Kamis 14 May 2026 11:51 WIB
Catatan Cak AT

Mata Digital Abad Ini

Palantir berdiri sebagai simbol zaman: saat kekuasaan tak hanya dipegang oleh negara.

Mata Digital Abad Ini. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Mata Digital Abad Ini. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Namanya diambil dari dunia fiksi, tapi dampaknya terasa sangat nyata. Palantir, sebuah kata yang dipinjam dari batu pengintai dalam kisah The Lord of the Rings, alat milik Sauron untuk melihat jauh dan mengawasi siapa saja.

Baca Juga

Ia metafora yang terlalu jujur untuk nama sebuah perusahaan. Tampaknya sejak awal ia memang tidak berniat menyembunyikan ambisinya: melihat segalanya, sebagaimana Anda menyaksikannya digugunakan Sauron.

Perusahaan ini lahir tahun 2003, didirikan oleh Peter Thiel —otak di balik PayPal— bersama Alex Karp, Joe Lonsdale, Stephen Cohen, dan Nathan Gettings. Nama “Pal” di Palantir bukan sekadar kebetulan linguistik. Ia adalah jejak genetik.

PayPal adalah sekolahnya, tempat mereka belajar satu hal penting: data bisa mengungkap pola tersembunyi. Di PayPal, pola itu digunakan untuk mendeteksi penipuan. Di Palantir, pola itu ditingkatkan skalanya — dari penipu menjadi teroris, dari transaksi mencurigakan menjadi target militer.

Jika PayPal membantu Anda mengirim uang dengan aman, Palantir membantu negara menentukan siapa yang harus diawasi, ditangkap, atau dalam beberapa kasus ekstrem — diserang.

Cara kerjanya tidak sesederhana “mengintai”. Ia lebih mirip mesin penggabung realitas. Platform seperti Gotham mengumpulkan potongan-potongan data dari berbagai sumber: intelijen manusia dari agen lapangan, sinyal komunikasi yang disadap, citra satelit, rekaman CCTV, data imigrasi, transaksi finansial, bahkan jejak digital di media sosial.

Semua potongan itu, yang tadinya tercerai-berai di berbagai lembaga —CIA, NSA, FBI, militer— dikumpulkan, disatukan, lalu dirajut menjadi satu narasi utuh. Seorang manusia tidak lagi dilihat sebagai individu, tetapi sebagai jaringan relasi: siapa temannya, ke mana ia pergi, apa kebiasaannya, siapa yang sering ia hubungi.

Di titik itu, mesin Palantir mulai “berpikir”. Ia mencari pola. Ia mendeteksi anomali. Ia menyusun kemungkinan. Dari sekadar mengetahui, sistem ini beralih menjadi memprediksi. Dari memprediksi, ia memberi rekomendasi. Dan di ujung rantai itu, manusia bersenjata mengambil keputusan.

Dalam operasi militer modern, proses ini dikenal sebagai kill chain — rantai pembunuhan. Dulu, rantai ini lambat, bergantung pada laporan manual dan intuisi. Kini, dengan perangkat seperti Palantir, rantai itu dipercepat, dipadatkan, dan — ironisnya — dipoles menjadi lebih “rasional”.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk membandingkan. Dalam khazanah kita, ada kisah tentang seorang nabi yang juga diberi “mata” — bukan mata biasa, tetapi kemampuan melihat yang melampaui batas manusia. Ia adalah Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

Namun “mata” Sulaiman bukanlah hasil rekayasa algoritma. Ia adalah anugerah Ilahi. Ia tidak digunakan untuk mengontrol, tetapi untuk menegakkan keadilan.

Ketika burung Hudhud membawa informasi tentang sebuah kerajaan, itu bukan sekadar intelijen, tetapi bagian dari hikmah dan amanah. Informasi tidak berdiri sendiri; ia terikat pada tanggung jawab moral yang langsung kepada Allah SWT.

Bandingkan dengan “mata” modern bernama Palantir. Ia mengumpulkan segalanya, tapi tidak memiliki wahyu. Ia memprediksi segalanya, tapi tidak memiliki hikmah. Ia merekomendasikan tindakan, tapi tidak memikul tanggung jawab moral di hadapan Yang Maha Mengetahui.

Di sinilah perbedaan itu menjadi sangat tajam: antara penglihatan yang diberi untuk membimbing, dan penglihatan yang dibangun untuk menguasai.

Dalam konteks konflik seperti ketegangan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sistem semacam ini memainkan peran yang tidak selalu terlihat di layar televisi. Ketika sebuah serangan presisi terjadi, sering kali di belakangnya ada analitik data yang menyaring ribuan kemungkinan target menjadi satu titik koordinat.

Dalam operasi Israel di Gaza, penggunaan sistem berbasis data untuk identifikasi target telah menjadi bagian dari strategi militer modern. Amerika Serikat sendiri mengakui penggunaan perangkat lunak analitik untuk mendukung penentuan target dalam operasi luar negeri.

Namun Palantir tidak berhenti di medan perang. Ia juga masuk ke ruang kota. Di tangan aparat penegak hukum, sistem ini digunakan untuk predictive policing — memprediksi kejahatan sebelum terjadi.

Di Los Angeles, data warga — alamat, hubungan sosial, aktivitas digital — dikumpulkan untuk memetakan siapa yang berpotensi menjadi pelaku atau korban. Sebuah kota berubah menjadi papan catur, dan warganya menjadi bidak yang dianalisis.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement