Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jakarta memang kota yang unik. Bahkan urusan sampah pun harus dibuka dengan panggung musik. Di kawasan Rasuna Said, saat pemerintah mencanangkan warga wajib memilah sampah mulai 10 Mei 2026, suasana dibuat meriah.
Musik berdentum, pengeras suara menggelegar, pejabat tersenyum, kamera berkelip seperti konser penyambutan artis Korea. Entah kenapa, di negeri ini, hampir semua kebijakan harus ditemani hiburan. Mungkin karena tanpa musik, rakyat keburu pingsan duluan mendengar kata “wajib”.
Padahal yang diumumkan bukan lomba karaoke RT, melainkan instruksi serius: warga Jakarta wajib memilah sampah dari rumah. Ya, "wajib", begitulah peraturan yang barusan diteken Gubernur Pramono Anung. Seolah sampah sudah menjadi agama baru.
Sampah wajib dipisah. Organik dipisah, anorganik dipisah. Wajib. Kalau tidak, siap-siap kena sanksi. Negara akhirnya sadar bahwa sampah tidak bisa terus diperlakukan seperti dosa masa lalu: dibuang, ditutup tanah, lalu pura-pura lupa.
Masalahnya memang sudah sampai stadium akhir. Jakarta setiap hari memproduksi delapan ribu ton sampah. Gunung sampah di Bantargebang sudah seperti monumen modern peradaban urban: tinggi, menggunung, berasap, dan terus tumbuh seperti ambisi politik menjelang pemilu.
Tinggi sampah sudah seperti gedung 12 tingkat, mengalahkan semua tinggi bangunan di sekitarnya. Kalau dibiarkan terus, mungkin suatu hari orang bisa mendaki Bantargebang sambil pasang tenda dan membuat konten “healing di atas bukit sampah”.
Karena itu pemerintah mulai memaksa warga memilah sampah dari sumbernya. Maksudnya, dari dapur, dari meja makan.
Dan sebenarnya, ide ini bukan barang baru. Negara-negara lain sudah melakukannya sejak lama. Di Jepang, orang bisa dimarahi tetangga hanya karena salah membuang botol plastik.
Di Jerman, tempat sampah lebih banyak jenisnya daripada partai politik. Sementara di kita, selama ini, semua masuk satu kantong: sisa nasi, popok bayi, kabel rusak, sampai undangan nikahan mantan.
Namun menariknya, ketika aturan ini diumumkan, banyak warga langsung mengeluh. “Repot.” “Ribet.” “Enggak ada untungnya.” Kalimat yang terdengar sangat Indonesia sekali.
Kita ini memang bangsa yang ingin lingkungan bersih, tapi tidak mau repot memegang sapu. Ingin sungai jernih, tapi bungkus gorengan tetap dilempar ke sana dari atas motor.
Bahkan kadang ada orang yang habis ikut seminar lingkungan, pulangnya meninggalkan gelas plastik di kursi seminar. Kesadaran ekologis kita sering berhenti di spanduk acara.
Tetapi pengalaman di Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, memberi pelajaran penting. Di sana warga mulai belajar memilah sampah rumah tangga. Awalnya juga sama: malas, bingung, merasa tidak ada manfaat langsung.
Sebab manusia modern memang aneh. Kalau disuruh memilah sampah demi bumi, dia malas. Tapi kalau disuruh antre tiga jam demi diskon kopi susu gula aren, dia sanggup sambil selfie.
Di Rorotan, praktiknya dibuat sesederhana mungkin agar warga tidak merasa sedang ikut ujian doktoral persampahan. Tak usah dipilah jadi lima dulu, agar rakyat tak terbebani. Sampah rumah tangga cukup dipisah dua: organik dan anorganik.
Sisa nasi, sayur, daun, kulit buah, dan limbah dapur dimasukkan ke ember khusus organik. Plastik, botol, kardus, dan kemasan dimasukkan ke wadah anorganik. Kebiasaan ini yang diistiqamahkan, agar nanti jadi tradisi.
Semua coba hendak digerakkan. Dari rumah-rumah warga, kader lingkungan, pengurus RW, PKK, hingga dasawisma diharap dan diminta rutin mengingatkan warga sambil memeriksa apakah pemilahan sudah dilakukan. Itu maunya gubernur.
Sampah organik kemudian juga maunya diangkut beberapa kali dalam sepekan menuju TPS 3R untuk diolah menjadi kompos atau bahan pengurai. Daun-daun kering diproses dengan mesin komposter di RPTRA. Sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk dipilah lagi, sebagian masuk bank sampah, sebagian dijual ke pengepul daur ulang.
Jadi, warga tidak diminta mendadak menjadi ilmuwan lingkungan. Mereka hanya diminta berhenti mencampur kulit pisang dengan botol air mineral dalam satu kantong yang nasib akhirnya sama-sama dibuang ke gunung sampah.