Ahad 03 May 2026 12:40 WIB

Modalitas Guru

Seorang guru hendaknya melibatkan Allah SWT dalam mendidik siswa.

Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas SDN Jayamukti, Kampung Tanglar, Desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Sebanyak 75 siswa kelas 1 hingga 4 di sekolah tersebut belajar di ruang kelas yang rusak, serta siswa kelas 1 dan 2 digabung dalam satu ruangan, sementara pihak sekolah telah mengajukan usulan perbaikan kepada pemerintah setempat.
Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar di ruang kelas SDN Jayamukti, Kampung Tanglar, Desa Sindangasih, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). Sebanyak 75 siswa kelas 1 hingga 4 di sekolah tersebut belajar di ruang kelas yang rusak, serta siswa kelas 1 dan 2 digabung dalam satu ruangan, sementara pihak sekolah telah mengajukan usulan perbaikan kepada pemerintah setempat.

Oleh: Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuingan, Jawa Barat

REPUBLIKA.CO.ID; Bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), tepatnya tanggal 2 Mei. Peringatan Hardiknas ini menegaskan, salah satunya tentang peran penting guru dalam pembangunan bangsa.

Bangsa Jepang yang --kala itu-- luluh lantah setelah dibomnya Kota Hiroshima dan Nagasaki, kini menjadi negara maju setelah memberikan perhatian terhadap guru. Maka, pada peringatan kali ini penulis membahasan modalitas guru. Jika guru tanpa modal, pendidikan bisa gagal total. 

Baca Juga

Guru tidak sekadar melakukan transformasi ilmu kepada siswa. Sebagai arsitek peradaban, di tangan guru (atas izin Allah) masa depan siswa. Perlu disadari bahwa gelar yang disandang oleh guru bukan jaminan keberhasilan dalam pendidikan. Mungkin saja gelar itu malah menjadi bumerang menuju kegagalan jika seorang guru abai dengan pengembangan diri. 

Sebagai manusia, guru hanya mampu berusaha. Selebihnya, hasil akhir dari proses usaha dalam pendidikan bergantung kepada-Nya. Sikap yang terlalu yakin dengan kemampuan diri hingga mengabaikan-Nya akan membuat kehilangan kekuatan jiwa.

photo
Sejumlah anggota Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Indonesia menggelar unjuk rasa saat Apel Akbar Guru Honorer di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Mereka menuntut pengangkatan 2.900 guru madrasah se-Kota Tasikmalaya dari jenjang RA hingga aliyah menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), di tengah kebijakan pengangkatan langsung pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Dia-lah pengendali hati, membolak balikkan hati manusia, maka mudah bagi-Nya menjadikan siswa berhasil dalam belajar. Karena itu guru harus selalu dekat dengan Sang Pemilik hati (Allah SWT). 

Ilmu yang dimiliki guru sebagai pedoman, sarana dan prasarana pendidikan sebagai media, berhasil dan tidaknya proses pendidikan harus diserahkan kepada-Nya. Karenanya, seorang guru hendaknya melibatkan Allah dalam mendidik siswa. 

Tanggung jawab guru tidak sebatas di dunia, tetapi juga di akhirat. Karena itu, guru harus senantiasa mendoakan untuk kesuksesan, kecerdasan, dan kesalehan anak didik pada setiap waktu, terutama di sepertiga malam (Tahajud).

Oleh karena itu, wahai para guru yang mulia, sudahkah engkau mengerahkan segala usaha yang diiringi dengan doa kepada Ilahi untuk kesuksesan anak didik (di dunia dan di akhirat)?

Akhlak mulia menjadi modal utama dalam pendidikan. Hal itu pula yang menjadi keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dalam hadis riwayat Muslim dan Ahmad disebutkan, bahwa Nabi SAW berkepribadian Alquran.

Hal itu menegaskan bahwa Nabi SAW adalah teladan mulia dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Nabi SAW diutus sebagai guru (HR Muslim). Berikut modalitas yang dimiliki Nabi SAW dalam mendidik sahabat (muridnya).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

 

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement