Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, Bandara internasional adalah panggung yang tak pernah tidur. Setiap menit, ribuan orang melintas. Ada yang pulang membawa rindu, ada yang berangkat mengejar mimpi, dan ada pula yang diam-diam menyelipkan petaka di balik koper.
Pekan lalu, petaka itu datang mengenakan seragam yang selama ini identik dengan kehormatan. Seorang kopilot Malaysia Airlines ditangkap di Bandara Internasional Soekarno-Hatta karena diduga menyelundupkan sekitar 26 kilogram ekstasi.
Nilainya miliaran rupiah. Jumlahnya lebih dari 70 ribu butir. Yang lebih mengejutkan lagi, hasil pemeriksaan menunjukkan kopilot bernama Mohd Saufi bin Othman itu juga positif menggunakan beberapa jenis narkoba.
Kopilot asal Malaysia itu mengaku dijanjikan imbalan sekitar 50.000 ringgit Malaysia untuk mengantarkan narkoba tersebut. Ia diduga pernah melakukan penyelundupan narkoba sebelumnya, yang kini masih didalami aparat.
Yang layak mendapat tepuk tangan justru bukan dramanya, melainkan mereka yang menggagalkannya.
Banyak orang membayangkan pekerjaan petugas Bea Cukai sebatas memeriksa koper lewat mesin X-ray. Padahal, teknologi hanyalah salah satu mata. Mata lainnya adalah manusia. Pengalaman panjang membuat petugas terlatih membaca sesuatu yang tak muncul di layar monitor.
Sering kali tubuh berbicara lebih jujur dari mulut. Wajah yang terlalu tegang, gerakan yang tidak alami, langkah kaki yang kehilangan irama, tatapan yang terlalu sering menghindar, bahkan aroma napas yang khas akibat konsumsi zat tertentu, dapat menjadi potongan-potongan puzzle yang memunculkan kecurigaan. Tidak otomatis membuktikan seseorang bersalah, tapi cukup menjadi alasan untuk memeriksa lebih teliti.
Apalagi di pintu keluar internasional seperti Soekarno-Hatta. Jalur yang harus dilewati setiap penumpang, termasuk awak pesawat, relatif sempit. Petugas berdiri di titik-titik strategis. Ribuan wajah mereka lihat setiap hari.
Dalam waktu lama, naluri profesional itu terasah. Mereka belajar membedakan mana wajah lelah karena penerbangan panjang dan mana wajah yang menyimpan kegelisahan lain.
Karena itu menarik ketika pelaku justru sempat diarahkan ke jalur fast track khusus awak pesawat. Banyak orang mungkin mengira status sebagai kru penerbangan adalah "paspor kepercayaan". Ternyata tidak.