Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Namanya De Volkskrant — Koran Rakyat. Tapi pada Rabu, 29 Juli 2026, "koran rakyat" Belanda itu memilih sebuah judul yang membuat banyak rakyat Indonesia mengernyitkan dahi.
Judul analisis yang ditulis oleh Noël van Bemmel dalam Bahasa Belanda itu: Is Indonesië op weg naar bankroet? Apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?
Pertanyaannya bukan hanya soal mengapa judul itu muncul. Tapi, mengapa kini Indonesia dipandang sedemikian mencemaskan oleh media yang terbit jauh di Amsterdam.
Bagi sebagian rakyat Indonesia, judul itu mungkin hanya terasa sebagai provokasi. Namun bagi kalangan investor, diplomat, akademisi, dan pelaku pasar internasional, judul seperti itu bukan sekadar analisis. Ia sinyal.
Di dunia keuangan modern, persepsi berlari seperti api yang ditiup angin, sementara fakta berjalan pelan seperti petugas pemadam yang baru berangkat dari markas bercat serba merah.
Sebuah analisis di media yang kredibel dapat memengaruhi cara pasar memandang suatu negara, meski tidak selalu menentukan kenyataannya.
De Volkskrant sendiri bukan surat kabar sembarangan. Didirikan kalangan agamawan pada 1919, ia termasuk tiga koran nasional paling berpengaruh di Belanda. Kini ia dimiliki DPG Media —konglomerasi media terbesar di kawasan Benelux— dengan Pieter Klok sebagai pemimpin redaksi.
Oplah cetaknya memang terus menurun sebagaimana dialami hampir semua koran dunia. Tapi, pelanggan berbayarnya mencapai lebih dari 320 ribu dan jangkauan pembacanya sekitar 600 ribu orang setiap hari melalui edisi cetak maupun digital.
Yang lebih penting lagi, ia dikenal sebagai quality newspaper: media yang menjadi rujukan kalangan pembuat kebijakan, pebisnis, akademisi, dan profesional.
Karena itu, ketika koran seperti ini mempertanyakan masa depan ekonomi Indonesia, potongan klipingnya segera tersebar di medsos dan grup WhatsApp.
Tentu kita tak perlu panik. Mengabaikannya sama kelirunya dengan menelannya bulat-bulat. Alarm bukan vonis, tapi juga bukan hiasan dinding.
Lalu apa sebenarnya yang ditulis Noël van Bemmel? Berbeda dari kesan yang ditimbulkan judulnya, ia tidak menyatakan Indonesia telah bangkrut.
Bemmel menyusun sebuah argumentasi bahwa Indonesia sedang menempuh jalan yang, menurut penilaiannya, dapat membawa pada krisis fiskal bila tidak dikoreksi.
Dengan kata lain, judulnya berupa pertanyaan, sementara isi artikelnya adalah upaya menjelaskan mengapa pertanyaan itu layak diajukan.
Van Bemmel memulai analisanya dengan menggambarkan munculnya kekhawatiran di kalangan ekonom Indonesia sendiri. Ia mengutip berbagai peringatan mengenai pelemahan nilai rupiah, melambatnya penciptaan lapangan kerja, meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara, dan menurunnya kepercayaan investor.
Ia juga menyinggung sikap Presiden Prabowo Subianto yang menolak pandangan pesimistis tersebut. Bahkan Presiden menyindir para pengkritiknya sebagai "zwarte Hollanders" atau "Londo Ireng (Belanda Hitam)" — istilah yang digunakan untuk menyebut mereka yang dinilai selalu memandang Indonesia secara negatif.
Menurut Van Bemmel, persoalan utamanya bukan terletak pada satu kebijakan tertentu, melainkan pada keseluruhan arah pembangunan yang kini ditempuh pemerintah. Seluruhnya.
Ia menyebut strategi itu sebagai "Prabowonomics". Maksudnya, negara menggelontorkan dana besar untuk program makan bergizi gratis, pembangunan tiga juta rumah, pengembangan Ibu Kota Nusantara, penguatan koperasi desa, hilirisasi industri.
Juga, berbagai proyek strategis nasional, serta pembentukan Danantara sebagai kendaraan investasi negara. Keseluruhan agenda tersebut dipandang sangat ambisius, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai sumber pembiayaannya.
Artikel itu kemudian mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen cukup untuk menopang seluruh agenda tersebut.
Penulis mengemukakan bahwa penerimaan negara belum bertumbuh secepat kebutuhan belanja, sementara investasi swasta belum menunjukkan gairah yang memadai.
Jika kondisi ini terus berlangsung, menurut analisanya, ruang fiskal pemerintah akan semakin sempit dan kepercayaan pasar berpotensi terus melemah.
Dari sinilah ia melontarkan pertanyaan yang dijadikan judul artikel: apakah Indonesia sedang menuju kebangkrutan?