Senin 06 Apr 2026 11:07 WIB
Catatan Cak AT

Judul Terlalu Berteriak

Ruang publik bukan sekadar tempat menempel pesan, punya sensitifitas kolektif.

Judul Terlalu Berteriak. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Judul Terlalu Berteriak. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di sudut-sudut kota yang sibuk, di antara lampu merah dan klakson yang tak pernah sepakat berdamai, berdirilah billboard-billboard raksasa dengan kalimat pendek namun menusuk: “Aku harus mati.”

Baca Juga

Ia tidak berbisik, tidak juga berdialog. Ia berteriak. Merah menyala, mata mencorong, seperti ingin memastikan siapa pun yang lewat tak punya pilihan selain menatapnya, walau hanya sepersekian detik yang terasa seperti jeda panjang dalam hidup.

Sejatinya “Aku Harus Mati” itu judul film horor yang diiklankan di billboard. Masalahnya, jalanan bukan bioskop. Ia tidak punya tiket masuk, tidak mengenal klasifikasi usia, dan tidak memberi peringatan “penonton diharapkan bijak.”

Di jalan, anak kecil, orang tua, pekerja lelah, hingga jiwa-jiwa yang sedang rapuh, semua menjadi audiens tanpa diminta.

Kalimat itu, yang di ruang tertutup mungkin sekadar judul film, berubah menjadi pesan liar di ruang terbuka. Ia seperti kalimat yang kehilangan konteks, tapi tetap membawa beban makna.

Bayangkan. Di tengah ritme kota besar yang keras, di mana tekanan hidup sering datang bertubi-tubi tanpa jeda, kalimat seperti “Aku harus mati” bukan lagi sekadar judul, melainkan bisa menjadi gema, bahkan ajakan, yang berbahaya bagi jiwa-jiwa yang sedang rapuh.

Bagi mereka yang bergulat dengan kecemasan, depresi, atau kelelahan eksistensial, pesan seperti itu dapat terasa seperti legitimasi sunyi atas bisikan paling gelap dalam diri. Iklan itu bisa berbisik, "Aku harus mati."

Ruang publik yang seharusnya netral berubah menjadi cermin yang memantulkan keputusasaan, bukan harapan.

Dan di kota yang tak pernah benar-benar berhenti, di mana banyak orang berjuang diam-diam tanpa terlihat, satu kalimat yang salah tempat bisa menjadi pemantik yang tak kita duga. Bukan karena niatnya jahat, tetapi karena ia hadir tanpa empati pada mereka yang sedang berusaha bertahan.

Di sinilah etika mulai diuji. Industri kreatif, dalam semangatnya mengejar perhatian, sering kali lupa bahwa perhatian itu bukan ruang kosong.

Ia adalah ruang sosial yang diisi manusia dengan latar psikologis berbeda. Judul yang “menggigit” di ruang kurasi bisa berubah menjadi “menggigit balik” di ruang publik.

Kreativitas yang tidak diberi pagar etika ibarat kembang api di dalam rumah — indah, tapi berisiko membakar.

Di sisi lain, polemik ini juga membuka celah pada tata kelola regulasi.

Ketika lembaga seperti Lembaga Sensor Film telah meloloskan materi berdasarkan prosedur dan klasifikasi yang berlaku, ternyata masih ada ruang abu-abu antara apa yang sah secara administratif dan apa yang pantas secara sosial.

Persetujuan yang diberikan dalam konteks pemutaran di bioskop — yang memiliki batas usia dan ruang terkontrol — tidak otomatis relevan ketika materi yang sama dipindahkan ke ruang publik yang terbuka untuk semua kalangan.

Di sinilah diperlukan penyelarasan lintas otoritas, agar standar etik tidak berhenti pada meja sensor, tetapi juga menjangkau cara, tempat, dan dampak penyajian pesan di tengah masyarakat luas.

Menariknya, ini bukan kejadian pertama. Kita pernah menyaksikan bagaimana sebuah iklan layanan yang seharusnya edukatif justru tergelincir menjadi ironi.

Ajakan untuk waspada terhadap penipuan zakat via telepon seluler, misalnya, dikemas dengan kalimat yang justru terasa seperti meremehkan praktik ibadah itu sendiri.

Maksudnya mungkin baik — mencegah penipuan — namun cara menyampaikannya seperti menegur dengan nada sinis di tengah khutbah. Publik pun bereaksi, dan akhirnya iklan itu ditarik. Lagi-lagi, bukan niat yang dipersoalkan, tapi cara.

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement