Jumat 31 Jul 2026 14:06 WIB

Batas Kemampuan Bank Sentral

Pergeseran kesejahteraan antarkelompok ekonomi harus dikelola dengan baik.

 Petugas keamanan melintas di dekat logo Bank Indonesia (BI).
Foto: Republika/Prayogi
Petugas keamanan melintas di dekat logo Bank Indonesia (BI).

Oleh: Adiwarman A. Karim, Pendiri Karim Consulting

REPUBLIKA.CO.ID, Kemampuan bank sentral menjaga stabilitas nilai mata uang ditentukan oleh tiga hal yaitu model ekonomi yang tidak tepat, batasan fiskal, dan batasan struktural ekonomi. Dengan berbagai bauran kebijakan moneter yang dimiliki, bank sentral dapat menjaga stabilitas nilai mata uang, dan sampai skala tertentu juga dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi.

Pertama, batasan model ekonomi yang tidak tepat. Daya beli rupiah di dalam negeri diukur oleh inflasi, dan daya beli rupiah di luar negeri diukur oleh nilai tukar (kurs). Ketika inflasi telah sangat rendah, maka kenaikan tingkat suku bunga untuk menjaga nilai tukar tidak akan efektif.

Baca Juga

Menaikkan tingkat suku bunga ketika inflasi telah rendah bahkan dapat mengurangi likuiditas di masyarakat, naiknya potensi kredit macet, turunnya produksi, meningkatnya pengangguran, menurunkan daya beli yang dapat mengarah pada bergesernya kurva Philips ke kanan. Pertumbuhan tertahan, inflasi malah naik.

Levin dan Sinha, peneliti National Bureau of Economic Research (NBER), dalam kajian mereka “Limitations on the Effectiveness of Monetary Policy Forward Guidance in the Context of the Covid-19 Pandemic” menjelaskan model ekonomi yang tidak tepat dapat menghasilkan kebijakan moneter yang keliru, antara lain bergesernya kurva Philips secara tidak terduga.

Bergman, Born, Matsa, Weber, peneliti NBER, dalam kajian mereka “Inclusive Monetary Policy: How Tight Labor Markets Facilitate Broad-Based Employment Growth” menjelaskan kebijakan moneter bunga tinggi (hawkish) akan menekan pasar tenaga kerja dan berpotensi naiknya pengangguran.

Ketika inflasi rendah dan stabil, ini menunjukkan daya beli rupiah kuat dan stabil di dalam negeri. Bila pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah dan bergejolak berkelanjutan, maka patut dicurigai penyebabnya adalah kebisingan (noise) pasar valuta asing.

Kebisingan pasar dilakukan dengan pengaturan terselubung aktivitas pasar yang janggal (unusual market activity) yang biasanya melalui pasar modal. Beberapa pemain besar menjual saham dan menukarkan dana hasil penjualannya ke mata uang asing. Sehingga IHSG dan rupiah bersamaan melemah.

Kebisingan ini diperparah oleh herding effect yaitu para pemain kecil meniru aktifitas pemain besar. Ketika para pemain besar menjual saham dan menukarkan hasilnya ke valuta asing, maka para pemain kecil menirunya dengan melakukan yang sama.

Menaikkan tingkat suku bunga tidak akan efektif. Intervensi moneter menjual cadangan devisa hanya akan menciptakan permainan tit for tat antara para pemain besar dan bank sentral. Hasil akhirnya, cadangan devisa terkuras, nilai tukar tetap melemah berkelanjutan. 

Kedua, batasan fiskal. Cochrane, peneliti NBER, dalam kajiannya “Monetary-Fiscal Interactions” menjelaskan kenaikan tingkat suku bunga akan menaikkan biaya bunga utang pemerintah. Koordinasi antara bank sentral yang independen dan otoritas fiskal menjadi kunci keberhasilan.

Dengan koordinasi yang baik, kebijakan moneter dapat meningkatkan kapasitas ekonomi kebijakan fiskal. Elenev, Landvoigt, Shultz, Nieuweburgh, peneliti NBER, dalam kajian mereka “Can Monetary Policy Create Fiscal Capacity?” menjelaskan ekspansi moneter, kerangka kerja kolaborasi, stimulus fiskal dapat menurunkan ratio utang / PDB dan mengurangi risiko fiskal.

Demikian pula sebaliknya tanpa koordinasi yang baik. Hall dan Reis, peneliti NBER, dalam kajian mereka “Maintaining Central-Bank Financial Stability Under New-Style Central Banking” menjelaskan sentral bank berisiko tidak solven atau kehilangan independensi nya jika bank sentral membiayai lonjakan kebutuhan fiskal atau bank sentral sendiri terlalu bergantung pada pinjaman sektor publik melalui kontraksi moneter.

Bayangkan ketika otoritas fiskal melakukan stimulus fiskal menambah likuiditas, bank sentral segera menarik kembali likuiditas melalui kontraksi moneter. Biaya fiskal telah meningkat, biaya operasi moneter naik, dampak positif stimulus fiskal menguap.

Ketiga, batasan struktural ekonomi. Barghini dalam artikelnya “Central Bankers: Have They Reached the Limits of Their Power?” menjelaskan kemampuan bank sentral menstimulasi pertumbuhan sangat terbatas karena untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang hanya dapat dicapai melalui kebijakan fiskal.

Kaplan dan Miyahara, peneliti NBER, dalam kajian mereka “How Does Monetary and Fiscal Policy Affect the Economy in the Face of Large Shocks?” menjelaskan kebijakan yang tepat dan koordinasi yang baik bahkan dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok ekonomi bawah dan mengurangi kesejahteraan kelompok ekonomi atas.

Pergeseran kesejahteraan antarkelompok ekonomi ini harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan gesekan sosial. Aguiar, Amador, Arellano, peneliti NBER, dalam kajian mereka “Micro Risk and (Robust) Pareto Improving Policies” menjelaskan pergeseran alokasi anggaran harus memperbaiki kesejahteraan seluruh kelompok ekonomi.

Imam Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan “janganlah kesejahteraan seorang di antara kamu meningkat dengan mengurangi kesejahteraan orang lain”.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi