
Oleh: Azhar, Pendiri Inisiatif Konservasi Hutan Wakaf (IKHW)
REPUBLIKA.CO.ID, Setiap kali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kalimantan, perhatian publik biasanya tertuju pada luas lahan yang terbakar, jumlah titik panas, kabut asap dan kerugian ekonomi. Padahal ada satu kerugian yang jarang dihitung secara serius: hilangnya rumah satwa liar. Api tidak mengenal batas kawasan konservasi. Ia dapat bergerak dari lahan yang telah dibuka menuju semak, hutan sekunder, hutan rawa dan gambut.
Ketika kebakaran terjadi berulang, persoalannya bukan lagi sekadar berapa hektare hutan yang terbakar, tetapi berapa banyak ruang hidup satwa yang hilang dan berapa lama ekosistem membutuhkan waktu untuk pulih.
Pulau Kalimantan adalah salah satu benteng keanekaragaman hayati dunia. Hutan pulau ini menjadi habitat bagi gajah Kalimantan, badak, orangutan, beruang madu, macan dahan, kucing emas, kucing batu, bekantan, burung rangkong dan berbagai jenis mamalia, burung, reptil, amfibi serta organisme kecil lainnya. Setiap spesies memiliki kebutuhan ekologis berbeda, tetapi semuanya bergantung pada satu hal yang sama: habitat yang masih berfungsi.
Karena itu, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon. Yang terbakar adalah rantai kehidupan. Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) merupakan salah satu satwa yang paling membutuhkan ruang. Gajah memerlukan vegetasi pakan dalam jumlah besar, air dan jalur pergerakan yang memungkinkan kelompoknya berpindah mengikuti kondisi habitat. Populasinya sendiri sudah sangat terbatas. IUCN memperkirakan sekitar 1.000 gajah Borneo masih tersisa di alam, dengan sekitar 400 individu dewasa reproduktif, sementara sekitar 60 persen habitat hutannya telah hilang dalam empat dekade terakhir (IUCN, 2024).
Dalam kondisi seperti itu, kebakaran menjadi ancaman berlapis. Api menghilangkan rumput, semak, tumbuhan bawah dan anakan pohon. Setelah makanan berkurang, gajah akan mencari sumber pakan lain. Pada lanskap yang sudah terfragmentasi, pilihan tersebut dapat membawa gajah ke perkebunan, ladang dan permukiman.
Di sinilah karhutla dapat berubah menjadi konflik manusia–gajah. Konflik yang muncul setelah kebakaran bukanlah kejadian yang berdiri sendiri. Ia dapat merupakan konsekuensi ekologis dari hilangnya habitat.
Kondisi badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) di Kalimantan bahkan jauh lebih sensitif. Populasi badak di Kalimantan sangat kecil sehingga keberadaan setiap individu dan habitatnya mempunyai arti konservasi yang luar biasa. Bagi badak, kebakaran dapat menghilangkan tumbuhan pakan, vegetasi penutup, jalur pergerakan dan kondisi mikrohabitat yang diperlukan untuk bertahan hidup.