
Oleh: Nur Hadi Ihsan, Dosen Universitas Darussalam Gontor
"Seratus persen agama. Seratus persen umum." — K.H. Imam Zarkasyi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kalimat-kalimat besar sering kali tidak lahir dari rangkaian kata yang panjang, melainkan dari pandangan hidup yang jernih. Semakin dalam seseorang memahami hakikat kehidupan, semakin sederhana pula bahasa yang digunakannya. Demikian pula kalimat Kiai Imam Zarkasyi ini. Begitu singkat, tetapi mengandung sebuah pandangan tentang ilmu, pendidikan, manusia, bahkan peradaban: "Seratus persen agama. Seratus persen umum."
Kalimat itu lahir bukan sebagai jawaban administratif tentang kurikulum, melainkan sebagai pernyataan tentang cara memandang ilmu. Presiden Soeharto pernah bertanya kepada Kiai Imam Zarkasyi, "Berapa persen pelajaran agama dan berapa persen pelajaran umum di Gontor?" Beliau menjawab dengan kalimat yang menghapus seluruh batas: "Seratus persen agama. Seratus persen umum." Sekilas terdengar paradoks. Sesungguhnya, paradoks itu hanya muncul bagi cara berpikir yang terbiasa membelah sesuatu menjadi dua kutub yang saling berhadapan.
Dari sinilah tampak bahwa jawaban Kiai Imam Zarkasyi sesungguhnya tidak sedang menjawab pertanyaan tentang komposisi mata pelajaran. Beliau sedang mengoreksi cara berpikir yang sejak lama memisahkan ilmu menjadi dua wilayah yang seolah-olah berbeda hakikatnya. Padahal, apabila seluruh ilmu berasal dari Allah, tidak ada alasan untuk memisahkannya menjadi ilmu yang sakral dan ilmu yang sekuler. Perbedaan hanya terletak pada objek kajian, sedangkan tujuan akhirnya tetap satu, yakni mengenal kebenaran serta mengabdi kepada-Nya.
Melampaui Dikotomi Ilmu
Sesungguhnya Kiai Imam Zarkasyi sedang menolak dikotomi ilmu yang sejak lama membelah kesadaran umat Islam. Pembagian antara ilmu agama serta ilmu umum bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan dari konstruksi sejarah yang perlahan memisahkan wahyu dari kehidupan. Akibatnya, agama dipersempit menjadi urusan masjid, sedangkan ilmu pengetahuan dianggap hanya mengurus dunia. Padahal, Islam tidak pernah mengenal pemisahan seperti itu. Seluruh ilmu lahir dari sumber yang sama, berjalan menuju tujuan yang sama, serta menemukan kemuliaannya ketika mengantarkan manusia mengenal Allah.
Bangunan epistemologi Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din sering diringkas oleh para ulama dalam ungkapan: "Kullu 'ilmin syar'iyyin 'aqliyyun wa kullu 'ilmin 'aqliyyin syar'iyyun." Ungkapan tersebut merangkum pandangan al-Ghazali bahwa syariat tidak dapat dipahami tanpa akal, sedangkan akal mencapai kesempurnaannya ketika dibimbing oleh wahyu. Karena itu, kemuliaan suatu ilmu tidak ditentukan oleh kategorinya sebagai ilmu agama atau ilmu umum, melainkan oleh sejauh mana ilmu tersebut mengantarkan manusia mengenal Allah, menegakkan kemaslahatan, serta menjaga keteraturan kehidupan yang dikehendaki syariat.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menegaskan bahwa krisis terbesar pendidikan modern bukan terletak pada kekurangan ilmu, melainkan pada hilangnya adab terhadap ilmu. Tatkala ilmu dipisahkan dari makna ketuhanan, lahirlah manusia yang cerdas tetapi kehilangan hikmah. Tatkala ilmu dikembalikan kepada tauhid, seluruh disiplin ilmu berubah menjadi jalan mengenal Allah. Karena itu, jawaban Kiai Imam Zarkasyi bukan sekadar semboyan pendidikan, melainkan penegasan bahwa tauhid merupakan fondasi seluruh bangunan ilmu pengetahuan.