Selasa 27 Jan 2026 08:03 WIB
Catatan Cak AT

Grok Digorok

Pornografi bukan sekadar tontonan salah umur, melainkan perampokan masa kanak-kanak.

Grok Digorok. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Grok Digorok. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Di zaman ketika kecerdasan buatan (AI) dipuja seperti dewa baru — lebih cepat bikin gambar dari Photoshop dan lebih cerewet dari tetangga grup WhatsApp — manusia tiba-tiba menemukan satu masalah lama dengan baju futuristik: nafsu tanpa rem, kini bersenjata algoritma.

Baca Juga

AI seharusnya diciptakan untuk membantu manusia berpikir. Tapi dalam praktiknya, sebagian orang justru memaksanya ikut berfantasi. Bukan karena mesinnya genit, melainkan karena manusianya kreatif dalam arah yang salah.

Maka lahirlah generasi aplikasi yang secara teknis canggih, namun secara moral ringkih. Pintar menghitung, tapi buta menilai. Cepat menghasilkan, tapi tak sempat bertanya: ini pantas atau tidak?

Di titik inilah bahaya itu bermula. Bukan pada kecerdasan buatannya, melainkan pada kebodohan moral pembuat dan penggunanya.

Bayangkan sebuah mesin yang bisa menyusun gambar dan video hanya dari perintah teks. Tanpa etika yang kokoh, mesin itu bisa diminta “mengubah”, “memanipulasi”, atau “merekayasa” citra manusia nyata — bahkan anak-anak — ke dalam bentuk yang melanggar martabat paling dasar.

Itu kini bisa dibuat bukan dengan kamera, bukan dengan kejadian nyata, melainkan dengan ilusi digital yang terasa “seolah nyata”. Tidak terjadi di dunia fisik, tapi dampaknya menghantam dunia nyata tanpa ampun.

Lebih mengerikan lagi, gambar porno termasuk yang buatan AI — apalagi yang mudah diakses secara digital — bekerja seperti racun lambat bagi anak-anak. Otak mereka belum selesai dibangun, pusat kendali moralnya masih rapuh, namun sudah dipaksa menerima rangsangan yang seharusnya baru dikenali bertahun-tahun kemudian.

Psikologi perkembangan menjelaskan, paparan seksual dini dapat merusak struktur emosi, membingungkan identitas diri, menumpulkan rasa malu yang sehat, bahkan memicu perilaku menyimpang di usia remaja.

Anak-anak yang seharusnya belajar mengenal dunia lewat bermain, justru dipaksa memahami tubuh lewat distorsi visual. Imajinasi mereka dibajak sebelum sempat tumbuh.

Maka pornografi bukan sekadar tontonan salah umur, melainkan perampokan masa kanak-kanak — sunyi, tak bersuara, tapi dampaknya panjang, dalam, dan sering baru terasa ketika semuanya sudah terlambat.

Inilah wajah baru kejahatan: tidak menyentuh korban, tapi menghancurkan hidupnya.

Yang mengerikan, gambar dan video semacam ini tidak membutuhkan kehadiran korban. Cukup satu foto biasa, satu wajah di media sosial, lalu algoritma bekerja seperti jin salah botol.

Dalam hitungan menit — bahkan laporan Copyleaks menyebut satu gambar per menit — lahirlah konten seksual nonkonsensual. Bukan karena anak itu berbuat apa-apa, melainkan karena teknologi dibiarkan tanpa pagar moral.

Dan jangan salah: ini bukan hanya berbahaya bagi anak-anak. Orang dewasa pun ikut terancam. Sebab seks, sejak ribuan tahun lalu, memang zat paling adiktif yang pernah dikenal manusia — lebih kuat dari gula, lebih licin dari narkoba, dan lebih sulit dikendalikan daripada notifikasi diskon tengah malam.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement