Sabtu 11 Jul 2026 08:41 WIB

Mengapa Orang Baik Memilih Diam?

Neurosains (ilmu otak dan perilaku) memberikan penjelasan yang menarik.

Neurosains. (ILUSTRASI)
Foto: republika.co.id
Neurosains. (ILUSTRASI)

Oleh: Taufiq Fredrik Pasiak, Ilmuwan Otak dan Perilaku

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap hari kita menyaksikan pemandangan yang menarik. Banyak orang dengan ringan hati melakukan kebaikan: membantu tetangga, menyumbang korban bencana, menghibur teman yang sedang berduka, atau sekadar tersenyum kepada orang yang tidak dikenal. Namun, ketika di hadapan mereka terjadi ketidakadilan, perundungan, korupsi, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan, jumlah orang yang bersedia bersuara tiba-tiba menyusut drastis. Sebagian memilih diam. Sebagian lagi berpura-pura tidak melihat. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya sangat kompleks: mengapa berbuat baik jauh lebih mudah daripada melawan kejahatan?

Neurosains (ilmu otak dan perilaku) memberikan penjelasan yang menarik. Otak manusia bukanlah organ yang pertama-tama dirancang untuk menjadi pejuang dan pahlawan moral. Selama jutaan tahun evolusi, tugas utama otak adalah mempertahankan kehidupan. Karena itu, sistem saraf kita berkembang menjadi mesin pendeteksi ancaman yang sangat sensitif. Sedikit saja muncul kemungkinan bahaya, katakanlah seperti ditolak kelompok, kehilangan status, dimusuhi orang lain, atau menghadapi konflik, maka secepat kilat otak segera mengaktifkan sistem kewaspadaan. Respons ini berlangsung sangat cepat, bahkan sering kali lebih cepat daripada proses berpikir rasional. Dalam bahasa neurosains, jalur ancaman langsung menuju ke area otak bernama amygdala yang emosional. Tidak melalui korteks otak yang rasional.

Itulah sebabnya mengapa keberanian bukanlah kondisi alami otak. Keberanian justru muncul ketika bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif mampu mengendalikan sinyal ancaman tersebut. Seseorang yang tetap membela kebenaran meskipun menghadapi risiko bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Ia justru mampu mengelola rasa takut itu sehingga tidak menguasai keputusannya. Dengan kata lain, melawan kejahatan merupakan pekerjaan yang jauh lebih berat dibandingkan sekadar melakukan kebaikan.

Psikologi sosial memperlihatkan kenyataan yang sama melalui fenomena yang dikenal sebagai bystander effect. Semakin banyak orang menyaksikan suatu pelanggaran, semakin kecil kemungkinan seseorang bertindak. Setiap individu berharap orang lainlah yang akan mengambil langkah pertama. Tanggung jawab menjadi tersebar. Akibatnya, semua orang merasa tidak memiliki kewajiban langsung. Ironisnya, kehadiran banyak saksi justru dapat menghasilkan keheningan bersama.

Fenomena ini menjelaskan mengapa begitu banyak bentuk ketidakadilan dapat berlangsung lama di tengah masyarakat. Bukan karena tidak ada orang baik, melainkan karena orang baik sering kali memilih tetap menjadi penonton. Mereka tidak setuju terhadap kejahatan, tetapi juga tidak cukup berani untuk menghentikannya. Dalam banyak kasus, diam akhirnya menjadi bentuk persetujuan yang tidak diucapkan.

Namun, bystander effect hanyalah salah satu bagian dari cerita. Psikologi sosial mengenal sebuah konsep lain yang disebut spiral of silence. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung enggan mengemukakan pendapatnya apabila ia merasa berada di pihak yang minoritas atau berisiko ditolak oleh lingkungan sosialnya. Ketakutan terhadap isolasi sosial ternyata merupakan salah satu kekuatan paling besar yang memengaruhi perilaku manusia.

Fenomena spiral itu menjelaskan mengapa dalam banyak organisasi, institusi, bahkan negara, begitu banyak orang sebenarnya mengetahui adanya penyimpangan, tetapi memilih diam. Bukan karena mereka setuju, melainkan karena mereka memperkirakan bahwa biaya sosial untuk berbicara jauh lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh. Mereka takut kehilangan jabatan, relasi, reputasi, atau rasa aman. Keheningan pun menyebar dari satu orang ke orang lain hingga akhirnya tampak seolah-olah tidak ada yang keberatan terhadap keadaan tersebut.

