Selasa 01 Sep 2026 10:05 WIB

HOTS di Pesantren, Berpikir Tinggi dari Kehidupan Sehari-Hari

Pesantren melatih nalar melalui pengalaman, tanggung jawab, keteladanan.

KH Tata Taufik bersama tokoh pendidikan Turki.
Foto: Dokpri
KH Tata Taufik bersama tokoh pendidikan Turki.

Oleh: M Tata Taufik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Istilah Higher Order Thinking Skills atau HOTS datang ke ruang-ruang pendidikan dengan wajah yang terasa baru: hadir dalam pelatihan guru, modul pembelajaran, kisi-kisi ujian, hingga piramida Taksonomi Bloom yang terpampang di layar presentasi. Guru diajak membawa murid melampaui ingatan menuju analisis, evaluasi, dan kreasi. Gagasan itu tentu penting, tetapi di balik gemuruh istilah baru tersebut tersimpan sebuah pertanyaan: benarkah pendidikan kita baru belajar berpikir tingkat tinggi setelah HOTS diperkenalkan?

Pertanyaan itu menjadi menarik ketika kita menengok pesantren. Di balik dinding asrama, suara azan, riuh percakapan santri, jadwal yang rapat, dan kehidupan yang nyaris tidak pernah benar-benar berhenti, berlangsung sebuah proses pendidikan yang jauh lebih luas daripada pelajaran di dalam kelas. Pesantren mungkin tidak selalu menyebutnya HOTS, tetapi selama bertahun-tahun santri telah belajar menghadapi persoalan, mengambil keputusan, mengelola manusia, menguji gagasan, menerima kritik, bahkan menanggung akibat dari pilihan yang mereka buat.

Baca Juga

Pesantren kerap dilihat melalui dua gambaran yang berlawanan. Di satu sisi, ia dipuji sebagai benteng moral, kemandirian, dan tradisi keilmuan umat. Di sisi lain, pesantren terkadang dianggap terlalu menekankan hafalan, kepatuhan, dan tradisi.

Kedua gambaran itu memiliki dasar, tetapi belum cukup untuk menjelaskan keseluruhan proses pendidikan pesantren. Untuk memahami bagaimana pesantren mendidik cara berpikir, kita tidak cukup masuk ke ruang kelas dan melihat buku yang dipelajari santri. Kita harus melihat kehidupannya sebagai sebuah ekosistem.

Di pesantren modern, pendidikan berlangsung hampir di setiap sudut kehidupan. Santri belajar di kelas, tinggal di asrama, beribadah bersama, menggunakan bahasa asing, berorganisasi, berpidato, mengelola kegiatan, berlatih mengajar, membuat pertunjukan, hingga menyelesaikan persoalan hidup bersama.

Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan. Karena itu, HOTS di pesantren tidak terutama hadir sebagai istilah. Ia tumbuh menjadi pengalaman.

Bukan Tangga yang Memisahkan

Taksonomi Bloom sering divisualisasikan sebagai piramida. Mengingat dan memahami berada di bagian bawah, sedangkan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta ditempatkan di bagian atas.

Visualisasi tersebut membantu menjelaskan tingkatan proses kognitif. Namun, ia dapat menimbulkan kesan seakan-akan mengingat merupakan kemampuan rendah yang harus segera ditinggalkan agar seseorang dapat naik menuju kreativitas.

Padahal, seseorang tidak mungkin menganalisis sesuatu yang tidak diketahuinya. Ia juga sulit menciptakan sesuatu apabila tidak memiliki cukup pengetahuan sebagai bahan untuk berpikir.

Dalam praktik pendidikan pesantren, tahapan berpikir lebih tepat dilihat sebagai rangkaian yang saling terhubung. Mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, mengambil keputusan, dan mencipta bukan ruang-ruang terpisah, melainkan mata rantai dalam satu proses belajar.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi