
Oleh Ahmadie Thaha, Kolomnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertemuan Amerika Serikat-Iran di Islamabad, Pakistan, yang sejak awal dipoles seperti etalase harapan, akhirnya pecah seperti gelas tipis jatuh dari meja diplomasi. Gagal total.
Yang pertama kali meniup peluit kegagalan adalah Washington. Donald Trump —dengan gaya khasnya yang lebih dekat sebagai hakim ketimbang diplomat— menyimpulkan satu hal yang ia anggap paling esensial: Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya.
Satu kalimat demikian terdengar sederhana, tetapi membawa implikasi yang lebih berat dari kapal induk dengan pasukan yang kini diarahkan ke Teluk, lengkap dengan ancaman menyerbu Iran, blokade Selat Hormuz, dan ketakutan yang diumbar.
Padahal, kalau kita mau jujur sedikit saja, dua puluh satu jam pertemuan maraton di Islamabad jelas tidak cukup untuk mengakhiri empat puluh tujuh tahun permusuhan Amerika terhadap Iran.
Ini bukan rapat RT yang bisa selesai sebelum azan Maghrib. Ini akumulasi sejarah panjang yang penuh luka, sanksi, sabotase, dan saling tuduh yang diwariskan lintas generasi.
Maka, menyebut perundingan maraton ini sebagai “gagal” sebenarnya terlalu sederhana, bahkan cenderung menipu kenyataan.
Menyebutnya gagal seolah kita lupa bahwa tantangannya memang hampir mustahil sejak awal: mempersempit jurang pada isu kompleks, dari kecurigaan lama soal program nuklir Iran hingga persoalan baru akibat perang, terutama kendali Iran atas Selat Hormuz yang kini mengguncang ekonomi dunia.
Sejak awal, pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Islamabad, di tengah jeda perang yang baru saja menyisakan luka, memang hampir mustahil berakhir dengan kesepakatan manis. Ini bukan soal siapa pintar bicara, tetapi siapa berani menurunkan ego.
Di sinilah diplomasi berubah menjadi teater kecurigaan. Ketika sejak awal masing-masing pihak membawa prasangka sebagai fondasi, maka setiap gestur lawan dibaca sebagai potensi ancaman, bukan peluang kesepahaman.
Bahkan, kekurangan bisa dicari-cari, atau lebih buruk, direkayasa untuk memperkuat narasi bahwa “mereka memang tidak bisa dipercaya.” Diplomasi semacam ini bukan lagi seni negosiasi, melainkan strategi pembenaran.
Trump bahkan mereduksi kompleksitas negosiasi menjadi satu titik tunggal: uranium. Baginya, semua jalan diplomasi harus bermuara pada satu kesepakatan absolut — Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Titik. Tidak ada koma, apalagi paragraf.
Wakilnya, JD Vance, bahkan merumuskan “tujuan inti” itu secara terang. Amerika membutuhkan komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengejar peluang punya senjata nuklir, bahkan tidak akan mencari alat untuk mencapainya dengan cepat.
Namun pihak Tehran membaca pedoman yang berbeda. Bagi Iran, program nuklir yang dimilikinya bukanlah proyek militer, melainkan simbol kedaulatan energi dan martabat nasional.
Mereka bersikeras bahwa hak atas energi nuklir untuk tujuan damai adalah hak yang tidak bisa dinegosiasikan. Dan memang begitulah, setiap negara memegang keyakinannya sendiri tentang apa yang dianggap sebagai hak asasi.
Bahkan sebelumnya, Iran sempat menawarkan konsesi. Mereka siap mengencerkan stok uranium 60% yang mencapai ratusan kilogram — level yang sudah sangat dekat dengan bahan senjata.
Tetapi jelas, pihak Iran tetap menolak menyerah untuk punya hak pengayaan itu sendiri, dan bahkan tidak bersedia sepenuhnya melepaskan stok uranium yang dimilikinya.
Di sinilah jurang itu tampak jelas. Untuk mencapai kesepakatan, mereka bukan hanya harus membahas teknis nuklir, tetapi juga harus melompati jurang ketidakpercayaan yang sudah menganga selama puluhan tahun. Dan jurang itu bukan sekadar retakan. Ia sudah seperti Grand Canyon versi geopolitik.
Ironinya, sehari sebelum pertemuan, bahkan belum pasti kedua pihak akan bertemu, apalagi duduk di ruangan yang sama. Dan ketika akhirnya mereka benar-benar duduk di sebuah hotel mewah yang dijaga ketat di Islamabad, dunia berharap sesuatu yang hampir mustahil: dua musuh lama tiba-tiba saling percaya.
Kita pun sebenarnya tidak tahu persis apa yang terjadi di balik pintu-pintu tertutup itu.