Senin 04 May 2026 09:53 WIB
Catatan Cak AT

Perang Slopaganda

Slopaganda bukan sekadar alat propaganda; ia adalah ekosistem kebingungan.

Perang Slopaganda. (ilustrasi)
Foto: Ahmadie Thaha
Perang Slopaganda. (ilustrasi)

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia mendadak gaduh oleh sesuatu yang tampak remeh, tetapi efeknya seperti rayap yang menggerogoti fondasi rumah diam-diam.

Baca Juga

Sebuah artikel di Le Monde baru-baru ini — ditulis William Audureau dan Martin Untersinger — mengakui dengan nada setengah kagum bahwa Iran sedang memainkan permainan yang tidak lagi konvensional: bukan tank, bukan misil, melainkan video Lego.

Ya, Lego. Mainan anak-anak yang dulu kita injak dan sumpahi karena sakitnya minta ampun, kini berubah menjadi peluru propaganda digital yang menembus algoritma Barat.

Sejak konflik memanas akhir Februari 2026, jaringan pro-Teheran membanjiri media sosial dengan video animasi berbasis kecerdasan buatan. Mereka pun memenangkan perang.

Donald Trump digambarkan merangkak seperti anjing, ditarik tali oleh Benjamin Netanyahu. Kadang ia mengenakan jas penuh kotoran — simbolisme yang kasar, bahkan menjijikkan, tetapi justru efektif.

Bahkan ritmenya pun tidak memberi ruang bernapas. Setidaknya satu video baru muncul setiap hari sejak konflik pecah pada 28 Februari. Derasnya arus ini bukan kebetulan, melainkan strategi.

Dalam paruh kedua bulan Maret saja, video-video pro-rezim itu mengumpulkan lebih dari 145 juta tayangan di X, Facebook, Instagram, dan TikTok — sebagaimana dicatat firma keamanan siber Israel, Cyabra.

Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah bukti bahwa propaganda hari ini tidak lagi mengetuk pintu, melainkan langsung membanjiri rumah tanpa izin.

Dalam hitungan minggu, konten semacam ini meraup ratusan juta penayangan. Bukan karena orang percaya, melainkan karena orang terpikat.

Dan di situlah medan perang yang sebenarnya: bukan pada apa yang dipercaya, tetapi pada apa yang menarik dan memikat perhatian.

Kita sedang menyaksikan babak baru propaganda: bukan lagi persuasi rasional, tetapi eksploitasi emosi mentah. Dunia tidak lagi diajak berpikir — cukup dibuat tertawa, jijik, atau marah. Dan ketika perhatian sudah dikuasai, kebenaran tinggal soal nomor urut, bukan prioritas.

Di sinilah istilah baru itu lahir: "slopaganda". Sebuah kata yang terdengar seperti makanan basi yang tercecer di meja dapur, dan memang begitulah hakikatnya.

Istilah slopaganda merupakan gabungan dari kata “slop” yang berarti konten murahan, berantakan, dan diproduksi massal, dengan kata “propaganda.” Ini dibuat sebagai upaya mempengaruhi opini publik.

Slopaganda merujuk pada praktik penyebaran konten berbasis kecerdasan buatan yang tidak lagi berorientasi pada kebenaran, melainkan pada banjir informasi yang memancing emosi, mengganggu perhatian, dan pada akhirnya merusak kemampuan publik untuk membedakan mana fakta dan mana ilusi.

Dalam sebuah makalah tahun 2025 di Filisofiska Notiser, istilah ini didefinisikan sebagai “sampah digital berbasis AI yang digunakan untuk tujuan propaganda.”

Jika propaganda klasik berusaha meyakinkan, maka slopaganda tidak peduli pada keyakinan. Ia hanya ingin mengotori ruang informasi.

Bayangkan sebuah sungai jernih yang tiba-tiba dibanjiri lumpur. Anda tidak perlu meminum lumpur itu untuk terkena dampaknya. Cukup dengan membuat air menjadi keruh, maka semua orang akan ragu: mana yang layak diminum, mana yang racun.

Itulah strategi slopaganda — bukan membangun kebenaran versi sendiri, tetapi menghancurkan kemungkinan adanya kebenaran bersama.

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement