
Oleh: M Farouk Ridwan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setidaknya sepanjang Januari hingga September 2026, alam telah berkali-kali memberi tanda kegelisahannya. Namun, manusia sering kali memilih mengabaikan tanda-tanda itu.
Pada 26 Agustus 2026, runtuhan gletser di kawasan Himalaya memicu banjir dahsyat di lembah Sungai Trishuli, Nepal. Bencana tersebut menewaskan sedikitnya sekitar 1.300 orang dan menyebabkan lebih dari 5.300 orang dilaporkan hilang di Nepal dan Tibet.
Infrastruktur penting turut terdampak, termasuk pembangkit listrik tenaga air, jalan, jembatan, dan kawasan permukiman. Peristiwa itu menunjukkan betapa rapuhnya kawasan pegunungan ketika perubahan iklim bertemu dengan kerentanan geografis.
Di sejumlah wilayah Asia lainnya, banjir monsun melanda China, Bangladesh, dan Pakistan. Badai tropis juga berulang kali menghantam kawasan Asia sepanjang tahun ini dan menimbulkan kerusakan besar di berbagai wilayah.
Di Madagaskar, Siklon Gezani pada Februari 2026 menewaskan sedikitnya 59 orang. Bencana tersebut juga menyebabkan lebih dari 16 ribu orang mengungsi dan berdampak terhadap lebih dari 423 ribu penduduk.
Di Eropa, gelombang panas berkepanjangan mencatat korban yang jauh lebih besar. Sedikitnya 35 ribu kematian berlebih atau excess deaths tercatat sepanjang rangkaian gelombang panas musim panas 2026 berdasarkan data yang dihimpun dari sebagian kawasan Eropa.
Suhu ekstrem kembali memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Krisis itu sudah hadir sebagai persoalan kesehatan publik, ekonomi, dan kemanusiaan hari ini.
Indonesia menghadapi situasi yang tidak kalah serius. Sepanjang 2026, BNPB terus melaporkan ribuan kejadian bencana berupa banjir, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, cuaca ekstrem, tanah longsor, gempa bumi, dan erupsi gunung api.
Salah satu bencana terbesar terjadi di Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026 dan menimbulkan kerusakan luas.
Hingga 22 Agustus, BNPB mencatat 87 orang meninggal dunia. Beberapa hari sebelumnya, jumlah pengungsi bahkan sempat mencapai lebih dari 82 ribu jiwa.
Kebakaran hutan dan lahan juga menjadi ancaman serius selama musim kemarau. Kementerian Lingkungan Hidup menyebut sekitar 85 ribu hektare kawasan konsesi perusahaan di Sumatra dan Kalimantan terbakar.
Pemerintah juga mencatat sekitar 335 perusahaan pemegang konsesi terindikasi memiliki titik api di wilayah konsesinya. Data itu belum otomatis membuktikan seluruh perusahaan melakukan pembakaran, tetapi cukup untuk menunjukkan betapa seriusnya persoalan pengawasan lingkungan.
Bencana seakan tidak lagi datang satu per satu. Ia muncul bertubi-tubi seperti rombongan yang mengetuk pintu manusia.
Seolah alam sedang bersaksi atas apa yang telah dilakukan manusia terhadap bumi tempatnya hidup. Dalam bahasa agama, keadaan ini layak dibaca bukan sekadar sebagai peristiwa alam, tetapi juga sebagai panggilan untuk melakukan koreksi terhadap cara manusia memperlakukan lingkungan.
Al-Qur'an mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Peringatan itu terdapat dalam QS Ar-Rum ayat 41.