Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di kelas, seorang anak SD belajar bahwa peta adalah gambaran bumi. Ia mungkin belum tahu bahwa kalimat itu kurang tiga kata yang sangat bermakna: menurut cara tertentu. Lengkapnya: peta adalah gambaran bumi menurut cara tertentu.
Kata terakhir itu penting. Sebab bumi bulat, sedangkan buku tulis datar. Ketika bumi dipaksa masuk ke kertas gambar, pasti ada yang berubah. Luas bisa berubah. Bentuk bisa berubah. Jarak bisa berubah.
Dalam peta di atas kertas, barangkali arah bisa dipertahankan, tapi yang lain dikorbankan. Lagi pula, peta tentu bukan bumi. Ia adalah pilihan tentang bagian mana dari gambar bumi yang hendak dipertahankan.
Itulah sebabnya keputusan Majelis Umum PBB untuk mengganti peta dunia dengan versi baru pada 4 September sungguh menarik. Dengan suara 164 negara mendukung, satu menolak, dan enam abstain, PBB mengadopsi resolusi “Correct the Map” yang dipimpin negara kecil Togo dan didukung Uni Afrika.
Resolusi itu mendorong penggunaan proyeksi yang mempertahankan perbandingan luas benua, termasuk Equal Earth, terutama untuk pendidikan dan literasi geografis. Untuk itu, Togo berkampanye di media sosial, membuat website khusus, bahkan bikin polling.
Dalam keputusannya yang ditolak Amerika Serikat satu-satunya, PBB tak melarang penggunaan peta lama buatan Mercator. PBB juga tak menetapkan satu peta untuk semua keperluan. Togo sendiri menegaskan bahwa proyeksi peta yang berbeda mempunyai kegunaan berbeda.
Ini penting karena berita tentang peta mudah sekali berubah menjadi berita tentang politik. Padahal persoalan yang menjadi alasan Togo lebih sederhana. Bagi Togo, kalau kita mau membandingkan luas wilayah, jangan memakai alat yang memang dirancang bukan untuk itu.
Peta buatan Mercator yang selama ini kita pakai adalah contoh yang bagus. Gerardus Mercator membuat proyeksi bumi dan memetakannya pada 1569. Tujuan utamanya, untuk kebutuhan navigasi bagi pelaut. Karena itu, dalam peta, ia menggambar garis dengan arah kompas yang tetap sebagai garis lurus.
Bagi pelaut, itu sangat berguna. Namun, konsekuensinya, wilayah yang semakin jauh dari khatulistiwa tampak semakin besar. Greenland, misalnya, di peta Mercator bisa tampak hampir sebesar Afrika. Padahal luas Afrika sekitar 14 kali Greenland.
Mercator tak pernah berniat mengecilkan Afrika. Ia sedang menyelesaikan masalah pelaut. Masalahnya muncul ketika peta untuk berlayar dipakai untuk membandingkan luas. Itu seperti menggunakan penggaris untuk menimbang beras. Penggarisnya tidak salah. Kita saja yang salah kamar.