Ahad 06 Sep 2026 16:58 WIB
Catatan Cak AT

Refleksi Damai dari Ibadah Haji

Logika ibadah haji dan qurban mengajarkan kerelaan untuk menekan ego.

Refleksi Damai dari Ibadah Haji. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Refleksi Damai dari Ibadah Haji. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Notifikasi di layar telepon seluler saya beberapa waktu lalu membawa kabar yang menyenangkan. Apalagi ia datang dari Dr Fahmi Salim, seorang kawan sesama pengurus Majelis Ulama Indonesia.

Fahmi mengabarkan bahwa karya terbarunya mengenai haji baru saja terbit, seraya menanyakan kesediaan saya untuk menerima kiriman buku tersebut.

Tentu saja saya menyambut tawaran itu dengan tangan terbuka. Ada kegembiraan tersendiri setiap kali sebuah buku baru tiba di rumah. Bagi pengoleksi buku, kedatangan sebuah karya bukan sekadar urusan menambah buku tebal, tapi menyambut seorang tamu pemikir yang membawa cerita dan sudut pandang baru untuk didiskusikan.

Buku tulisan Fahmi Salim itu berjudul Haji: dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan. Memiliki ketebalan 360 halaman, cetakan pertamanya terbit pada Juni 2026 atau Muharam 1448 H di bawah bendera Al-Fahmu Institute dengan nomor ISBN 978-634-97065-0-6.

Koleksi buku tentang haji di perpustakaan pribadi saya sebenarnya sudah cukup melimpah. Sebagiannya ditulis dalam bahasa Indonesia, dan banyak lainnya kitab-kitab berbahasa Arab yang mencakup khazanah tafsir, hadis, fikih, sejarah, dan pemikiran ulama klasik maupun modern.

Karena itu, pada mulanya saya membuka lembaran demi lembaran buku Fahmi ini dengan benak yang penuh tanya. Hal baru apa lagi yang bisa ditawarkan dari tema ibadah haji yang telah dikaji secara ekstensif selama berabad-abad?

Pertanyaan itu rupanya segera terjawab oleh kejutan gagasan di dalamnya. Fahmi tidak membatasi pembahasannya pada urusan teknis fikih manasik semata —seperti tata cara ihram, tawaf, sa'i, wukuf, lontar jumrah, hingga kumpulan doa lengkap.

Fahmi melangkah lebih jauh dengan membaca haji sebagai sebuah proses transformasi manusianya. Baginya, haji merupakan perjalanan yang menundukkan ego, meluruhkan simbol status duniawi menuju identitas hamba yang setara, serta mengubah pengalaman spiritual personal menjadi gerakan kebangkitan sosial yang konkrit.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa judul bukunya cukup berbobot, menempatkan ibadah haji di antara pemurnian misi kenabian dan revolusi kesadaran sosial. Haji ditegaskan sebagai madrasah kehidupan tempat umat Islam belajar kembali menata hubungan dengan Sang Pencipta sekaligus dengan sesama manusia.

Bagian yang paling menyita perhatian saya justru terletak pada tiga subbab di bagian akhir buku yang dikelompokkan dalam bab "Refleksi Perjalanan". Tiga bagian penutup tersebut menelaah isu mendasar yang sering kali terabaikan dalam diskursus keagamaan praktis, yakni akhlak, persatuan, dan perdamaian.

Pada subbab "Dari Madrasah Akhlak ke Laboratorium Persatuan Umat", Fahmi merangkum refleksinya dengan mensintesis pemikiran para ulama dan cendekiawan lintas zaman, seperti Imam al-Ghazali, Ibn al-Qayyim, Syekh as-Sa'di, Sayyid Quthb, dan Muhammad Rasyid Ridha.

Dari sintesis pemikiran tersebut, terungkap sebuah benang merah yang sangat kuat bahwa ibadah haji pada hakikatnya adalah perjalanan batin untuk menyucikan jiwa dari akar segala konflik kemanusiaan, yakni egoisme.

Apabila kita mengurai sejarah ketegangan antarmanusia, hampir seluruh konflik sosial dan politik bermula dari dorongan ego yang tidak terkendali. Yaitu, keinginan untuk mendominasi, enggan mengalah, klaim kebenaran sepihak, hingga fanatisme kelompok dan suku.

Ibadah haji meruntuhkan seluruh konstruksi ego tersebut secara drastis. Dalam balutan pakaian ihram, seluruh tanda kebesaran duniawi dilepaskan. Pakaian tak lagi menjadi penanda strata sosial, jabatan ditinggalkan di luar batas miqat, dan kekayaan tak memberikan hak istimewa untuk berdiri lebih dekat di depan Ka'bah.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi