
Oleh: Dr. Novendra Hidayat, M.Si*
REPUBLIKA.CO.ID, Hari Pendidikan Nasional selalu menghadirkan ruang refleksi bagi bangsa Indonesia. Setiap 2 Mei, kita mengenang Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang meletakkan pendidikan sebagai jalan memerdekakan manusia. Namun, dalam situasi pendidikan hari ini, Hardiknas tidak cukup hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan. Ia perlu menjadi momentum untuk menata kembali arah kebijakan pendidikan nasional secara lebih terintegrasi dan berkeadilan.
Pendidikan Indonesia sedang berada dalam fase yang kompleks. Di satu sisi, terdapat berbagai capaian yang patut diapresiasi. Pemerintah terus memperkuat anggaran pendidikan, memperluas bantuan pendidikan, mendorong sertifikasi guru, serta menata kembali ekosistem pendidikan tinggi. Di sisi lain, persoalan lama belum sepenuhnya selesai: ketimpangan mutu antarwilayah, kesejahteraan guru dan dosen, beban administratif pendidik, biaya pendidikan tinggi, kesenjangan digital, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Karena itu, refleksi Hardiknas perlu ditempatkan secara proporsional. Kritik terhadap pendidikan tidak seharusnya berhenti pada keluhan, tetapi harus diarahkan menjadi agenda pembenahan. Sebaliknya, apresiasi terhadap kebijakan pemerintah juga tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap persoalan mendasar yang masih dirasakan sekolah, kampus, guru, dosen, mahasiswa, dan keluarga peserta didik.
Gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang menuntun manusia sesuai kodratnya tentu masih sangat relevan untuk membaca persoalan pendidikan hari ini. Dalam refleksi Panca Dharma Taman Siswa, nilai kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan dapat dibaca sebagai kompas moral untuk memastikan bahwa pendidikan tidak tercerabut dari realitas sosial masyarakat. Pendidikan tidak boleh sekadar menghasilkan angka kelulusan, ijazah, dan tenaga kerja, tetapi harus membentuk manusia yang merdeka, berakar, dan bertanggung jawab.
Masalahnya, kebijakan pendidikan kita sering kali berjalan dalam banyak jalur, tetapi belum selalu terhubung sebagai satu ekosistem. Pendidikan dasar dan menengah berbicara tentang literasi, numerasi, karakter, dan kualitas pembelajaran. Pendidikan tinggi berbicara tentang riset, inovasi, akreditasi, internasionalisasi, UKT, dan relevansi lulusan. Sementara itu, guru dan dosen sebagai aktor utama justru masih menghadapi persoalan kesejahteraan, karier, beban kerja, dan penghargaan profesi.