tahun.
Paviliun Indonesia menampilkan pameran bertajuk "Printing the Unprinted", yang menampilkan karya dari tujuh seniman dengan narasi epos pelayaran dan pembacaan alternatif atas manuskrip.
Festival ini telah menjadi gugusan berbagai pertunjukan: pameran pusat yang dikuratori oleh direktur artistik tahun tersebut, paviliun nasional yang diselenggarakan oleh masing-masing negara, serta pameran independen di seluruh penjuru Venesia.
Organisasi induk Biennale juga menyelenggarakan festival rutin untuk bidang seni lainnya: arsitektur, tari, film, musik, dan teater. Di luar pameran internasional utama, negara-negara peserta memproduksi pertunjukan mereka sendiri, yang dikenal sebagai paviliun, sebagai representasi nasional mereka.
Negara-negara yang memiliki gedung paviliun sendiri, seperti 30 gedung yang terletak di Giardini, bertanggung jawab atas biaya pemeliharaan dan konstruksi mereka sendiri. Sementara itu, negara-negara tanpa gedung khusus membangun paviliun di Venice Arsenale dan bangunan-bangunan istana (palazzo) di seluruh kota.
Bayangkan saja seperti Pekan Raya Jakarta, TIM Cikini, ArtJog, festival film, teater, konser, pameran, demonstrasi politik, debat ideologi, dan perang opini global, semuanya dilempar ke dalam satu kota terapung bernama Venesia.
Bedanya, di sini para seniman bukan sekadar memajang karya. Mereka membawa identitas bangsa, luka sejarah, bahkan dendam geopolitik.
Tema utama Biennale tahun ini adalah In Minor Keys, gagasan kuratorial dari Koyo Kouoh, kurator asal Afrika yang wafat sebelum festival dibuka.
Tema itu seperti bisikan piano di tengah perang tank: lembut, minor, tetapi menyimpan kesedihan global. Dan memang, Biennale tahun ini lebih mirip ruang sidang dunia daripada sekadar pameran seni.
Demonstrasi meledak di mana-mana sejak sebelum acara akbar dibuka. Paviliun Israel diprotes. Paviliun Rusia dipersoalkan. Amerika Serikat dicibir karena politik luar negerinya dianggap haus perang.
Para juri bahkan mundur massal karena menolak memberi penghargaan kepada negara-negara yang pemimpinnya dituduh terlibat kejahatan perang oleh Mahkamah Pidana Internasional. Terutama Israel, yang presidennya Benjamin Netanyahu divonis sebagai penjahat perang.
Ini bukan lagi sekadar soal lukisan atau instalasi seni. Biennale berubah menjadi teater politik global dengan latar bangunan klasik Italia. Biennale kali ini mencatat sejarahnya sendiri, lain dari saat dimulainya pada 1895.