Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di dalam satu kelas, guru bisa menemukan 30 anak dengan 30 cara menghadapi dunia. Ada yang baru lima menit masuk sudah mengobrol dengan siapa saja. Ada yang duduk tenang, tetapi matanya sibuk mengamati.
Tingkah-polah mereka bermacam-macam. Ada yang mengangkat tangan sebelum guru selesai bertanya. Ada yang sebenarnya tahu jawaban, tetapi memilih menunduk karena tidak nyaman bicara di depan teman-temannya.
Di dalam satu keluarga pun begitu. Dua saudara lahir dari ayah dan ibu yang sama, tinggal di rumah yang sama, tetapi wataknya bisa seperti berasal dari dua planet berbeda.
Anak pertama mudah bergaul dan berani mengambil risiko. Adiknya lebih hati-hati, sensitif, dan perlu waktu untuk akrab. Yang satu cepat melupakan teguran. Yang lain membawanya sampai berhari-hari.
Mengapa mereka berbeda? Pertanyaan itu mendapat tambahan jawaban dari penelitian genetika kepribadian terbaru. Jurnal Nature baru saja menerbitkan penelitian “Robust inference and correlates from genetic associations with personality”.
Penelitian digarap oleh Ted Schwaba, Margaret L. Clapp Sullivan, Wonuola A. Akingbuwa, bersama lebih dari 140 peneliti dalam _Revived Genomics of Personality Consortium (ReGPC). Tim ini menggabungkan data dari 46 kohort penelitian di berbagai negara.
Para peneliti menemukan 1.260 varian genetik yang berkaitan dengan lima besar sifat kepribadian atau Big Five. Sebanyak 824 varian di antaranya merupakan temuan baru.
Kepribadian Big Five bukan lima kotak untuk mengurung manusia, melainkan lima dimensi untuk memahami kecenderungan kepribadian. Extraversion berkaitan dengan keaktifan dan kegemaran berinteraksi; agreeableness dengan sikap kooperatif dan perhatian kepada orang lain.
Sementara conscientiousness berhubungan dengan keteraturan, ketekunan, dan tanggung jawab; neuroticism terkait dengan kecenderungan mengalami kecemasan atau emosi negatif; sedangkan openness to experience menyangkut imajinasi, rasa ingin tahu, dan keterbukaan terhadap pengalaman baru.
Setiap orang memiliki kelima dimensi tersebut dalam kadar berbeda. Namun, jangan buru-buru mencari “gen anak rajin”, “gen pemalu”, atau “gen calon pemimpin”.
Ted Schwaba, penulis utama penelitian dari Michigan State University, menegaskan bahwa tidak ada satu gen yang menentukan kepribadian. Pengaruh setiap varian sangat kecil. Pengaruh yang lebih berarti muncul dari kombinasi banyak varian.
Temuan ini memperkuat rumus bahwa manusia memang membawa kecenderungan bawaan. Tetapi penelitian tersebut juga menegaskan kuatnya peran lingkungan. Gen dan lingkungan tidak bekerja seperti dua pasukan yang saling berebut kemenangan. Keduanya berinteraksi sepanjang kehidupan.
Contohnya, varian yang berkaitan dengan openness juga berhubungan dengan kecenderungan tinggal di lingkungan yang lebih kosmopolitan. Pengalaman hidup di lingkungan itu kemudian dapat memperkuat atau membentuk kecenderungan yang sama.
Jadi, anak bukan kertas kosong, tetapi juga bukan buku yang seluruh isinya sudah dicetak sejak lahir. Ia seperti benih yang membawa kemungkinan, lalu tumbuh dalam tanah tertentu.