Rabu 02 Sep 2026 10:29 WIB

Saatnya Mengeluarkan Pendidikan dari Persembunyiannya

Tantangan pendidikan hari ini adalah berhenti membiarkannya tersembunyi.

PPA mendukung pelatihan baca-tulis Carakan Jawa bagi generasi muda di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur.
Foto: PPA
PPA mendukung pelatihan baca-tulis Carakan Jawa bagi generasi muda di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Jawa Timur.

Oleh: M Tata Taufik, penulis dan pemerhati komunikasi serta pendidikan Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada 5–6 September 2026, para pemimpin pendidikan, akademisi, dan pengelola pesantren akan bertemu di Jakarta dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES). Nama forum ini menarik perhatian saya pada satu kata: holistic. Sebab jauh sebelum istilah itu menjadi tema sebuah pertemuan internasional, pesantren sebenarnya sudah lama hidup dengan pendidikan yang tidak mengenal batas tegas antara kelas dan kehidupan.

Karena itu, menjelang GIHES, saya ingin mengajukan satu catatan kecil yang mungkin agak mengganggu: kalau kita sungguh ingin berbicara tentang pendidikan holistik, mungkin sudah waktunya menggeser core pendidikan dari hidden curriculum menuju holistic curriculum.

Baca Juga

Istilah hidden curriculum tidak lahir karena para ahli pendidikan sedang kekurangan istilah. Ia lahir dari kegelisahan melihat kehidupan nyata anak di sekolah.

Pada 1968 Philip W. Jackson menerbitkan Life in Classrooms. Ia tidak hanya melihat kelas sebagai tempat guru mengirim pelajaran dan siswa menerima. Ia melihat kelas sebagai kehidupan. Ada anak yang aktif, ada yang terus menunggu; ada yang sering dipuji, ada yang ditegur; ada yang terlibat penuh, dan ada pula yang perlahan menarik diri. Mereka duduk di ruang yang sama, tetapi belum tentu mengalami pendidikan yang sama.

Sekolah mudah melihat anak yang mampu menjawab pertanyaan. Nilainya ada, ranking-nya ada, lembar ujiannya ada. Tetapi bagaimana dengan anak yang hadir setiap hari, tidak membuat masalah, tidak menonjol, jarang ditanya, dan nyaris tidak pernah mendapat pujian? Ia hadir, tetapi hampir tak terlihat.

Apakah ia tidak belajar? Tentu saja ia belajar. Hanya saja mungkin bukan pelajaran yang sedang kita ukur.

Ia belajar kapan boleh berbicara dan kapan harus diam. Ia belajar bagaimana rasanya menunggu dan tidak dipilih. Ia belajar siapa yang mendapat perhatian, siapa yang mempunyai kuasa, jawaban macam apa yang mendapat pujian, dan perilaku macam apa yang mengundang teguran.

Jackson melihat kehidupan kelas antara lain melalui crowds, praise, and power: kerumunan, penghargaan, dan kekuasaan. Anak ternyata tidak hanya belajar matematika, bahasa, atau sejarah. Ia sekaligus belajar bagaimana hidup dalam sebuah struktur sosial bernama sekolah.

Di wilayah itulah kita mengenal hidden curriculum: kurikulum yang tidak ditulis, tetapi dipelajari; tidak tercantum dalam jadwal, tetapi dialami; tidak diujikan pada akhir semester, tetapi meninggalkan jejak dalam diri anak. Sampai di sini saya setuju.

Tetapi setelah lebih dari setengah abad kita membicarakannya, saya mulai agak “nakal” bertanya: kalau kita sudah tahu ada kurikulum tersembunyi, mengapa terus kita biarkan tersembunyi? Kalau sudah ketahuan tempat persembunyiannya, ya jangan disembunyikan lagi.

Jackson membantu kita menemukan kurikulum yang tersembunyi. Tantangan pendidikan hari ini adalah berhenti membiarkannya tersembunyi. Di sinilah saya ingin menggeser core pendidikan dari hidden curriculum menuju holistic curriculum.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa hidden curriculum salah. Konsep itu berjasa besar karena mengingatkan bahwa anak tidak hanya belajar dari apa yang kita ajarkan. Anak belajar dari apa yang ia alami. Tetapi pendidikan tidak cukup hanya menjadi pekerjaan detektif: menemukan apa yang tersembunyi. Pendidikan adalah pekerjaan desain.

Kalau lingkungan mendidik, lingkungan harus dirancang. Kalau hubungan mendidik, hubungan harus diperhatikan. Kalau penghargaan dan teguran mendidik, keduanya harus dikelola. Kalau pengalaman adalah guru, pengalaman peserta didik tidak boleh terus dianggap produk sampingan kurikulum.

Ia harus masuk ke jantung kurikulum itu sendiri.

Di titik ini John P. Miller memberi bahasa yang cukup terang. Pendidikan holistik, baginya, berusaha mengembangkan manusia sebagai keseluruhan: intelektual, emosional, fisik, sosial, estetis, bahkan spiritual. Kerangkanya bertumpu pada tiga hal: balance, inclusion, dan connection—keseimbangan, ketercakupan, dan keterhubungan. Artinya, pendidikan tidak boleh hanya membesarkan kepala sambil membiarkan hati, tubuh, relasi sosial, dan kehidupan batin berjalan sendiri-sendiri.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya

Rekomendasi