Dari sudut pandang neurosains, keputusan untuk diam bukan semata-mata persoalan moral. Otak sedang melakukan kalkulasi yang sangat cepat mengenai kemungkinan ancaman. Sistem deteksi bahaya yang berkembang selama jutaan tahun evolusi bekerja jauh lebih cepat daripada proses berpikir rasional. Ancaman sosial diperlakukan hampir sama seriusnya dengan ancaman fisik. Bagi otak, dikucilkan dari kelompok pada masa evolusi dapat berarti berkurangnya peluang untuk bertahan hidup. Jejak biologis itulah yang masih memengaruhi manusia modern.

Yang menarik, mekanisme yang sama juga menjelaskan mengapa kritik jauh lebih membekas dibandingkan pujian. Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Seseorang dapat menerima seratus pujian atas pekerjaannya, tetapi hanya membutuhkan satu kritik tajam untuk membuatnya sulit tidur semalaman. Mengapa demikian?

Jawabannya kembali terletak pada cara kerja otak. Secara evolusioner, informasi negatif memiliki nilai bertahan hidup yang jauh lebih tinggi daripada informasi positif. Nenek moyang manusia yang gagal memperhatikan ancaman kemungkinan besar tidak bertahan hidup. Sebaliknya, mereka yang sangat peka terhadap bahaya memiliki peluang lebih besar untuk mewariskan gennya. Akibatnya, otak modern masih membawa warisan biologis tersebut. Ia secara otomatis memberikan perhatian yang jauh lebih besar kepada informasi negatif daripada informasi positif.

Dalam ilmu psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai negativity bias. Otak memperlakukan kritik sebagai sinyal ancaman terhadap harga diri, kedudukan sosial, atau penerimaan kelompok. Karena dianggap penting untuk kelangsungan hidup sosial, kritik memperoleh prioritas pemrosesan yang lebih tinggi. Aktivitas emosi meningkat, perhatian menjadi lebih fokus, dan memori bekerja lebih kuat untuk menyimpan pengalaman tersebut.

Bayangkan seorang dosen selesai memberikan kuliah dan menerima lima puluh komentar positif dari mahasiswa. Namun, ada satu komentar yang mengatakan bahwa penjelasannya membosankan. Sangat mungkin komentar tunggal itulah yang terus terngiang hingga malam hari. Bukan karena lima puluh pujian tidak berarti, tetapi karena otak secara otomatis menganggap kritik sebagai sinyal ancaman yang harus dianalisis lebih dalam.

Hal yang sama terjadi di media sosial. Seratus apresiasi dapat dengan mudah tenggelam oleh satu komentar yang menghina. Kritik mengaktifkan perhatian, emosi, dan memori secara lebih kuat dibandingkan pujian. Akibatnya, manusia sering kali merasa dunia jauh lebih buruk daripada kenyataannya karena otaknya memang dirancang untuk lebih mudah mengingat ancaman daripada kenyamanan.

Sebaliknya, pujian sering kali dianggap sebagai kondisi normal yang tidak memerlukan respons bertahan hidup. Pujian memang menyenangkan dan dapat meningkatkan motivasi melalui sistem penghargaan otak, tetapi efeknya sering kali lebih singkat. Kritik, terutama yang disampaikan secara keras atau mempermalukan seseorang di depan umum, dapat bertahan dalam ingatan selama bertahun-tahun. Banyak orang dewasa masih mampu mengingat kalimat menyakitkan yang diucapkan guru, orang tua, atau teman puluhan tahun yang lalu, sementara mereka sulit mengingat pujian yang diterima pada periode yang sama.

Psikologi sosial juga menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung pada penerimaan kelompok. Reputasi merupakan bagian penting dari identitas sosial. Kritik sering diterjemahkan otak bukan sekadar sebagai evaluasi terhadap perilaku, tetapi sebagai ancaman terhadap posisi seseorang di dalam kelompok. Oleh karena itu, rasa sakit akibat penolakan sosial dapat mengaktifkan jaringan otak yang serupa dengan rasa sakit fisik. Tidak mengherankan jika satu komentar negatif di media sosial mampu menghapus kebahagiaan yang sebelumnya dibangun oleh puluhan komentar positif.

Tantangan besar kehidupan modern ada di sini. Media sosial, ruang publik, bahkan lingkungan kerja sering kali lebih cepat menyebarkan kritik daripada apresiasi. Otak manusia kemudian memperbesar dampak kritik tersebut melalui mekanisme biologis yang memang telah diwariskan sejak masa evolusi. Akibatnya, kita mudah terjebak dalam persepsi bahwa dunia dipenuhi ancaman, padahal kenyataannya mungkin tidak demikian.

Kesadaran akan bias negatif sangat penting, terutama bagi para pemimpin, pendidik, orang tua, dan siapa pun yang bekerja membangun manusia. Kritik tetap diperlukan sebagai alat koreksi, tetapi kritik yang mempermalukan lebih sering meninggalkan luka daripada menghasilkan perubahan. Sebaliknya, apresiasi yang tulus dapat memperkuat motivasi, rasa percaya diri, dan hubungan sosial yang sehat.

Jika demikian, apakah manusia harus mengikuti naluri biologisnya untuk menghindari konflik? Pada saat ini fungsi luhur otak manusia bekerja. Bagian paling depan otak, terutama korteks prefrontalis, memungkinkan kita menunda reaksi spontan (delayed response), mengendalikan rasa takut, mempertimbangkan nilai moral, dan mengambil keputusan berdasarkan prinsip, bukan sekadar naluri bertahan hidup.

Dalam psikologi, kemampuan ini dikenal sebagai moral courage (keberanian moral). Berbeda dengan keberanian fisik, keberanian moral adalah kemampuan mempertahankan apa yang benar meskipun harus menghadapi penolakan, kehilangan kenyamanan, atau membayar harga sosial. Keberanian moral bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Sebaliknya, ia adalah kemampuan bertindak benar meskipun rasa takut itu tetap ada.

Namun, memahami cara kerja otak bukan berarti kita harus menyerah kepadanya. Justru pengetahuan ini memberi kesempatan untuk mengelola diri dengan lebih baik. Ketika menerima kritik, kita dapat bertanya: apakah ini benar-benar ancaman, atau hanya umpan balik yang dapat membantu saya berkembang? Sebaliknya, ketika melihat ketidakadilan, kita juga dapat menyadari bahwa rasa takut yang muncul bukan selalu pertanda untuk mundur, melainkan respons biologis yang memang dimiliki setiap manusia.

Hemat saya, justru di sini letak paradoks manusia. Evolusi membentuk otak agar kita bertahan hidup. Namun, peradaban hanya dapat berkembang ketika manusia mampu melampaui naluri biologisnya sendiri. Setiap kemajuan besar dalam Sejarah, entah itu penghapusan perbudakan, perjuangan hak asasi manusia, pemberantasan korupsi, hingga penemuan ilmiah yang mengubah dunia, selalu dimulai oleh orang-orang yang berani memutus spiral of silence, tidak dikuasai oleh negativity bias, dan memilih moral courage daripada kenyamanan pribadi. 3 komponen ini saya sebut trias keberanian.

Akhirul kalam, kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang gemar berbuat baik. Peradaban dibangun oleh mereka yang mampu mengendalikan rasa takut, tidak diperbudak oleh kritik, dan tetap berani mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi tekanan sosial. Kebaikan memang memperindah kehidupan. Namun, keberanian melawan kejahatanlah yang menjaga agar kehidupan itu tetap bermartabat.

Mungkin di sinilah ukuran kedewasaan otak manusia yang sesungguhnya. Bukan ketika ia hidup tanpa rasa takut atau tanpa kritik, melainkan ketika ia mampu menggunakan kemampuan berpikirnya untuk melampaui naluri biologisnya. Otak memang diciptakan untuk bertahan hidup. Tetapi manusia yang matang adalah mereka yang mampu menggunakan otaknya bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, melainkan juga untuk menyelamatkan nilai-nilai yang membuat kehidupan bersama tetap layak diperjuangkan (TFP 07/07/26).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi